oleh

Kampung Mendawai Kini Jadi Kampung Wisata Caping Pontianak

Pontianak, Media Kalbar

Kampung Mendawai Pontianak Tenggara  merupakan daerah  pinggiran Sungai.Sejak dahulu hingga kini  terkenal dengan penghasil caping atau di sebut dengan topi atau tudong kepala.Ada sekitar 42 pengrajin yang masih aktif.Caping-caping tersebut  oleh warga di pasarkan atau di jual  ke tokoh-tokoh di kota Pontianak.Melirik hal itu Arno selaku Lurah Bansir  Laut  berkolaborasi bersama  Komunitas Akademi Ide Kalimantan (Aikal)  melibatkan warga masyarakat  menjadikan  Kampung  Mendawai  itu menjadi Kampung Wisata Caping Pontianak.Kampung tersebut di tata sedemikian rupa sehingga menjadikan tempat wisata yang  bersih dan nyaman.

Ketua Komunitas  Akademi Ide Kalimantan Beny Than Heri,S.Hut mengatakan,Kawasan Kampung Mendawai  terletak di Rw 3 Kelurahan Bansir Laut Kecamatan Pontianak Tenggara  di kenal dengan sebutan Kampung  wisata caping .Karena  warga  turun temurung  membuat kerajinan caping  yaitu  disebut dengan topi atau  tudong kepala.Melihat  potensi itu kami dari  Aikal  mencoba melakukan  pendataan di ketahui  ada 42 pengrajin yang masih aktif  membuat caping.Kemudian kami berkolaborasi bersama Lurah Bansir Laut  Arno dan juga  melibatkan  masyarakat  kampung Mendawai  di jadikan  Kampung Wisata Caping Pontianak. Proses ini kita  mulai sejak  2018 bersama Lurah Bansir Laut.Sempat terhenti di karenakan adanya kesibukan.Pada Juli 2019   kita lanjutkan kembali  hingga sekarang ini.Aksi  Mural,pengecatan,pembuatan taman gertak,aksi kebersihan dan  yang lainnya  kita lakukan  dengan tujuan agar kawasan Mendawai ini semakin cantik.”ujar Beny  saat kesibukannya membuat mural di Kampung Wisata Caping  Pontianak,Selasa 24-3-2020.

Dia mengatakan, kita juga  disini punya  paket  wisata  saprahan Melayu,paket wisata Menkano  dan susur sungai Kapuas.Adanya paket-paket  wisata  tentu   secara  otomatis akan membantu perekonomian masyarakat.Seperti hasil dari  kerajinan caping   tersebut  tidak saja  di jual ke pasar  akan tetapi  akan menjadi  sebuah  oleh-oleh atau cindramata bagi wisatawan yang datang. Selain membuat caping berbentuk topi,warga juga membuat caping ukuran mini  untuk hiasan dinding  berbahan sisa-sisa caping besar.Setiap pengrajin menghasilkan caping beragam ada 5 Kodi,ada 10 kodi dan ada juga 7 Kodi dalam perbulannya.Nah  dalam 1 Kodi berisikan   20 caping. Dengan adanya  program kampung kreatif  Mendawai ini  menjadi kampung wisata tidak saja caping itu di jual dalam  bentuk  topi tapi ada juga berbentuk hiasan  dan lain-lainnya.”tuturnya

Beny mengungkapkan,Rumah Kreatif  ini kita jadikan tempat  sanggar seni  dan tempat menerima tamu.Kemudian ada rumah Maggot yaitu tempat pengelolaan sampah atau Bank sampah. Kita bersama  masyarakat   untuk memilah  sampah  organik  sisa makanan di olah menjadi pakan ternak .”katanya

Ditempat yang sama Lurah Bansir Laut Arno  sangat apresiasi  terhadap warga Kampung Mendawai  RW 3 karena telah berbuat  sesuai apa yang di inginkan oleh pemerintah kota Pontianak.Bahwa kota Pontianak itu harus  indah dan bersih  selain itu juga Kampung Mendawai ini  menjadi daerah Destinasiwisata untuk di kota Pontianak.”ujarnya

Dijelaskan oleh Arno dengan  kolaborasi  yang kami lakukan dimana dari Komunitas  Akademi Ide Kalimantan ( Aikal) yang di pelopori oleh  Beny Than Heri sehingga kesadaran masyarakat cukup baik.Dimana dahulunya masyarakat sering membuang sampah di sungai   kini tidak lagi seperti itu.Dan mereka sudah bisa memilah sampah-sampah tersebut mana yang bermanfaat dan mana yang tidak.Dan dulunya masyarakat disini Mendawai pengrajin caping  yang di pasarkan  selain ke toko-toko justru barang tersebut menjadi oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Wisata Mendawai ini.”sebutnya

Dikatakannya pula beberapa waktu lalu   adanya program pertukaran pelajar   ada  dari Nyanmar,Malaysia,Jepang,Pietnam dan Mesir mereka  telah berkunjung ke tempat wisata Mendawai ini.Mereka sangat terkesan.Karena  masyarakat begitu antusias untuk membangun tempat wisata dan  sadar akan  kebersihan.Ipal  juga sudah terpasang sebanyak 17 titik.Dan untuk setiap titik itu ada 5 buah rumah.”katanya

Arno  berharap kepada   masyarakat  di sekitar  Mendawai agar selalu  menjaga sehingga keaslian dan kebersihannya dapat terlihat  dan menjadi sebagai contoh  bagi masyarakat lain.Sampah itu bukanlah musuh akan tetapi sampah itu adalah sebagai teman kita yang setiap saat memberikan nilai tambah bagi kita semua.”ungkapnya mengakhiri  (Sur)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed