by

40 Tahun Jadi Muazin Akhirnya Dapat Hadiah Umrah Gratis

Pontianak, Media Kalbar

Subuh itu dingin sampai ke tulang. Hujan turun tanpa kompromi, mengguyur atap-atap rumah dan halaman Masjid At-Taqwa Siantan, Pontianak, seolah ingin memastikan siapa yang benar-benar setia. Langit masih gelap pekat, gelap yang membuat dunia seperti lupa bernapas. Lampu masjid berpendar lemah, bergetar diterpa angin. Jalanan lengang, basah, sunyi. Pada jam seperti itu, manusia biasanya bernegosiasi dengan iman, lima menit lagi, satu alasan lagi. Tapi tidak dengan Abdul Latif Usman.

Dengan tubuh renta dan langkah pelan, ia keluar rumah. Jaket tipis menempel di badan, dingin merayap sampai ke sendi. Hujan membasahi wajahnya, tapi ia terus melangkah. Empat puluh tahun sudah ia menjalani ritual sunyi ini. Dari muda hingga rambutnya memutih, dari zaman rezim berganti-ganti sampai dunia sibuk oleh urusan sendiri, ia tetap berjalan ke masjid sebelum subuh, memanggil manusia menuju Tuhan. Tangannya yang berkeriput membuka pintu masjid yang berderit lirih, seolah ikut menahan beban usia. Di dalam, masjid kosong, dingin, dan hening.

Ia menarik napas panjang, berat, lalu memejamkan mata. Hujan memukul atap, angin menyelinap lewat celah jendela. Di tengah gelap, dingin, dan sepi itu, azan pecah. “Allahu Akbar…” Suaranya tak lagi gagah, tapi justru itulah keindahannya. Setiap kalimat terdengar seperti doa yang diperas dari sisa tenaga dan sisa umur. Azan itu melawan hujan, menantang sunyi, dan berdiri tegak di hadapan langit. Ada atau tidak jamaah yang datang, panggilan itu tetap harus disampaikan. Karena azan bukan soal jumlah orang, tapi soal kesetiaan memanggil Tuhan.

Empat puluh tahun Abdul Latif menjaga denyut itu. Tak hanya subuh, juga magrib, isya, zuhur, dan asar. Ia bukan siapa-siapa. Bukan tokoh, bukan pejabat. Ia hanya muazin. Namun tanpa muazin, masjid hanyalah bangunan. Azan adalah identitas umat Islam, penanda bahwa iman masih hidup. Ironisnya, di zaman ini, muazin sering dipandang remeh. Tak digaji, jarang disebut. Tapi Abdul Latif tak pernah mengeluh. Ia mengumandangkan azan karena cinta dan keyakinan, bukan karena pujian.

Lalu, di usia senja itu, Allah menjawab kesetiaannya dengan cara yang membuat hati siapa pun runtuh. Direktur Muzdalifah Tour & Travel, H Ahmad Kholil, menghadiahkan umrah gratis untuk Abdul Latif. Jika tak ada aral, Agustus mendatang ia akan menginjak tanah suci Mekah. Tanah yang selama ini hanya ia sapa lewat doa dan zikir. H Ahmad Kholil berkata dengan rendah hati, beliau layak mendapatkannya. Menjaga masjid adalah barokah. Ini dari Allah, saya hanya perantara. Ia juga menghadiahi umrah gratis kepada qori-qoriah, penghafal Alqurn, guru ngaji, dan siapa pun yang berdedikasi dalam syiar Islam.

Saat hadiah itu diserahkan secara simbolis, Abdul Latif terdiam. Tangannya gemetar, dadanya naik turun tak beraturan. Lalu tangis itu pecah. Tangis panjang, dalam, yang seperti ditahan puluhan tahun. Air matanya jatuh deras, membasahi wajah renta yang lebih sering diguyur hujan subuh daripada bahagia. Bahunya bergetar, tubuhnya membungkuk, seolah beban hidupnya runtuh sekaligus. Di sela isak, ucapan terima kasih keluar terpatah-patah. Tapi semua orang tahu, itu bukan hanya untuk manusia. Itu tangis seorang hamba yang merasa doanya didengar Tuhan.

Di tempat lain, H Ahmad Kholil juga menghadiahi umrah gratis kepada seorang pemuda dari Pondok Pesantren Darul Hidayah Rasau Haya, juara satu lomba 1002 bait Nadzon. Pemuda itu adalah Alfiah Ibnu Malik. Pemuda itu bekerja di pondok, menghafal bait demi bait di sela lelah, bahkan saat santri lain terlelap. Di zaman serba instan, kesetiaan seperti itu langka. , a pun dipanggil menuju tanah suci.

Kisah ini pilu karena jujur. Tuhan masih memuliakan mereka yang setia di jalan sunyi. Muazin tua, pemuda penghafal nadzon, nama mereka mungkin tak dikenal dunia, tapi langit hafal betul suara dan air mata mereka. Kita, yang membaca kisah ini, barangkali perlu berhenti sejenak, membiarkan dada sesak, lalu bertanya pelan, jika suatu hari azan benar-benar lenyap, apakah kita baru sadar betapa berharganya mereka yang selama ini menjaganya?

(Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed