by

Dua Hari Merah, Lima Pejabat Tumbang

Oleh: Rosadi Jamani

Para pengopi di warkop ngomong Bursa Efek Indonesia, nyambung ndak ya? Ah, jangan remehkan para penikmat cairan hitam tanpa gula. Dengan otak encer dan waras mencoba membedah BEI yang anjlok sampai lima pejabatnnya tumbang. Nikmati narasinya, wak!

Rabu 28 Januari dan Kamis 29 Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan ambrol kumulatif sekitar 7–8 persen. Dua hari berturut-turut. Sempat trading halt. Bursa panik, tombol darurat dipencet, dan triliunan rupiah kapitalisasi pasar menguap lebih cepat dari es batu di gelas kopi panas. Investor ritel teriak-teriak kayak figuran film horor kelas F, sementara investor asing cabut teratur, rapi, disiplin, macam rombongan haji palsu ketahuan petugas.

Di meja kopi langsung lahir teori tingkat tinggi. Penyebabnya disebut satu paket: MSCI, Goldman Sachs, UBS. Lembaga indeks global ini kompak nurunin kelas saham Indonesia. Alasannya klasik tapi mematikan. Transparansi kepemilikan saham di BEI dianggap buram. MSCI sudah nanya berbulan-bulan, BEI dianggap gagal kasih data memadai. Bahkan, sekadar menjawab dengan niat. Di warung kopi, analoginya kejam. “Kau mau nikah, ditanya wali, kau malah sibuk milih katering.” Wajar kalau akad batal. Begitu downgrade turun, dana asing langsung outflow miliaran dolar, rupiah limbung, pasar lokal terkapar. Kapitalisme ala warkop pun keluar. Kita ini bukan pasar, tapi kost-kostan yang sewanya ditentukan pemilik global.

Lalu drama sinetron dimulai. Jumat pagi, 30 Januari 2026, Dirut BEI Iman Rachman muncul, bicara tanggung jawab, lalu mundur. Di warung kopi, ada yang angkat alis, ada yang tepuk meja. OJK buru-buru bilang semua stabil, aman, tak ada risiko sistemik. Tapi belum sempat kopi diaduk tiga kali, kabar lanjutan muncul. Mahendra Siregar, Mirza Adityaswara, Inarno Djajadi, sampai I.B. Aditya Jayaantara ikut mundur. Alasannya sama-sama mulia, tanggung jawab moral demi pemulihan pasar. Di warkop, ini diterjemahkan sederhana, “Kapal miring, awak lompat duluan, penumpang disuruh doa.”

Anehnya, pasar malah senyum. Hari itu IHSG naik sekitar 0,9–1 persen. Asing masih jualan, tapi grafik hijau tipis muncul. Di warung kopi langsung lahir teori konspirasi baru. “Pasar itu romantis, wak. Kalau lihat orang berkorban, dia terharu.” Bahkan ada yang nyeletuk, ini kayak berita selebritas yang tiba-tiba bikin suasana adem di tengah kekacauan ekonomi, publik disuguhi kabar manis bahwa aktris Ranty Maria dan aktor Rayn Wijaya resmi memulai babak baru sebagai pasangan suami istri. Di warkop, logikanya absurd tapi diterima. IHSG merah, artis menikah, rakyat dihibur. Drama nasional selalu butuh selingan asmara.

Belum selesai, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampil frontal. Menyalahkan Iman Rachman secara terbuka. Mundur itu positif, katanya, tapi karena ada kesalahan fatal, komunikasi dengan MSCI gagal total. Pertanyaan tak dijawab, masukan tak di-follow up. Downgrade pun jatuh dari langit. Purbaya bahkan bilang ini kelalaian fatal, tapi optimis ini saat tepat buat beli. Para penikmat Koptagul bergumam, “Berarti ekonomi kita dikendalikan email. Salah balas, triliunan melayang.”

Soal Presiden Prabowo Subianto, ceritanya lebih sunyi tapi penuh tafsir. Tak banyak komentar publik, tapi instruksi disebut keluar cepat, percepat demutualisasi BEI, naikkan free float minimal 15 persen, kurangi ketergantungan asing, tarik dana pensiun. Istana bersumpah tak ada cawe-cawe. Tapi ingatan publik keras kepala. Orang masih ingat Prabowo pernah menyamakan saham dengan judi, bilang pasar butuh kayu bakar fresh money, bahkan mengaku sendiri kurang paham investasi. Video lama itu viral lagi. Saat IHSG jatuh paling parah sejak 1998, beliau tak hadir di acara BEI. Media internasional seperti Bloomberg ikut menyorot, menyinggung kekhawatiran soal kebijakan populis. Di warkop, kesimpulannya pahit-manis, “Yang ngatur rumah, belum tentu hapal letak saklar.”

Dampaknya dibedah ala ekonom warkop. Jangka pendek, volatilitas brutal, outflow asing miliaran dolar, investor panik seperti ayam kehilangan induk. Jangka menengah, rupiah melemah, impor mahal, inflasi mengintai, bank-bank kena tekanan, Bhima Yudhistira dari CELIOS menyebut ini kabur mengejutkan. Jangka panjang? Ada yang bilang ini momentum reset tata kelola, ada yang bilang ini cuma episode sebelum lupa lagi. OJK bersikukuh tak ada risiko sistemik, tapi di warkop selalu ada kalimat pamungkas, “Katanya.”

Akhirnya, drama BEI ini di mata warung kopi adalah teater absurd kapitalisme. Transparansi diagungkan tapi tercecer di birokrasi. Pejabat mundur beramai-ramai seperti flash sale etika. Presiden memberi arahan dari balik layar, publik ribut soal pemahaman teknis. Di sela grafik merah, rakyat disuguhi kabar cinta selebritas agar hati tak ikut ambruk. Pelajaran warkopnya sederhana, pasar saham itu seperti sinetron panjang, banyak konflik, sedikit kepastian. Kalau pusing, tutup aplikasi trading, pesan kopi, dan ingat, setidaknya pernikahan Ranty Maria dan Rayn Wijaya tidak terkena trading halt. (*)

Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed