by

Dugaan Kapal Tak Layak Picu Polemik: Kades Desak Pemerintah Turun Tangan

Kubu Raya, Media Kalbar

Polemik tarif dan kelayakan motor tambang rute Sungai Kakap–Sepok Laut kembali mencuat. Video keluhan warga yang beredar di grup WhatsApp memicu reaksi keras dari Kepala Desa Sepok Laut, Muhammad Aly.

‎Didampingi Camat Sungai Kakap, Junaidi, S.Sos., Muhammad Aly menyampaikan sikap tegas usai menghadiri Lokakarya Mini Lintas Sektor Triwulan I Tahun 2026 di aula Kantor Camat Sungai Kakap,Rabu (1/4/2026).

‎Ia menegaskan, kenaikan tarif bukan kewenangan pemerintah desa, melainkan ditetapkan oleh pemerintah daerah. Namun, ia menilai persoalan utama justru bukan pada tarif, melainkan keselamatan penumpang yang dinilai belum menjadi prioritas.

‎“Kalau bicara tarif, itu kewenangan pemerintah daerah. Tapi yang lebih penting adalah keselamatan, keamanan, dan kenyamanan penumpang. Itu yang saya minta diperhatikan serius,” tegasnya.

‎Muhammad Aly bahkan menyoroti kondisi fisik dua unit motor tambang yang saat ini beroperasi. Menurutnya, secara kasat mata, armada tersebut diduga sudah tidak layak jalan.

‎“Kalau kita lihat langsung, kondisi fisiknya memprihatinkan. Diduga sudah tidak layak beroperasi. Ini menyangkut keselamatan masyarakat,” ujarnya.

‎Ia juga mempertanyakan aspek perizinan dan jaminan keselamatan, termasuk asuransi bagi penumpang. Untuk itu, ia mendesak instansi terkait segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh.

‎“Saya minta instansi terkait mengkaji ulang semuanya, mulai dari kelayakan Motor air, perizinan, sampai jaminan keselamatan penumpang,” katanya.

‎Keluhan warga, lanjutnya, bukan tanpa alasan. Ia mengaku kerap menerima laporan dari warga kapal mogok di tengah perjalanan, yang berpotensi membahayakan penumpang.

‎“Hampir setiap hari saya dapat laporan,Dari Warga saya ‘pak Kades, kapal mogok lagi’. Ini tidak bisa dibiarkan. Jangan sampai masyarakat saya ditelantarkan di tengah perjalanan,” tegasnya.

‎Di sisi lain, ia memahami bahwa kenaikan tarif dapat menimbulkan beban bagi masyarakat, meski secara aturan hal itu diperbolehkan. Namun ia menekankan, pelayanan harus sebanding dengan biaya yang dikeluarkan warga.

‎Selain itu, Muhammad Aly juga menyampaikan Permintaan kepada Bapak Bupati Kubu Raya untuk segera membangun jembatan di kawasan Selat Cina, Desa Sepok Laut. Ia menilai, ketergantungan pada transportasi air harus segera diakhiri.

‎“Saya hanya minta satu, bangunkan jembatan di Selat Cina. Supaya masyarakat tidak lagi bergantung pada motor air,” ujarnya.

‎Menjelang akhir masa jabatannya sekitar satu setengah tahun ke depan, ia berharap dapat meninggalkan warisan nyata bagi masyarakat.

‎“Saya ingin ada perubahan. Listrik sudah ada 24 jam, Tinggal Jembatan dan ke depan masyarakat tidak lagi bolak-balik naik motor air, tapi sudah lewat Akses jalur darat,” pungkasnya.

‎Sementara itu, Camat Sungai Kakap, Junaidi, S.Sos., mengungkapkan bahwa persoalan tarif sebenarnya bukan hal baru. Kesepakatan tarif, kata dia, sudah pernah ditetapkan sekitar dua tahun lalu melalui rapat yang difasilitasi pihak kecamatan.

‎“Masalah ini sebenarnya sudah pernah kita selesaikan dua tahun lalu. Sudah ada kesepakatan tarif saat itu,” jelasnya.
‎Namun, ia menduga adanya kenaikan tarif secara sepihak oleh oknum pemilik motor tambang yang kembali memicu polemik.

‎“Hari ini Dinas Perhubungan Kabupaten Kubu Raya sudah turun langsung ke lapangan untuk menangani persoalan ini,” ujarnya.

‎Ia optimistis, dengan keterlibatan dinas terkait, persoalan ini dapat segera diselesaikan. Ia juga mengingatkan para operator untuk mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah.

‎“Saya harap pemilik motor air patuh terhadap aturan. Jangan sampai persoalan yang sama terus berulang,” tegasnya.”(Mk/Ismail)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed