by

Mantan Narapidana Terorisme di Kalbar Cerita Titik Balik: Saya Bukan Ditangkap, Tapi Diselamatkan

Pontianak, MEDIA KALBAR – Wakil Ketua Yayasan Borneo Bela Negara (YBBN), Salim Salyo, membagikan pengalaman masa lalunya saat terjerumus ke jaringan radikal-teror dalam kegiatan penguatan kapasitas Dharma Wanita Persatuan di Aula Garuda, Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Senin, 6 April 2026.

Dalam forum bertema “Sinergi Cegah Paham Radikalisme dan Premanisme dalam Keluarga” itu, Salim tampil bukan sekadar sebagai narasumber, melainkan sebagai saksi hidup tentang bagaimana rasa kecewa sosial bisa menyeret seseorang ke jalan ekstrem.

Di hadapan peserta, Gubernur Kalbar, dan unsur Forkopimda, Salim bercerita bahwa kegelisahannya bermula dari pandangannya terhadap ketimpangan hukum. Ia mengaku pernah terusik oleh kisah seorang nenek yang ditangkap karena mencuri singkong untuk bertahan hidup.

“Waktu itu saya berpikir hukum tidak adil, berpihak pada yang kuat. Dari rasa kecewa itu, saya kemudian tersulut provokasi jaringan radikal-teror,” kata Salim.

Ia mengatakan proses radikalisasi berlangsung bertahap. Mulanya, ia mengikuti ideologi khilafah yang dibawa Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI. Setelah itu, pandangannya makin mengeras hingga bergabung dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok yang berafiliasi dengan ISIS.

Menurut Salim, dalam fase itu ia dicekoki ajaran yang menyebut negara sebagai thaghut. Bahkan, kata dia, merampok bank untuk membiayai perjuangan dianggap sah dan dibenarkan sebagai bagian dari fa’i atau harta rampasan perang.

“Rencana kami waktu itu, hasil rampokan akan dikirim ke Poso dan Filipina. Tapi rencana itu keburu kandas setelah kami ditangkap Densus 88,” ujarnya.

Salim kemudian menjalani hukuman penjara selama 3,5 tahun. Namun, ia menyebut masa itu justru menjadi titik balik dalam hidupnya. Warga Parit Sembin, Kabupaten Kubu Raya, itu mengaku mendapat pendekatan humanis dari aparat keamanan dan pembinaan intensif dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT.

“Saya tidak merasa ditangkap, tetapi diselamatkan. Kami didekati bukan dengan kekerasan, melainkan dengan hati, dialog, dan pendidikan,” kata pria yang kini menekuni usaha mebel itu.

Kini, Salim memilih berdiri di barisan yang menentang radikalisme. Ia mengingatkan bahwa ancaman ekstremisme tidak selalu datang secara terang-terangan, melainkan bisa masuk lewat media sosial, ruang obrolan digital, dan propaganda yang menyasar anak muda.

Ia menekankan keluarga, terutama para ibu, memiliki peran penting untuk mencegah anak-anak terpapar paham kekerasan dan berita bohong.

“Keluarga adalah kunci. Ibu-ibu Dharma Wanita punya peran besar mengawasi anak-anak agar tidak terhasut paham yang memecah belah. Radikalisme harus dilawan dengan kecerdasan dan kasih sayang,” ujar Salim.(Rai)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed