Pontianak, Media Kalbar
Dalam periode per 1 Juli sampai 31 Agustus 2026, satelit mendeteksi ada sekitar 93.975 titik Hot Spot yang ada di daerah Kalimantan Barat.
Data nya ada dan lengkap dari berbagai pantauan satelit, juga peta titik titik nya ada dan jelas terpetakan. Tekhnologi nya pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mungkin juga ada.
“Saya rasa Pemerintah Provinsi Kalbar bukan kekurangan akan data, hanya saja terlalu lambat dan terlalu birokrasi dalam
membaca data dan mengubah atau mengambil keputusan ketika data data peringatan itu di sajikan. Seolah data data dari peringatan dini itu sebagai konsumsi dan bacaan di atas meja saja, sehingga telat dalam pengambilan keputusan untuk sebuah langkah serta tindakan awal,” ungkap Ketua Umum RELLA Kalbar, Iin Irwansyah di Pontianak, Senin (31/8/2026).
Dikatakan lebih lanjut, Titik-titik peringatan dini akan potensi Hotspot seperti dianggap remeh.
“Hotspot memang bukanlah berarti sudah terjadi kebakaran, hotspot adalah potensi dari titik titik panas atau api yang terpantau oleh satelit,” ujarnya.
Tetapi ketika sinyal akan potensi Hotspot terus muncul di data, semua harus di analisa dan di ambil tindakan serta langkah konkrit seperti pencegahan dini, dimana membaca akan cuaca, arah angin, serta lahan yang berpotensi terdampak.
“Saya yakin yang terlambat bukan lah penyampaian data data yang masuk dan berada di atas meja, namun memang kita sendiri yang terlambat bertindak dalam hal pencegahan nya,” ungkapnya.
Disampaikan bahwa sebanyak 62,2% berada di APL dan 37,8% di Non-APL. Dari hotspot di APL, 59,5% berada dalam konsesi Palm Oil atau perkebunan kelapa sawit. sementara dari hotspot Non-APL, 37,4% berada dalam konsesi Wood-Pulp. Data ini menunjukkan sebaran hotspot, bukan otomatis menunjukkan penyebab atau pihak yang bertanggung jawab.
Karhutla tidak hanya soal gambut. Musim kering, kondisi vegetasi, bahan bakar, tata air, dan aktivitas manusia dapat saling berinteraksi. Gambut memiliki risiko khusus karena ketika terlalu kering, bahan organiknya lebih mudah terbakar dan api lebih sulit dikendalikan. Peringatan potensi El Niño kuat juga perlu menjadi perhatian karena kondisi kering dapat meningkatkan kerentanan lahan.
Menurut Iin Irwansyah, Solusinya bukan hanya memadamkan api setelah kebakaran terjadi. Gambut harus dijaga tetap basah, tata air dan kanal dikelola, bahan bakar dikurangi, serta pembukaan lahan tanpa bakar perlu didorong dengan menyediakan alternatif yang praktis bagi masyarakat. Pemerintah, masyarakat, dan pengelola kawasan perlu bergerak bersama dengan dukungan data satelit dan GIS.
“Kita tidak bisa mengendalikan musim kering. Tetapi kita bisa mengendalikan risikonya. Jangan menunggu asap muncul. Deteksi lebih awal, cegah lebih awal, bertindak lebih awal,” pungkasnya. (*/Amad)











Comment