Akhirnya pilihan saya menang juga. Duh, senangnya. Argentina lagi-lagi melakukan comeback sempurna. Usai tertinggal 1-0, Messi cs berhasil menghancurkan Inggris 2-1. Tim Tango lolos ke final, Inggris menangis. Simak ulasan absurdnya sambil seruput Koptagul, wak!
Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, berubah menjadi panggung opera, sirkus, konser dangdut, sekaligus sidang alam semesta. Argentina asuhan Lionel Scaloni, sang Raja Tango sekaligus peringkat satu FIFA, menantang Inggris racikan Thomas Tuchel. The Three Lions datang membawa aura Big Ben, teh sore, dan parkir bus berlapis baja. Aroma laga ini mengingatkan orang pada Perang Malvinas, walau yang berperang sekarang cuma bola dan jutaan jantung penonton.
Peluit Ismail Elfath baru berbunyi, Messi langsung mengajak kawan-kawan menari. Inggris bertahan seperti kastel Buckingham yang dipagari naga. Fans Argentina di Indonesia sudah teriak sejak menit pertama, padahal bola baru dua kali disentuh. Ada memeluk dispenser, ada mencium foto Messi, bahkan tetangga sebelah mengira sedang ada pengajian akbar bertema “Tobat Sebelum Argentina Menang.”
Menit ke-37 Elliot Anderson diganjar kartu kuning. Penonton Indonesia di bawah jembatan langsung berteriak, “Oi, ini Piala Dunia, bukan Kampung Inggris!” Dua menit kemudian Enzo Fernandez melepaskan tembakan yang meleset tipis. Fans Tango serempak memegang kepala. Kalau kepala mereka disusun, bisa dijadikan pagar pembatas Tol Trans Jawa.
Lisandro Martinez ikut menerima kartu kuning pada menit ke-42. Pendukung Inggris tertawa sambil mengejek, “Kebanyakan makan tango!” Babak pertama ditutup dengan Argentina menguasai bola 56 persen. Emiliano Martinez santai seperti satpam kompleks malam Lebaran. Sebaliknya Jordan Pickford sudah lembur. Wajahnya seperti pegawai yang dibidik Jampidsus.
Saat turun minum, dua pelatih justru menggelar tausiyah. Scaloni berkata, “Jangan seperti emas 74 kg pindah-pindah brankas, hasil tak jelas. Jangan takut, rakyat Indonesia di belakang kita, hajar terus.” Tuchel membalas, “Ingat, parkir bus boleh, asal jangan parkir program lima tahun tanpa gol.” Seluruh pemain mengangguk, meski beberapa tampak bingung apakah sedang di ruang ganti atau rapat dengar pendapat.
Babak kedua baru berjalan sepuluh menit, petaka datang. Menit ke-55 Morgan Rogers mengirim umpan silang, Anthony Gordon menghajar bola ke pojok gawang. Inggris unggul 1-0. Big Ben konon berdentang sendiri sampai burung-burung di London salah mengira sudah Tahun Baru. Fans Inggris di Indonesia mendadak berjalan sambil dada dibusungkan. Ada pesan fish and chips, padahal tinggal kerupuk ikan.
Gol itu malah membuat Argentina seperti kerasukan roh seluruh penari tango. Serangan datang tanpa henti. Pickford mendadak memiliki seribu tangan. Penonton Inggris meneriakkan, “I love you, Pickford!” dengan suara setulus cicilan rumah yang baru lunas.
Menit ke-76 sundulan Alexis Mac Allister menghantam tiang. Fans Argentina kembali memegang kepala. Untung kepala masih terpasang. Kalau copot, mungkin sudah menggelinding sampai Bandara Soekarno-Hatta.
Lalu tibalah menit ke-85. Messi mengirim umpan, Enzo Fernandez menyambar, Goool! 1-1! Seketika hukum fisika mengundurkan diri. Atlanta bergetar seperti disetel mode getar maksimal. Satelit milik Elon Musk berhenti berkedip beberapa detik karena ikut menonton. Di Indonesia, pendukung Argentina menjerit sampai tahanan korupsi di penjara ikut berdiri, mengira hari pembebasan massal sudah tiba. Ada salto tujuh kali tanpa menyentuh tanah. Ada menangis sambil memeluk galon. Monas berkedip seperti disambungkan ke genset emosi.
Inggris mencoba menyerang di menit-menit akhir. Bahkan Pickford beberapa kali keluar dari sarangnya membantu serangan. Namun benteng Argentina tetap kukuh. Pertandingan berubah menjadi adu nekat.
Lalu datang menit 90+2 yang akan dikenang sampai dinosaurus pensiun kedua kalinya. Messi mengirim crossing, Lautaro Martinez menyundul bola ke gawang kosong. Gool! Argentina berbalik unggul 2-1!
Dunia langsung kehilangan akal sehat. Gunung Aconcagua konon bergoyang mengikuti irama tango. Obelisk Buenos Aires hampir dipeluk jutaan orang sekaligus. Di Indonesia, pendukung Messi menjerit begitu keras hingga emas Monas memancarkan cahaya seperti sedang mengisi daya matahari. Alien di Mars membatalkan rapat antarplanet karena penasaran siapa sebenarnya Lionel Messi.
Sebaliknya, fans Inggris memeluk bantal dengan tatapan kosong. Ada yang menatap teko teh selama lima belas menit, berharap waktu bisa diputar ulang.
Peluit panjang berbunyi. Argentina resmi ke final menghadapi Spanyol. Inggris pulang membawa cerita. Argentina bergoyang ceria. Sementara netizen Indonesia membawa dua hal tidak pernah habis: kuota internet dan bersiap membully Hary Kane. Fans Inggris hanya bisa bergumam, nye..nye..nye.. (*)
Penulis: Rosadi Jamani










Comment