SAMBAS, MEDIA KALBAR – Kabupaten Kabupaten Sambas sebagai daerah perbatasan Indonesia – Malaysia kembali dihadapkan pada ancaman kabut asap yang kerap muncul setiap musim kemarau. Fenomena ini tak lagi sekadar persoalan lokal, melainkan bagian dari krisis iklim global yang dampaknya semakin nyata hingga ke wilayah perbatasan.
Kabut asap menjadi masalah tahunan di Sambas, terutama dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut. Praktik tebang-bakar untuk pembukaan lahan, kondisi iklim yang semakin ekstrem, serta lemahnya pengawasan di lapangan membuat bencana ini terus berulang.
Dampaknya tidak hanya merusak lingkungan dan aktivitas ekonomi, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat secara serius.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, dr. H. Ganjar Eko Probowa, menegaskan bahwa kabut asap merupakan ancaman langsung terhadap kesehatan paru-paru manusia. Partikel halus hasil pembakaran hutan dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu berbagai penyakit, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Saat ini Kabupaten Sambas telah memasuki musim kemarau dan memiliki potensi tinggi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Dampaknya bisa menyebabkan kabut asap dan meningkatkan risiko penyakit pernapasan, terutama ISPA,” ujar dr. Ganjar. Minggu(1/2/2026)
Meski hingga kini belum tercatat adanya lonjakan kasus ISPA akibat kabut asap, Pemerintah Kabupaten Sambas tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini.
Menurut dr. Ganjar, langkah pencegahan jauh lebih penting agar tidak terjadi permasalahan kesehatan massal di tengah masyarakat, terlebih di wilayah perbatasan yang juga rawan terdampak lintas negara.
Adapun langkah-langkah pencegahan yang disarankan Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas antara lain:
1. Menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan ketika terjadi kabut asap, guna
mengurangi paparan partikel berbahaya.
2. Menjaga kelembapan udara di dalam rumah untuk mengurangi iritasi pada saluran pernapasan.
3. Menghindari aktivitas luar ruangan selama kabut asap, terutama bagi warga yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.
4. Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala ISPA atau sesak napas.
5. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, serta memperbanyak minum air putih.
Kabut asap di Sambas menjadi pengingat bahwa krisis iklim global bukan isu abstrak, melainkan ancaman nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat daerah.
Tanpa upaya serius pencegahan karhutla dan adaptasi terhadap perubahan iklim, wilayah perbatasan seperti Sambas akan terus berada di garis depan dampak krisis iklim yang kian mengkhawatirkan. (Rai)











Comment