Sebelas desa tampilkan hasil hutan bukan kayu dan produk lokal dalam Festival Lanskap Lestari di Pontianak
PONTIANAK, Media Kalbar — Hutan, tembawang, tanah, tanaman, dan penghidupan masyarakat merupakan bagian dari satu lanskap yang saling berkaitan. Sejumlah kajian Yayasan Farmers for Forest Protection Foundation (4F) dan penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan pentingnya memahami keterkaitan tersebut untuk memperkuat perlindungan hutan, pengelolaan lahan, dan penghidupan masyarakat.
Temuan tersebut dibahas dalam Seminar dan Festival Lanskap Lestari yang digelar 4F bersama Universitas Tanjungpura (UNTAN) dan BRIN di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (12/8). Kegiatan ini mempertemukan peneliti, akademisi, pemerintah, petani dan masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, serta sektor swasta.

Direktur Eksekutif 4F, Tirza Pandelaki, mengatakan kolaborasi antara penelitian dan pengalaman masyarakat penting agar pengetahuan yang dihasilkan tidak berhenti sebagai laporan, tetapi dapat diterapkan dalam pengelolaan lanskap di tingkat tapak.
“Selama bekerja bersama masyarakat di berbagai lanskap desa, kami melihat bahwa perlindungan hutan dan penghidupan masyarakat memang tidak bisa dipisahkan. Karena itu, kami ingin hasil penelitian yang dibahas hari ini tidak berhenti sebagai laporan, tetapi dibicarakan bersama dan dilihat apa yang bisa diterapkan di lapangan,” kata Tirza.
Dukungan perguruan tinggi juga menjadi bagian penting dalam kolaborasi tersebut. Dalam sambutan pembukaan, Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut., M.Si., Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, menegaskan pentingnya menyeimbangkan kepentingan ekologi dan ekonomi.
“Keberlanjutan harus mampu menyeimbangkan kepentingan ekologi dan ekonomi. Karena itu, bukti ilmiah tidak boleh berhenti di laboratorium, tetapi harus dapat diterapkan di masyarakat dan memberi manfaat nyata, termasuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” kata Farah.

Hutan Regenerasi dan Tembawang, Menjaga Lanskap dan Penghidupan
Kajian spasial Yayasan 4F menunjukkan bahwa hutan regenerasi muda dan hutan kerapatan rendah tetap rentan kehilangan tutupan. Harits Yowansyah Pandayu Putra, Expert Spatial Yayasan 4F, mengatakan overlay data deforestasi Kementerian Kehutanan 2023–2025 dengan data tutupan hutan berbasis Stok Karbon Tinggi (SKT) menunjukkan deforestasi cenderung terjadi pada kedua kelas hutan tersebut.
“Perlindungan hutan tidak hanya diperlukan pada kawasan dengan tutupan yang masih rapat. Hutan yang sedang beregenerasi juga perlu dijaga agar peluang pemulihannya tidak kembali hilang,” kata Harits.
Analisis tersebut mengidentifikasi 27.316 lokasi indikatif tembawang di Kabupaten Sanggau dan sekitar 103.584,63 hektare area berpotensi agroforestri. Temuan ini dapat menjadi rujukan untuk menetapkan prioritas perlindungan, pemulihan hutan, dan pengembangan agroforestri, dengan lokasi tembawang masih perlu diverifikasi di tingkat tapak.
Amir Mahmud, M.Si., An, Peneliti Yayasan 4F, mengatakan tembawang atau wanatani bukan sekadar kumpulan pohon yang tersisa di antara perkebunan, tetapi memiliki fungsi sosial, sejarah, ekonomi, dan ekologis. Beragam tanaman di dalamnya menyediakan pangan, buah, kayu, obat, dan sumber pendapatan, sekaligus menyimpan pengetahuan dan nilai budaya masyarakat.
Namun, wanatani menghadapi tekanan konversi, termasuk menjadi kebun sawit. Meski sawit penting sebagai sumber pendapatan tunai, perubahan menuju monokultur dapat mengurangi keragaman sumber penghidupan masyarakat.
“Persoalannya bukan mempertentangkan sawit dengan wanatani, melainkan bagaimana membangun model wanatani yang mampu menjawab kebutuhan ekonomi masyarakat saat ini tanpa kehilangan fungsi sosial dan ekologisnya,” kata Amir.
Menurutnya, pengembangan agroforestri perlu disesuaikan dengan kondisi lahan, pilihan dan kemampuan petani, serta peluang pasar, dengan dukungan kelembagaan, pengetahuan, pembiayaan, rantai pasok, dan kebijakan.
Dari Tanah, Kesehatan Tanaman Dapat Dibaca
Penelitian BRIN yang dipaparkan Dr. Ir. Asri Insiana Putri, M.P., menunjukkan bahwa kesehatan tanaman berkaitan erat dengan komunitas mikroorganisme di sekitar perakaran atau rizosfer. Analisis metagenomik dari Desa Menyabo, Gunam, dan Embala, Kabupaten Sanggau, menemukan perbedaan komunitas jamur pada rizosfer sawit sehat dan sakit, dengan Fusarium memiliki kelimpahan relatif lebih tinggi pada tanaman sakit.
Penelitian juga menemukan kondisi komunitas mikroorganisme yang menarik pada tanaman sehat yang berada dekat rimba alam, termasuk keberadaan Trichoderma virens yang berpotensi sebagai agen biokontrol. Kajian BRIN lainnya terhadap bakteri pengikat nitrogen Azotobacter menunjukkan bahwa rimba dan tembawang memiliki keragaman vegetasi, serasah, karbon organik, kelembapan, dan mikroba tanah yang lebih tinggi.
“Kesehatan tanaman tidak hanya berkaitan dengan tanaman itu sendiri. Di dalam tanah terdapat komunitas mikroorganisme yang memiliki fungsi penting, sementara kondisi lanskap juga memengaruhi lingkungan tempat mikroorganisme tersebut hidup,” ujar Asri.
Temuan ini menunjukkan pentingnya memahami keterkaitan antara lanskap, tanah, mikroorganisme, dan kesehatan tanaman untuk mendukung pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan.
Pengetahuan Bertemu Pengalaman Masyarakat
Temuan penelitian tersebut bertemu dengan pengalaman masyarakat yang selama ini mengelola lanskap mereka. Isa Kenedy, perwakilan petani dan Tim Penjaga Hutan Desa Setawar, Kabupaten Sekadau, mengatakan bahwa bagi petani, sawit penting untuk penghidupan, tetapi hutan juga sangat penting untuk menjaga kesuburan kebun dan kehidupan masyarakat. Di tengah tingginya harga sawit, ia mengingatkan adanya risiko hutan adat dan hutan milik masyarakat ikut dibuka untuk perkebunan sawit.
“Kalau hutan habis, apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu? Karena itu, masyarakat yang menjaga hutan perlu mendapatkan insentif. Jangan hanya mereka yang membuka hutan yang mendapatkan keuntungan, tetapi mereka yang mempertahankan hutan juga harus mendapatkan manfaat,” kata Isa Kenedy.
Dari Lanskap ke Festival, dari Penelitian Menuju Aksi
Pengetahuan dan pengalaman masyarakat turut hadir dalam Festival Lanskap Lestari “Celebrating Forests, Food, Culture and Community”, melalui 11 desa binaan 4F yang membawa dan menjual berbagai HHBK serta produk lokal dan menampilkan produk unggulan dalam lomba HHBK. Rangkaian kegiatan juga ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman BRIN–UNTAN dan penyerahan isolat Azotobacter kepada UNTAN untuk mendukung penelitian dan inovasi lanjutan sesuai kondisi lingkungan setempat.
“Melalui festival ini, kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan, pengalaman, produk, dan potensi ekonomi yang tumbuh dari lanskap mereka. Hasil penelitian membantu kita memahami lanskap, sementara masyarakat tahu bagaimana lanskap itu dikelola dan dimanfaatkan. Tantangannya adalah mempertemukan keduanya agar bisa diterapkan dalam kerja nyata dan memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” kata Tirza Pandelaki.
Tentang Farmers for Forest Protection Foundation (4F)
Farmers for Forest Protection Foundation (4F) merupakan organisasi yang berkomitmen mendukung petani kecil, masyarakat adat, dan komunitas lokal dalam melindungi hutan sekaligus meningkatkan penghidupan melalui pendekatan pengelolaan lanskap.
4F bekerja di berbagai lanskap prioritas, khususnya di Kalimantan, dengan membangun kolaborasi bersama pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, koperasi, dan masyarakat lokal. Pendekatan 4F mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, ekonomi, dan tata kelola agar perlindungan hutan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
(*/Amad)











Comment