SAMBAS, Media Kalbar – Air Sungai Sambas, yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat, kini berubah menjadi sumber petaka. Warnanya menguning, baunya tak sedap, dan lebih parah lagi: air yang dulu dipakai untuk mandi dan minum kini membuat kulit gatal dan tubuh terinfeksi. Di balik gejala ini, ada dugaan kuat bahwa penambangan emas ilegal (PETI) di wilayah Kabupaten Bengkayang adalah dalangnya.
Bukti-bukti makin terang saat DPRD Kabupaten Sambas, bersama Dinas Perkim LH dan Kepala Desa Semanga, mendatangi Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP). Ketua DPRD Sambas H. Abu Bakar, Wakil Ketua Ferdinan Solihin, dan Wakil Ketua Komisi III Rahmadi memimpin langsung pertemuan yang membongkar fakta-fakta memilukan.
Air Sungai Sambas bukan sembarang air. Ia adalah sumber utama untuk mandi, mencuci, kakus (MCK), bahkan untuk memasak dan minum bagi ribuan warga Sambas. Namun kini, air itu menjadi racun diam-diam. Warga mulai mengeluh gatal-gatal, iritasi kulit, dan gejala lainnya. Sebuah bencana ekologi sedang berlangsung pelan-pelan, dan seperti biasa, masyarakat kecil jadi korban pertama.
Dalam keterangannya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalbar, Adi Yani, menyebut bahwa hasil analisis laboratorium mengindikasikan tingginya kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan Dissolved Oxygen (DO) yang jauh di atas ambang batas. Itu artinya, air Sungai Sambas tak lagi layak untuk dikonsumsi. Sumbernya? Diduga kuat dari aktivitas PETI di hulu sungai wilayah Kabupaten Bengkayang.
Ironisnya, wilayah yang kini menjadi sumber pencemaran itu pernah diusulkan menjadi Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), tapi belum disetujui Kementerian ESDM. Sementara proses izin jalan di tempat, tambang-tambang ilegal tetap beroperasi, diduga dengan pengawasan longgar, bahkan pembiaran oleh oknum tertentu. DPRD Sambas meminta Gubernur Kalbar bersikap tegas, tidak hanya menyurati kementerian tapi juga melakukan penertiban lapangan.
Wakil Ketua Komisi III, Rahmadi: “Ini Sudah Gawat!”
“Hearing ini adalah bentuk kepedulian kami terhadap jeritan masyarakat. Ini bukan lagi masalah lingkungan biasa, ini krisis kesehatan. DLHK Provinsi Kalbar harus segera turun tangan, jangan sampai rakyat Sambas terus mandi air racun!” tegas Rahmadi
Ia juga meminta agar bantuan air bersih dan pengobatan segera digulirkan. “Berapa lama lagi rakyat harus mandi dengan zat kimia, sebelum pemerintah sadar bahwa ini darurat? (Rai)







Comment