by

Gara-gara Ulah Sang Adik, Sujiwo Didesak Mundur

Banyak orang ingin hidupnya viral. Terkenal, disanjung di mana-mana. Dipuji netizen siang dan malam. Padahal, viral punya sisi gelap. Bila tidak kuat, bisa down. Seperti terjadi pada Sujiwo. Gara-gara ulah sang adik, dia malah didesak mundur. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Sujiwo, Bupati Kubu Raya, Kalbar, dikenal sebagai Bupati Konten. Ada pula yang menyebutnya KDM versi Kalimantan. Aksinya sering terekam kamera dan mendapat pujian netizen. Namun kamera zaman sekarang tidak punya saudara. Ia tidak mengenal jabatan, hubungan darah, apalagi suasana duka.

Sabtu, 8 Agustus 2026, nama Sujiwo kembali berputar di jagat maya gara-gara ulah adik kandungnya, SU alias GI, di ruang resusitasi RSUD Tuan Besar Syarif Idrus.

Adik ipar Sujiwo, Iin Sumirat, sedang kritis. Keributan terjadi karena aturan ruang resusitasi hanya memperbolehkan dua orang keluarga mendampingi. GI disebut tetap berada di ruangan meski sudah ditegur. Situasi kemudian memanas dan berujung dugaan pemukulan terhadap seorang satpam dan dokter perempuan.

CCTV beredar. Iin kemudian dirujuk ke RSUD dr. Soedarso Pontianak, tetapi nyawanya tidak tertolong. Pihak rumah sakit menyatakan persoalan telah diselesaikan secara kekeluargaan melalui mediasi. Keluarga juga meminta maaf.

Tetapi internet punya hukum sendiri. Kalau CCTV sudah keluar, urusan kekeluargaan bisa berubah menjadi urusan satu provinsi.

Sujiwo kemudian mengecam tindakan adiknya, mempersilakan pihak dirugikan melapor ke polisi, dan menegaskan tidak akan mengintervensi proses hukum.

Lalu muncullah kalimat yang membuat drama ini naik kelas. Politisi PDIP ini menyatakan siap mundur dari jabatan Bupati Kubu Raya jika memang itu kehendak rakyat. Menariknya, mundur ternyata bukan barang baru bagi Sujiwo.

Ia mengungkapkan, pada 2015 dirinya pernah mengundurkan diri sebagai anggota DPRD. Alasannya karena merasa sudah tidak nyaman menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.

“Saya pernah lho tahun 2015 mundur dari anggota DPRD. Ketika saya sudah merasa tidak nyaman pada saat itu untuk memberikan pelayanan kepada rakyat, saya memilih untuk mundur.”

Hal serupa terjadi ketika ia menjadi Wakil Bupati Kubu Raya periode 2019–2024. Sujiwo mengaku pernah menyatakan mundur karena merasa tidak banyak memberikan manfaat bagi rakyat. Namun pengunduran diri itu tidak diproses DPRD sehingga ia tetap menjalankan jabatan sampai selesai.

“Waktu wakil bupati saya juga pernah mundur. Ketika saya merasa tidak banyak manfaatnya untuk rakyat, untuk apa saya mempunyai jabatan. Maka saya mundur.”

Jadi, kalau sekarang Sujiwo bicara soal mundur, ia bukan sedang belajar mengenal pintu keluar kekuasaan. Dulu, ia mundur dari DPRD. Kemudian, pernah mundur sebagai wakil bupati. Sekarang, ia didesak mundur sebagai bupati.

Politik memang ajaib. Kadang kursi kekuasaan seperti kursi musik. Musik berhenti, semua orang mendadak melihat siapa masih duduk.

Wakil Ketua DPRD Kubu Raya, Zulkarnain, justru meminta Sujiwo tidak terpengaruh suara mendesaknya mundur. Ia menilai kinerja Sujiwo masih baik. Maka pertanyaannya kini sederhana, Sujiwo benar-benar mundur atau tetap bertahan? Belum ada keputusan resmi.

Yang jelas, persoalan bermula di ruang resusitasi kini sudah masuk ruang politik. Ironinya, Sujiwo selama ini viral karena aksinya. Kini viral karena adiknya. Yang ikut bergetar bukan cuma jagat maya. Kursi Bupati Kubu Raya pun ikut gemetar.

Inilah risiko menjadi Bupati Konten. Kalau prestasi terekam kamera, nama naik. Kalau keluarga bikin masalah, nama ikut terseret. Kamera tidak punya saudara. Ia cuma merekam. Netizen yang mengomentari. Sejarah yang mencatat.

Kursi bupati? Tinggal menunggu, tetap diduduki, atau benar-benar ditinggalkan. (*)

Penulis: Rosadi Jamani

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed