by

Gol Tunggal Ferran Tores Antarkan Spanyol Juara Dunia 2026

Tuntas sudah Piala Dunia. Spanyol berhak menyandang negara terkuat sepakbola di bumi ini. Gol tunggal Ferran Tores layak menjadi pahlawan Matador. Argentina hanya bisa meratap, gagal mencetak juara dunia untuk yang keempat. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Pagi-pagi Meadowlands Stadium sudah penuh sesak. Kapasitas 80.663 penonton habis diserbu manusia yang sepertinya sudah menjual motor, sawah, bahkan koleksi panci demi membeli tiket. Yang paling murah Rp36 juta, kemungkinan duduknya sudah dekat parkiran UFO. Yang paling mahal Rp35,8 miliar, itu bukan beli tiket, tapi seperti ikut urunan membeli separuh rumput stadion.

Slavko Vincic meniup peluit. Argentina, raja FIFA, La Albiceleste, Tim Tango, datang membawa tiga bintang. Spanyol, La Roja, The Matador, membawa satu bintang dan niat mengembangkannya jadi dua. Baru semenit laga berjalan, Yamal sudah bikin Martinez jungkir balik. Sejak saat itu Emiliano Martinez resmi berubah profesi menjadi tembok beton bersertifikat ISO. Unai Simon di sisi lain lebih sibuk menghitung awan dari menyentuh bola.

Babak pertama benar-benar milik Spanyol. Penguasaan bola 65 persen. Argentina bertahan seperti warung makan yang didatangi seribu debt collector sekaligus. Martinez, Romero, Montiel, Tagliafico, semuanya menyapu bola tanpa sempat menyapu keringat. Saat Lisandro Martinez mendapat kartu kuning, fans Spanyol menjerit sampai banteng-banteng di Madrid mendadak berhenti lari dan memilih ikut nonton lewat parabola.

Masuk ruang ganti, suasana makin ajaib. Luis de la Fuente memberi tausiyah, “Anak-anak, jangan seperti proyek di negeri sono, tiga bulan sudah hancur. Kalau ada peluang, makan dulu MBG, lalu sikat!” Di ruang sebelah, Lionel Scaloni berkhotbah, “Jangan saling menyalahkan. Bang Messi, keluarkan daya magismu, penonton kecewa ente planga-plongo.”

Babak kedua dimulai. Argentina tiba-tiba berani menyerang. Penonton Indonesia yang nobar langsung bangun dari kantuk. Kopi naik pangkat menjadi bahan bakar nasional. Warung kopi berubah seperti ruang sidang Mahkamah Konstitusi. Semua merasa paling benar.

Martinez terus menyelamatkan Argentina. Pedri menembak, ditepis. Ferran menyundul, ditangkap. Laporte menyundul, dimentahkan. Nico Williams datang lagi. Digagalkan lagi. Sampai-sampai Dewa Poseidon mengirim surat protes karena merasa Emiliano Martinez sudah terlalu sering membelah lautan peluang.

Menit 90+3, Enzo Fernandez menerima kartu merah. Fans Spanyol langsung bersorak seperti baru menang undian rumah subsidi. Fans Argentina? Mendadak diam. Bahkan orang yang sedang goreng pisang lupa membalikkan pisangnya. Hangus. Hubungan rumah tangga nyaris retak hanya gara-gara sepak bola.

Laga masuk babak tambahan. Di sinilah hukum fisika mengundurkan diri. Menit 93 Martinez kembali menyelamatkan sundulan Nico Williams. Penonton mulai curiga Martinez sebenarnya bukan manusia, melainkan lemari besi Bank Indonesia yang memakai sarung tangan.

Menit 97 Nico mencetak gol. Stadion meledak. Fans Spanyol meloncat setinggi tiang listrik. Seekor alien dari Planet Mars sampai memesan tiket menuju Bumi karena mengira konser kiamat sedang berlangsung. Namun wasit menganulir gol. Seluruh alien langsung mengajukan refund.

Lalu…Menit 106. Nico Williams menyundul bola. Ferran Torres berdiri tanpa kawalan. Sontek. Gooool! Yang meledak bukan cuma stadion.

Gunung Fuji mengeluarkan notifikasi. Menara Eiffel minta izin rebahan. Patung Liberty mendadak tepuk tangan. Sagrada Familia hampir selesai dibangun karena para tukangnya mendadak semangat.

Di Indonesia lebih gila lagi. Fans Spanyol berlarian keliling kampung sambil memeluk galon. Ada sujud di depan televisi lalu memeluk antena. Ada salto tujuh kali sampai ayam tetangga ikut pingsan. Seorang bapak memeluk pohon mangga sambil berteriak, “Aku Ferran Torres!” Padahal namanya Pak Slamet.

Pendukung Argentina tak kalah dramatis. Ada yang menatap langit sambil bertanya kepada burung, “Kenapa hidup sekeras ini?” Ada memutar lagu sedih sambil memeluk termos. Bahkan patung Messi di dunia imajinasi nyaris meminta cuti seminggu.

Menit 114 Ferran kembali menjebol gawang. Fans Spanyol sudah membuka kembang api, memesan kambing, bahkan ada siap mengganti nama anaknya menjadi Ferran Bin Torres. Eh… offside. Semua kembali duduk sambil pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Peluit panjang berbunyi. Spanyol resmi menjadi juara dunia kedua kalinya. La Roja berpesta. La Albiceleste pulang membawa luka.

Sementara di Indonesia, nobar baru benar-benar selesai setelah alien dijemput UFO, hantu minta swafoto dengan Ferran Torres, dan gravitasi kembali bekerja setelah sempat mogok selama delapan menit karena ikut merayakan gol juara dunia. (*)

Penulis: Rosadi Jamani

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed