Rokan Hulu, Media Kalbar
Hingga awal 2026, tercatat lebih dari 2.500 petani sawit di Kabupaten Rokan Hulu telah menjadi mitra dan tumbuh bersama PTPN IV PalmCo melalui entitasnya di Provinsi Riau, PTPN IV Regional III, yang berada di bawah Holding Perkebunan Nusantara (PT Perkebunan Nusantara III (Persero)).
Data yang dihimpun menunjukkan bahwa entitas yang sebelumnya dikenal sebagai PTPN V ini tidak hanya memenuhi kewajiban 20 persen kemitraan plasma sesuai regulasi pemerintah, tetapi telah melampauinya dengan total luas areal mitra mencapai 5.271 hektare.
Group Manager Distrik Petani Mitra PTPN IV Regional III, Ferry P. Lubis, saat dikonfirmasi mengatakan bahwa para petani mitra tersebut tergabung dalam tujuh kelembagaan pekebun. “Sejak awal keberadaan PTPN IV di Rokan Hulu adalah untuk tumbuh dan berkembang bersama petani mitra. Itu adalah khittahnya PTPN. Dan kami masih membuka ruang kolaborasi serta sinergi seluas-luasnya untuk maju bersama,” kata Ferry, dikonfirmasi dari Rokan Hulu, belum lama ini.
Ferry menjelaskan, dari tujuh lembaga pekebun yang bermitra, dua di antaranya telah memenuhi standar global dengan meraih sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), yakni Koperasi Makarti Jaya dan Dayo Mukti. Dengan adanya sertifikasi tersebut, petani memperoleh beragam insentif harga terbaik sehingga meningkatkan pendapatan mereka.
Ke depan, lanjutnya, petani mitra lainnya juga akan didorong untuk memperoleh sertifikasi serupa. Komitmen ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan, tetapi juga membangun kesadaran petani terhadap isu-isu keberlanjutan sesuai standar internasional.
Lebih jauh, Ferry menyampaikan bahwa seluruh petani yang bermitra dengan PTPN IV Regional III telah melaksanakan peremajaan sawit renta mereka, baik melalui program revitalisasi maupun Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
“Melalui pola PSR misalnya, petani mendapatkan manfaat berupa jaminan produksi. PTPN IV Regional III menjamin produksi para petani di atas standar nasional. Di bawah itu, kami ganti rugi. Dan alhamdulillah, dengan kerja sama yang baik, produksi petani sangat luar biasa,” jelasnya.
Menurut Ferry, inisiatif tersebut sejalan dengan upaya pemerintah untuk mempersempit kesenjangan produktivitas antara kebun petani dan perusahaan. “Intinya, komitmen kami adalah bagaimana petani memiliki pendapatan tinggi dan produksi melimpah, sehingga petani menjadi bagian tak terpisahkan dalam mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo, terutama ketahanan pangan dan energi nasional,” paparnya.
Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Inti Rakyat (Aspekpir), Setiyono, menambahkan bahwa kemitraan dengan PTPN IV melalui penerapan pola single management membawa manfaat signifikan bagi petani mitra. Menurutnya, pola pengelolaan terpadu ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat tata kelola kemitraan yang lebih transparan, profesional, dan berkeadilan.
“Dulu, bahasa single management sempat jadi momok di kalangan petani. Namun kenyataannya, PTPN justru memberikan kesempatan yang luas kepada petani untuk terlibat langsung dan berkembang. Petani tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga bagian aktif dari sistem pengelolaan yang profesional,” jelas Setiyono.
Single management merupakan pola pengelolaan terpadu seluruh proses budidaya kelapa sawit petani, mulai dari peremajaan hingga pemanenan, dengan standar perusahaan yang tinggi. Sistem ini mencakup operational excellence, kesetaraan produktivitas antara kebun perusahaan dan petani, pemberdayaan petani melalui program cash for works, korporatisasi kelembagaan petani, serta prinsip transparansi dalam seluruh aktivitas pengelolaan.
Setiyono menegaskan bahwa sistem ini mampu mendorong peningkatan produktivitas kebun plasma hingga setara dengan kebun inti perusahaan. “Produktivitas tinggi, bahkan usia sawit muda sudah menghasilkan TBS dengan volume luar biasa. Ini bukti bahwa ketika petani dilibatkan, hasilnya nyata,” tuturnya.
Selain peningkatan produksi, single management juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani melalui pola kemitraan yang inklusif. Petani tidak hanya memperoleh pendapatan dari hasil kebun, tetapi juga dapat terlibat sebagai tenaga kerja operasional maupun kontraktor lokal.
“Single management ini tidak tertutup, bahkan sangat terbuka. Kami para petani didorong untuk menjadi mitra dalam berbagai kegiatan, termasuk sebagai kontraktor. Pola ini membuat hubungan antara petani dan perusahaan menjadi setara, saling menguntungkan, dan saling membutuhkan,” tutupnya. (Mbis/MK)











Comment