Ketapang, Media Kalbar
Cerobong industri PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) menjulang di pesisir Kendawangan. Pabrik pengolah bauksit menjadi alumina itu kerap disebut sebagai simbol industrialisasi di Kalimantan Barat. Namun di sekitar kawasan operasionalnya, cerita yang berkembang di masyarakat tidak selalu seindah narasi investasi.
Perusahaan ini resmi mulai dibangun pada 17 Juli 2013 melalui peletakan batu pertama proyek smelter alumina di Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang. Setelah beberapa tahun pembangunan, pabrik mulai melakukan uji coba produksi pada awal 2016 dan sejak itu menjadi salah satu industri pengolahan bauksit terbesar di wilayah tersebut.
Informasi yang dihimpun dari Kantor Imigrasi dan Disnakertrans Ketapang hingga akhir tahun 2025, 240 tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok bekerja di perusahaan tersebut. Sebagian di antaranya disebut menempati posisi penting dalam struktur operasional perusahaan.
Dominasi itu tak berhenti pada tenaga kerja. Kepemilikan saham mayoritas perusahaan juga dikuasai oleh korporasi asal Tiongkok, memperlihatkan kuatnya pengaruh asing dalam industri pengolahan bauksit di Ketapang tersebut.
Bagi sebagian masyarakat, kondisi ini menghadirkan ironi. Di tengah investasi besar yang masuk, warga lokal justru merasa hanya menjadi pelengkap di tanah sendiri.
“Orang lokal ini seperti hanya jadi kuli di negeri sendiri. Sementara TKA jadi bos, jadi raja di negeri kita,” keluh Rabuan warga Dusun Sungai Tengar.
Keluhan itu muncul bukan tanpa alasan. Di sekitar kawasan industri, sebagian masyarakat justru menghadapi tantangan ekonomi yang semakin berat.
Dusun Sungai Tengar, Desa Mekar Utama, Kecamatan Kendawangan, merupakan kawasan yang berada di Ring 1 PT WHW. Sebagian besar warganya menggantungkan hidup sebagai nelayan.
Ahmad, salah satu warga Sungai Tengar, mengatakan pekerjaan melaut kini tidak lagi seperti dulu.
“Sekarang kalau melaut harus pergi lebih jauh. Kadang sudah jauh-jauh ke laut, pulang tidak dapat apa-apa,” katanya.
Cerita serupa datang dari Tosimin, nelayan lain di dusun tersebut. Ia mengaku hasil tangkapan semakin sulit sejak industri berdiri di wilayah mereka.
“Sering kali kami tidak dapat tangkapan. Sejak WHW ada di sini, hasil laut makin susah,” ujarnya.
Kesulitan itu memaksa sebagian nelayan bertahan dengan cara yang tidak mudah. Banyak di antara mereka kini harus berutang demi bisa tetap melaut.
“Sekarang rata-rata nelayan punya hutang. Ada yang pinjam ke Bank Mekar, ada juga yang ke bank harian untuk biaya operasional melaut,” kata Tosimin.
Persoalan lain yang dikeluhkan masyarakat adalah minimnya perhatian perusahaan terhadap warga di sekitar kawasan operasionalnya.
Sejumlah nelayan menilai program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) selama ini lebih banyak menjadi formalitas.
Matroni, warga setempat, mengatakan masyarakat hampir tidak pernah merasakan manfaat nyata sejak perusahaan itu beroperasi.
“CSR itu lebih banyak hanya di atas kertas. Kenyataannya masyarakat tidak pernah menerima apa-apa sejak WHW ada di sini,” ujarnya.
Menurut Matroni, bantuan yang diberikan perusahaan selama ini sangat terbatas dan tidak menyentuh mayoritas nelayan di kawasan tersebut.
“Kalaupun ada, hanya diberikan ke sebagian kecil kelompok atau orang tertentu. Bukan untuk seluruh nelayan yang terdampak,” katanya.
Ia menambahkan, selama ini nelayan di kawasan tersebut hanya sesekali menerima paket sembako saat Lebaran.
“Itu pun hanya paket sembako. Jauh sekali dari harapan masyarakat yang hidup berdampingan langsung dengan kawasan industri besar,” ucapnya.
Keluhan masyarakat tidak hanya terkait ekonomi dan bantuan sosial. Kondisi infrastruktur juga menjadi sorotan.
Akses jalan menuju Kecamatan Kendawangan dari Kota Ketapang hingga kini masih dalam kondisi memprihatinkan di sejumlah titik. Padahal kawasan tersebut menjadi jalur penting menuju lokasi industri besar, termasuk kawasan operasional WHW.
Sebagian warga menilai, dengan besarnya investasi yang masuk ke wilayah tersebut, seharusnya ada dampak nyata terhadap pembangunan infrastruktur, khususnya jalan yang menjadi akses utama masyarakat.
Menurut warga, minimnya kontribusi terhadap perbaikan infrastruktur memunculkan pertanyaan tentang tanggung jawab sosial perusahaan terhadap wilayah tempat mereka beroperasi.
Kontras itu memperlihatkan dua wajah berbeda di sekitar kawasan industri Kendawangan. Di satu sisi, pabrik raksasa dengan investasi besar beroperasi dengan teknologi modern dan tenaga kerja asing. Di sisi lain, masyarakat di sekitar kawasan justru harus berjuang mempertahankan mata pencaharian yang semakin sulit, bahkan melewati jalan rusak untuk menuju wilayah mereka sendiri.
Hingga berita ini diturunkan, Tim media telah berupaya mengonfirmasi pihak perusahaan melalui Corporate Communication PT WHW. Namun hingga lebih dari 3×24 jam sejak permintaan konfirmasi dikirimkan, pihak perusahaan belum memberikan keterangan resmi terkait jumlah tenaga kerja asing, posisi yang mereka tempati, maupun program tanggung jawab sosial perusahaan bagi masyarakat sekitar.
Cerobong WHW terus mengepulkan asap. Tetapi bagi nelayan Sungai Tengar, laut yang dulu menjadi sumber kehidupan kini terasa semakin jauh—sementara bagi sebagian warga, manfaat kehadiran industri besar itu masih terasa jauh dari harapan. (*/Amad)







Comment