YOGYAKARTA, Media Kalbar
Tepuk tangan bergema di sebuah ballroom hotel di Yogyakarta, Kamis, akhir Januari lalu. Saat itu satu per satu nama pemanen terbaik PTPN IV PalmCo, Sub Holding PTPN III (Persero) dipanggil ke atas panggung. Di deretan kursi depan, istri dan anak-anak mereka berdiri, beberapa mengabadikan momen dengan telepon genggam. Raut bangga tak tersembunyi.
Sebanyak 32 pemanen dari berbagai wilayah operasional—mulai dari Langsa, Aceh, hingga Sulawesi—diterbangkan khusus ke Kota Gudeg dalam program bertajuk Journey of Excellence. Tidak sendiri, mereka datang bersama keluarga.
Acara yang dihadiri jajaran direksi dan komisaris PTPN IV itu dirancang bukan sekadar seremoni. Selain pemberian penghargaan, peserta mengikuti sesi penguatan kompetensi yang difasilitasi bersama PT LPP Agro Nusantara serta kegiatan kebersamaan keluarga.
Direktur Utama PTPN IV Jatmiko K. Santosa, menegaskan posisi strategis para pemanen dalam rantai produksi perusahaan perkebunan sawit tersebut.
“Rekan-rekan pemanen adalah garda terdepan yang memegang kendali atas nadi perusahaan ini. Kami ingin memastikan semangat dan kesejahteraan mereka menjadi prioritas,” ujar Jatmiko di hadapan peserta dan keluarga.
Menurut dia, perusahaan menargetkan para penerima penghargaan dapat menjadi contoh di unit masing-masing. Mereka diharapkan menularkan disiplin, kepatuhan terhadap standar operasional, serta etos kerja yang kuat untuk mendukung target operasional 2026.
Kompetisi Ketat dari Seluruh Regional
Direktur SDM dan TI PTPN IV Suhendri menjelaskan, 32 nama yang diundang ke Yogyakarta merupakan hasil kompetisi berlapis dari seluruh kebun yang ada di regional. Penilaian dilakukan berdasarkan produktivitas, kedisiplinan, kepatuhan, serta sikap kerja.
“Mereka adalah representasi terbaik dari tiap wilayah. Ini pertama kalinya pemanen terbaik dari bentangan operasional seluas ini dipertemukan dalam satu forum,” kata Suhendri.
Di sela acara, Warham Tanjung, pemanen dari Kebun Sei Garo, Regional III, Riau, mengaku tidak menyangka bisa berdiri di panggung menerima penghargaan di hadapan keluarga.
“Bagi kami, kebun itu sumber kehidupan. Sudah seperti milik sendiri. Jadi memang harus dijaga dengan sepenuh hati,” ujarnya kepada media.
Sementara pemanen lain dari tanah Borneo, Bohari Rahman dari Regional V menyebut pengalaman tersebut sebagai penyemangat baru. “Saya ingin semangat ini menular ke teman-teman di kebun,” sebutnya.
Sementara itu, Harwoko dari Kebun Tanjung Lebar, Regional IV Jambi, tampak beberapa kali menggenggam tangan anaknya selama acara berlangsung. “Ini kebanggaan luar biasa bagi keluarga kami,” tuturnya.
Investasi Sumber Daya Manusia
Pelibatan keluarga menjadi ciri khas program ini. Pada sesi makan siang bersama, sejumlah direksi dan komisaris tampak berbincang santai dengan istri dan anak para pemanen. Suasana cair, jauh dari kesan formal.
Manajemen menilai dukungan keluarga berperan besar dalam menjaga konsistensi kinerja pekerja lapangan. Karena itu, penghargaan dirancang menyentuh tidak hanya aspek profesional, tetapi juga emosional.
Bagi perusahaan, Journey of Excellence diproyeksikan sebagai investasi jangka panjang dalam penguatan budaya kerja. Ketika para pemanen kembali ke kebun masing-masing, mereka diharapkan membawa standar baru yang dapat direplikasi di unit lain.
Menutup acara, Jatmiko kembali menegaskan komitmen perusahaan menjadikan penghargaan bagi pemanen terbaik sebagai agenda berkelanjutan. “Ini bukan akhir, melainkan awal dari tradisi yang ingin kami bangun,” ujarnya.
Dari Yogyakarta, pesan itu terasa jelas: di balik angka-angka produksi sawit, ada kerja nyata para pemanen yang kini mendapat ruang apresiasi lebih luas. (Mbis/MK)











Comment