by

Mahasiswa Manajemen UNU Kalbar Belajar Memimpin dan Berbicara

Pontianak, Media Kalbar

Ada mahasiswa yang rajin menghafal teori, tetapi ketika diminta berbicara di depan orang banyak, mendadak suara hilang entah ikut KKN ke mana. Ada pula yang nilai akademiknya tinggi, tetapi ketika harus memimpin rapat, jangankan mengatur orang lain, mengatur napas sendiri pun masih perlu latihan.

Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat (UNU Kalbar) mencoba menjawab persoalan itu dengan cara yang lebih nyata.

Kamis, 24 September 2026, mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi UNU Kalbar mengikuti pelatihan public speaking dan pengembangan jiwa kepemimpinan organisasi. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, serta keterampilan mahasiswa dalam berorganisasi.

Suasananya bukan sekadar duduk manis, mencatat materi, lalu pulang membawa sertifikat. Mahasiswa mendapatkan kesempatan belajar melalui praktik langsung: berani berbicara di depan publik, menyampaikan gagasan, berkomunikasi dengan peserta lain, sekaligus belajar memahami kepemimpinan dalam organisasi.

Di sinilah pendidikan mulai terasa masuk akal. Sebab dunia kerja tidak pernah bertanya, “Berapa halaman teori yang sudah kamu hafal?” Dunia kerja justru sering bertanya, “Bisa menjelaskan gagasanmu? Bisa bekerja sama? Bisa mengambil keputusan? Bisa memimpin ketika situasi sedang tidak nyaman?”

Kalau jawabannya masih, “Sebentar, Pak, saya baca catatan dulu,” berarti kuliah belum selesai bekerja.

Pelatihan ini menjadi bagian dari perubahan proses pembelajaran di Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi UNU Kalbar. Memasuki semester ganjil 2026, pembelajaran mulai diarahkan pada Outcome-Based Education (OBE). Artinya, mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga dituntut menunjukkan kemampuan melalui pengalaman dan proyek yang memberikan dampak.

Konsep “Belajar Berdampak” menjadi menarik karena mahasiswa tidak hanya belajar dari buku dan ruang kelas. Mereka diajak masuk ke pengalaman nyata yang berkaitan dengan kompetensi yang harus dimiliki lulusan.

Buku tetap penting. Teori tetap wajib. Dosen tetap diperlukan. Tetapi kalau semua berhenti di kepala, ilmunya bisa jadi seperti koleksi buku yang tidak pernah dibuka.

Bagi mahasiswa Manajemen, public speaking bukan sekadar kemampuan tampil percaya diri. Ia berkaitan langsung dengan kemampuan komunikasi seorang manajer. Begitu pula kepemimpinan bukan sekadar titel “ketua”, melainkan kemampuan mengarahkan individu dan kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

Karena itu, pengalaman seperti ini bukan pelengkap perkuliahan. Ia merupakan bagian dari proses membentuk manusia yang siap masuk dunia profesional.

Dunia kerja membutuhkan orang yang mampu berkomunikasi, bekerja sama, mengambil peran, memimpin, sekaligus beradaptasi. Ijazah membuka pintu, tetapi kompetensi menentukan apakah seseorang mampu berjalan lebih jauh.

Inilah wajah pendidikan yang patut dibanggakan: teori tidak dibuang, tetapi dibawa turun ke lapangan. Dari ruang kelas menuju praktik nyata. Dari teori menuju pengalaman. Dari pengalaman menuju keterampilan. Dari keterampilan menuju pembelajaran yang berdampak.

Kalau mahasiswa hari ini berani berdiri, berbicara, memimpin, dan belajar dari pengalaman, boleh jadi suatu hari mereka bukan lagi sekadar pencari kerja. Mereka bisa menjadi orang yang menciptakan perubahan. Kalau itu berhasil, kampus tidak hanya mencetak sarjana. Kampus sedang mencetak manusia yang siap menghadapi dunia. (*/Amad)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed