Oleh: Mustafa*
Setiap kali Agustus tiba, denyut kebangsaan kembali terasa di nadi negeri. Merah Putih berkibar di depan rumah, instansi pemerintah dan swasta, membentang di sepanjang jalan hingga menjangkau pelosok tanah air. Di Istana Kepresidenan, upacara kenegaraan menghadirkan Paskibraka, putra-putri terbaik dari setiap provinsi di Indonesia. Di halaman kantor gubernur, wali kota, dan bupati, detik-detik Proklamasi diperingati dengan khidmat. Dari riuh kota hingga hening pedesaan, Merah Putih seolah menenun kembali ingatan kolektif tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan untuk apa kemerdekaan diperjuangkan.
Kibaran bendera bukan semata-mata kain yang menari ditiup angin, tetapi seakan menjadi tangan sejarah yang melambaikan salam kepada mereka yang dahulu hidup dalam bayang-bayang penjajahan. Pada setiap kibarnya tersimpan bisikan sejarah bahwa kemerdekaan tidak lahir dari ruang yang hening, melainkan dari air mata, keringat, darah, doa, dan keberanian. Lagu-lagu perjuangan mengalun, lembar-lembar sejarah kembali dibuka dalam ingatan, sementara kata “kemerdekaan” tumbuh menjadi kesadaran untuk menjaga apa yang telah direbut dengan pengorbanan segenap jiwa.
Namun, kemerdekaan bukan hanya tanggal yang kembali hadir setiap tahun. Ia bukan hanya upacara, bendera, perlombaan, pertandingan olahraga, atau permainan rakyat. Semua itu adalah cara kita merawat ingatan dan merayakan kebersamaan. Lebih jauh dari itu, kemerdekaan adalah amanah yang harus terus dihidupkan maknanya. Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, pertanyaan kita bukan hanya bagaimana menjaga Indonesia tetap merdeka, tetapi bagaimana membuat cahaya kemerdekaan benar-benar terasa dalam kehidupan setiap anak bangsa.
Keindonesiaan bukan hanya nama sebuah negeri atau identitas yang tertulis dalam dokumen. Ia adalah kesadaran bahwa tanah yang kita pijak merupakan rumah besar bersama, yang fondasinya diletakkan oleh pengorbanan para pendahulu dan diwariskan kepada kita untuk dijaga serta diteruskan kepada generasi mendatang. Karena itu, mencintai Indonesia tidak cukup dengan mengibarkan bendera. Merah Putih harus menemukan denyutnya dalam cara kita bekerja, belajar, memperlakukan sesama, menjaga alam, dan memikul tanggung jawab atas masa depan. Bendera yang berkibar di tiang harus menemukan pantulannya dalam perilaku manusia di bumi.
Sesungguhnya, kemerdekaan memiliki makna jauh lebih luas daripada terbebas dari penjajahan. Ia adalah perjalanan panjang membangun bangsa yang berdaya, mandiri, berdaulat, dan adil. Bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang telah melepaskan belenggu penjajahan, tetapi juga bangsa yang berani membebaskan dirinya dari kebodohan, kemiskinan, ketergantungan, dan ketidakadilan. Kedaulatan pun tidak hanya berkaitan dengan politik dan wilayah, tetapi menyentuh pangan, energi, ekonomi, teknologi, serta pengelolaan sumber daya alam. Kekayaan bumi harus menjelma menjadi kesejahteraan yang dapat dirasakan rakyat.
Namun, kemerdekaan tidak akan benar-benar utuh tanpa keadilan. Setiap anak bangsa berhak menemukan pintu kesempatan untuk memperoleh pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, dan ruang mengembangkan potensi. Ketika seseorang diberi kesempatan untuk tumbuh, sesungguhnya bangsa ini sedang menumbuhkan akar kekuatan bagi masa depannya. Keadilan bukan hanya tentang membagi hasil, tetapi juga membuka jalan agar setiap orang memiliki kesempatan untuk ikut menanam dan memanen harapan. Di situlah kemerdekaan menemukan wajahnya yang paling manusiawi: ketika tidak ada yang dibiarkan berjalan sendirian di pinggir pembangunan.
Dari Merah Putih, kita menenun keindonesiaan sehelai demi sehelai. Benang merahnya adalah keberanian, benang putihnya adalah ketulusan. Keduanya bertemu dalam pendidikan, kerja, persaudaraan, keadilan, dan pengabdian. Dari tangan-tangan anak bangsa itulah tenunan Indonesia terus disempurnakan agar tidak mudah koyak oleh perbedaan, kepentingan, maupun tantangan zaman. Kemerdekaan bukan hanya dikenang sebagai sejarah, tetapi benar-benar dirasakan sebagai kehidupan. Sebab, Merah Putih tidak hanya membutuhkan tiang untuk berkibar. Ia membutuhkan manusia yang menjadikannya nilai, semangat, dan jalan hidup. Wallahu’alam.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81
*Penulis adalah Sekretaris DPD FKOB Kota Pontianak











Comment