“Pemprov Harus Evaluasi Total Program Pencegahan Karhutla, Jangan Tunggu Musim Hujan Baru Sibuk”
PONTIANAK, Media Kalbar – Menyikapi dampak kebakaran hutan di musim kemarau tahun ini yang menyebabkan kabut asap di mana-mana, Relawan Lasarus (RELLA) Peduli turun langsung membagikan masker kepada pengguna jalan.

Kegiatan ini dilakukan di beberapa titik di Kota Pontianak, di antaranya Simpang Lampu Merah Jalan Ahmad Yani atau Simpang Kantor Pajak, Simpang Jalan Ampera, dan Simpang Hotel Garuda Pontianak.
“Kegiatan ini dilakukan di beberapa titik di kota Pontianak. Kali ini kegiatan sosial kita berupa membagikan masker bagi masyarakat terdampak kabut asap. Adapun masker yang kita bagikan sebanyak 200 boks atau sebanyak 10.000 buah masker,” kata Ketua Umum RELLA Kalbar, Iin Irwansyah, Senin (18/8/2026).

Kritik Tegas: Program Pencegahan Karhutla Tidak Signifikan
Iin yang juga terjun langsung membagikan masker menyampaikan keprihatinan karena bencana kabut asap sudah sering terjadi, bahkan hampir setiap tahun. Namun penanganan dan pencegahan dini masih belum terlihat hasil yang signifikan.
“Bahkan setiap tahun seperti nya kabut asap akibat kebakaran hutan semakin menjadi. Disini kita melihat bahwa segala bentuk program pencegahan apalagi pengendalian kebakaran hutan yang dibuat oleh pemerintah provinsi tidak membuahkan hasil yang signifikan, hal ini bisa kita lihat dari kejadian yang selalu berulang,” tuturnya.
Ia menilai Pemerintah Provinsi harus mengevaluasi semua program dalam hal pencegahan kebakaran hutan serta dampak akibatnya.
“Jangan hanya begitu bencana seperti ini timbul kembali, kita mulai sibuk kembali mencari solusinya. Namun apabila hujan sudah turun, dan api sudah padam serta asap sudah hilang, seakan masalah juga ikut hilang. Dan akan menjadi pembahasan lagi di tahun depan apabila kejadian serupa kembali datang,” ujarnya.

Siklus Tahunan yang Membuat Lelah
Iin menyoroti siklus berulang yang dialami warga Kalbar: saat karhutla terjadi, semua marah, panik, saling menyalahkan. Tapi saat hujan turun dan api padam, masalah dilupakan hingga terulang tahun berikutnya.
“Seharusnya bencana yang terjadi, dan data yang tercatat tidak hanya berhenti sebatas angka-angka saja. Angka-angka tersebut harus dijadikan bahan pemetaan serta analisis mendalam dan digunakan dalam pengambilan keputusan serta kebijakan sebelum semua terlambat,” tegasnya.
Ia juga menyayangkan lambannya respon Pemerintah Provinsi.
“Hingga hari ini kita melihat lambannya penanganan, pemerintah provinsi seakan diam, tidak bersuara. Akankah menunggu seluruh masyarakat terserang penyakit serta ISPA? Atau karena menganggap kejadian ini biasa setiap tahun dan akan hilang sendiri saat musim penghujan tiba?”
“Jika Alasannya Efisiensi Anggaran, Lebih Baik Mundur”
Iin bahkan menyebut jika alasan tidak adanya tindakan adalah efisiensi anggaran, maka sebaiknya berhenti saja menjadi pemerintah.
“Jika itu yang akan dikeluarkan dalam pernyataannya terkait kebakaran hutan ya berhenti dan mundur saja menjadi pemerintah. Saya yakin rakyat biasa juga bisa memimpin jika memang alasannya anggaran,” katanya keras.
Ia juga menyoroti bahwa saat kampanye tidak ada program yang digaungkan untuk menjaga kebakaran hutan, dan sepertinya Pemprov belum memiliki sistem EWS – Early Warning System sebagai bentuk pencegahan awal. (Amad)











Comment