Benar-benar tegang. Sampai koptagul dua gelas habis. Super keren, Timnas futsal kita, menghancurkan Jepang di laga semifinal Piala Asia Futsal 2026. Lolos ke final, dan mengukir sejarah besar. Duh, senangnya. Simak narasinya sambil seruput Koptagul lagi, wak!
Sejarah itu kadang lahir bukan dari ruang rapat ber-AC, tapi dari lapangan futsal yang panas, licin oleh keringat, dan penuh teriakan orang-orang yang jantungnya nyaris copot dari badan. Timnas menulis dongeng yang bahkan dukun statistik pun tak berani ramalkan. Jepang, raja Asia futsal dengan sabuk hitam tujuh dan aura samurai, dibantai 5–3. Tiket final AFC 2026 digenggam. Negeri yang sehari-hari dijejali kabar korupsi akhirnya punya pelipurlara. Murah, tapi mujarab.
Sejak peluit awal, laga ini terasa seperti duel jurus silat. Pendekar Nusantara masuk gelanggang dengan kuda-kuda Pencak. Sementara Jepang datang membawa karate warisan Gunung Fuji. Menit ke-2, Israr sudah melempar tendangan pembuka, meski masih melenceng. Balasan datang cepat dari Yamanaka di menit ke-3, nyaris bikin jantung nasional berhenti berdetak. Ahmad Habiebie lalu muncul seperti pendekar yang tepat waktu, memblok serangan di menit ke-4. Menit ke-5, Yogi Saputra tumbang, ditandu keluar, dan satu stadion mendadak hening seperti orang kehilangan dompet.
Jepang tak main-main. Menit ke-9, tendangan jarak jauh mereka menghantam tiang gawang Indonesia. Bunyi “dug” itu terdengar sampai ke kampung-kampung, bikin kopi yang belum diseruput jadi dingin. Peluang emas datang di menit ke-10 lewat Syauqi Saud, tapi belum rezeki. Baru menit ke-11, jurus pamungkas dilepas. Kiper Jepang gagal mengamankan bola, Samuel Eko menyambarnya dengan tenang, gol. Dunia seperti diguncang. Di rumah-rumah, teriakan pecah, mamang bakso yang lewat sampai kaget dan salah ngasih kembalian.
Babak pertama ditutup 1–0 untuk para pesilat Nusantara yang besar dengan sambal belacan, sementara samurai biru tampak mengunyah kekalahan sambil membayangkan sushi yang pahit. Di ruang ganti, Hector Souto memberi jampi-jampi ala Spanyol, menanamkan mental baja. Ini bukan lagi semifinal, ini panggung sejarah.
Babak kedua dimulai, tensi naik ke level drama kolosal. Serangan demi serangan dilepas. Gol bunuh diri Motoishi membuat stadion seperti kapal pecah. Nazil Purnama berdiri bak benteng terakhir, menepis serangan Jepang dengan refleks dewa. Jepang akhirnya menyamakan, emosi penonton diaduk seperti kopi sachet tanpa sendok. Indonesia bangkit lagi, Firman Adriansyah mencetak gol, stadion melonjak. Disamakan lagi, napas serasa dipinjamkan tetangga.
Perpanjangan waktu jadi arena hidup-mati. Reza Gunawan melepaskan tendangan yang terasa seperti jurus “Harimau Menyambar Fuji”, gol 4–3. Jepang menggempur habis-habisan, bahkan kiper ikut naik. Tapi Dewa Rizki menutup semua drama dengan gol kelima. 5–3. Tamat. Samurai roboh, pendekar berdiri tegak.
Peluit akhir berbunyi, dan Indonesia lolos ke final. Di tengah negeri yang sering bikin malu oleh ulah tikus berdasi, timnas futsal datang sebagai pengingat, kita masih bisa bangga. Di final sudah menunggu Iran, tapi malam itu, biarlah kita menikmati dulu detik-detik ketika jantung hampir copot, lalu kembali terpasang dengan satu kata, sejarah. Bravo, Timnas.
(Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar)








Comment