by

Singa Podium Itu Telah Berpulang, Alfatehah untuk KH Syukron Makmun

Nama KH Syukron Makmun sudah saya kenal saat lama di Jakarta dulu. Terkenal keras dan lantang kalau ceramah. Ternyata, beliau telah berpulang. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Minggu, 18 Oktober 2026. Langit Jakarta seakan runtuh. Mendung menggantung, udara terasa berat, dan kabar itu menghantam hati seperti petir membelah kesunyian. KH Syukron Makmun, sang Singa Podium, telah pergi untuk selamanya. Usianya 84 tahun. Di Rumah Sakit Pondok Indah, napas terakhirnya terembus. Jantung selama puluhan tahun membakar semangat umat akhirnya berhenti berdetak.

Ya Allah, mengapa begitu cepat?

Lelaki yang suaranya pernah menggetarkan ribuan manusia itu kini membisu. Mulut dahulu lantang menyuarakan kebenaran telah tertutup. Dada dahulu bergemuruh di atas mimbar kini tak lagi bergerak. Sang singa telah tumbang, bukan karena kalah dalam pertarungan, melainkan karena takdir memanggilnya pulang. Kita hanya bisa menangis.

Lahir di Sampang, Madura, 21 Desember 1941, KH Syukron Makmun tumbuh dalam keluarga santri. Ia menempuh perjalanan panjang menuntut ilmu, dari Pesantren Sidogiri hingga Pondok Modern Darussalam Gontor, kemudian berguru kepada para ulama di Jakarta. Hidupnya bukan perjalanan mengejar kemewahan, melainkan pengabdian tanpa henti kepada ilmu dan umat.

Pada 1975, ia mendirikan Pondok Pesantren Daarul Rahman di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Dari tanah itu, ia menanam benih peradaban. Kini, lebih dari 250 pesantren berdiri di berbagai daerah, didirikan oleh para alumninya.

Dengarlah, cak! Dua ratus lima puluh pesantren! Subhanallah, kita dirikan satu saja susah.

Itulah monumen tak terbuat dari marmer, bukan pula bangunan bisa dihancurkan oleh waktu. Ia dibangun dari ilmu, doa, air mata, dan pengorbanan. Tubuh sang kiai boleh kembali menjadi tanah, tetapi benih ditanamnya telah tumbuh menjadi hutan ilmu menaungi ribuan manusia.

Pada masa Orde Baru, ketika banyak orang memilih menundukkan kepala, ia justru berdiri tegak. Dari atas mimbar, suaranya menggelegar, menembus ketakutan, mengguncang kesadaran. Ia menjadi corong bagi umat tak leluasa berbicara. Karena keberaniannya itulah ia dijuluki Singa Podium.

Kini, mimbar itu kehilangan rajanya. Sampeyan bayangkan seorang santri selama puluhan tahun mendengar nasihat gurunya. Panjenengan bayangkan jamaah yang dahulu berdesakan menyimak ceramahnya. Hari ini, mereka datang bukan untuk mendengarkan petuah, melainkan untuk mengantarkan kepulangannya. Tak ada lagi suara bisa mereka tunggu. Tak ada lagi kesempatan mencium tangan dan meminta doa.

Yang tersisa hanyalah kenangan. Kenangan, terkadang, justru menjadi pisau paling tajam mengiris hati.

Ribuan pelayat memadati Masjid Daarul Rahman. Ulama, habaib, pejabat, santri, dan masyarakat berkumpul dalam duka. Pemakaman dilakukan secara terbatas karena banyaknya orang hadir. Betapa pilunya! Semasa hidupnya ia begitu dekat dengan umat, dan ketika wafat, umat datang berbondong-bondong, seolah tak rela melepasnya pergi.

Ia telah berwasiat agar dimakamkan di lingkungan pesantren yang didirikannya. Kini, tanah Daarul Rahman memeluk tubuh yang dahulu tak pernah lelah mengabdi.

Selamat jalan, Kiai. Putramu, KH Faiz Syukron Makmun, para santri, dan ribuan muridmu akan meneruskan perjalanan yang kau tinggalkan. Namun, tak seorang pun bisa menggantikan persis dirimu.

Hari ini, kami kehilangan seorang ulama. Kehilangan seorang guru. Kehilangan suara yang pernah membuat keberanian tumbuh di tengah ketakutan.

Singa Podium telah pulang. Mimbar-mimbar masih berdiri. Pesantren-pesantren masih hidup. Tetapi aumanmu tak akan terdengar lagi.

Ya Allah, terimalah hamba-Mu. Lapangkan kuburnya, terangilah tempat peristirahatannya, dan tempatkanlah ia di sisi-Mu dalam rahmat terbaik. Al-Fatihah. (*)

Penulis: Rosadi Jamani

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed