Oleh: Mustafa*
Malam pergantian tahun 2025 menuju 2026 telah berakhir. Sebagian orang menyebutnya tahun istimewa. Angka genap lagi, susunan terlihat rapi, mudah diingat. Ada yang menganggapnya “cantik”, ada pula yang menjadikannya alasan untuk bersuka ria. Entah apa makna “cantik” itu? Apakah enak dilihat, atau alasan untuk merayakan?
Antusiasme menyambut tahun baru selalu sama. Uang dikeluarkan, waktu dihabiskan, demi satu malam yang katanya “berbeda”. Padahal, sering kali tak jelas apanya yang benar-benar baru. Yang penting senang, katanya. Happy, seru, dan selesai.
Lalu muncul pertanyaan sederhana: apanya yang baru dari tahun yang kita sebut baru itu?
Jika perubahan angka dari 2025 menjadi 2026 disebut baru, bukankah angka 2026 sudah lama ada dalam hukum bilangan? Bukankah setelah 25 pasti 26? Dalam kebenaran keilmuan, angka tidak pernah benar-benar “lahir”. Ia hanya bergeser dalam urutan. Maka, hakikatnya, tidak ada yang sungguh baru.
Pertanyaan ini mungkin terdengar iseng. Namun justru dari keisengan berpikir itulah kita diajak lebih jujur. Agar tidak terjebak pada euforia angka, lalu lupa pada makna.
Dalam filsafat waktu, hakikat waktu hanya tiga: masa lalu, masa kini, dan masa depan. Namun jika diperas lebih dalam, waktu sejatinya hanya satu: sekarang. Masa lalu telah tiada, masa depan belum ada. Yang benar-benar kita miliki hanyalah detik ini.
Ada anekdot sederhana:
“Beli sekarang, besok gratis.”
Saat besok tiba, orang menagih: “Kemarin saya beli, sekarang minta gratis.”
Jawabannya: “Sekarang bayar, besok gratis.”
Karena yang ada selalu sekarang. Kemarin dan besok hanyalah konsep.
Maka, berbicara tentang tahun baru, sejatinya tidak ada yang baru. Jika mau jujur, setiap hari adalah hari baru. Setiap pagi adalah kesempatan yang tidak pernah sama dengan kemarin. Maka aneh jika pembaruan hidup justru ditunda menunggu pergantian angka tahunan.
Resolusi diri pun demikian. Mengapa harus menunggu tahun berganti untuk berubah? Mengapa tidak harian, mingguan, bahkan detikan? Orang-orang sufi justru mengukur kesadaran dalam hitungan saat bukan tahun.
Begitu pula ulang tahun. Hakikatnya bukan pada bertambahnya usia, melainkan pada keberadaan. Dalam tasawuf, sebagaimana diajarkan Syekh Ibnu ‘Athaillah dalam Al-Hikam, nikmat terbesar manusia adalah ijâd (keberadaan). Karena dengan keberadaan itulah manusia dapat menjadi saksi atas kebesaran Tuhan. Tanpanya, tidak ada kesaksian.
Maka, memasuki tahun 2026, yang patut direnungkan bukanlah pesta atau perayaan, tetapi pertanyaan sunyi:
Apa peran kita selama ini?
Sejauh mana keberadaan kita memberi manfaat?
Apakah kehadiran kita meringankan, atau justru memberatkan orang lain?
Nabi Muhammad Saw mengingatkan: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Sungguh menyedihkan bila hidup hanya numpang lewat. Lebih menyedihkan lagi bila sekadar numpang, namun malah merepotkan. Kita tidak menciptakan bumi, udara, air, atau waktu namun bahkan untuk bersyukur pun enggan.
Bill Gates pernah berkata tajam:
“Kerugian terbesar manusia adalah lahir bodoh dan miskin, lalu mati dalam keadaan yang sama.”
Bukan soal harta, melainkan soal pertumbuhan makna dan kontribusi.
Maka, ketika angka 2025 bergeser menjadi 2026, pertanyaannya bukan lagi: akan ke mana kita merayakan?
Tetapi: akan menjadi apa kita dengan keberadaan yang masih diberi Tuhan?
Jika kesadaran ini hadir, mungkin kita tak lagi tergesa membakar uang di satu malam, melainkan mulai menyalakan cahaya makna dalam setiap hari. Karena sesungguhnya, yang benar-benar baru bukanlah tahun melainkan kesadaran kita hari ini. Wallahu a’lam. (*)
*Penulis adalah guru MAN 2 Pontianak.











Comment