Oleh: Eka Hendry Ar.*
Teori ini lahir dari satu pengamatan panjang terhadap prilaku para pria yang sudah berkeluarga, terkait dengan pengalaman eksistensial. Pengamatan ini berdasarkan pengamatan secara random terhadap kebiasaan prilaku para pria yang sudah berkeluarga. Sangat mungkin juga terjadi pada pria yang belum berkeluarga, dengan beberapa catatan barangkali. Fenomena 3 “K” ini terkait dengan relasi antara pola hidup dan circle pergaulan (life style), kepentingan (interest) dan makna kehidupan (meaning of life). 3 “K” adalah akronim dari kebebasan (freedom), kesenangan (pleasure) dan kebahagian (happiness).
Diclaimer dulu sebelum terlalu serius. Tulisan ini meskipun menggunakan istilah teori, jangan dikira tulisan ilmiah dan akademik, ini hanya “candaan” saja, hasil kontemplasi penulis di warung kopi. Jika nanti dianggap ada benarnya, ya alhamdulillah, ambil hikmahnya. Namun jika keliru, silakan diabaikan saja. Kalau mau dikritik dan menjadi kajian serius juga tidak apa-apa. Yang jelas, ini hanya hasil pengamatan dan kontemplasi penulis saja, yang tidak terlalu memperhatikan kaedah-kaedah ilmiah, meskipun direnungkan secara serius dan mendalam. Heeee
Setiap pria berkeluarga pasti membutuhkan ketiganya, kebebasan, kesenangan dan kebahagiaan. Pertama, kebebasan. Setiap pria yang sudah menikah sudah dapat dipastikan mereka banyak kehilangan kebebasan. Kebebasan tersebut hilang, karena ada berbagai tuntutan atau kewajiban yang melekat dipundaknya, yang harus dipikul secara bertanggung jawab. Setelah menikah, setelah memiliki putra putri, seorang pria tidak lagi bisa pergi sesukanya, belanja sesukanya, atau bahkan menentukan berbagai pilihan. Mereka harus mempertimbangkan berbagai aspek, meminta pertimbangan istri dan anak-anak, tergantung seberapa besar atau seberapa serius keputusan yang akan dibuat. Saat bujangan, mereka bisa saja keluyuran satu hari penuh, bahkan tidak pulang ke rumah. Mereka bebas mau membeli segala sesuatu yang mereka inginkan. Bisa berangkat kapan saja, dan bebas berapa lama. Namun, setelah menikah, semuanya menjadi serba terbatas. Karena, mereka harus lebih banyak berpikir, lebih beremphati dan lebih bertanggung jawab.
Namun demikian, mereka tidak kehilangan cara untuk mengekspresikan kebebasan mereka, walaupun kebebasan dalam artian yang terbatas. Salah satunya adalah kebiasaan “ngumpul bareng teman”, ngopi bareng atau menjalankan hobby bareng. Ngopi bareng, ngumpul dan menjalankan hobby bareng (entah itu olah raga, musik, atau bisnis) menjadi media untuk menyalurkan ekspresi kebebasan. Mengapa demikian, karena dalam circle-circle tersebutlah mereka dapat bicara apapun, termasuk hal-hal yang sensitif, nakal dan privasi. Prihal yang tidak mungkin mereka bicarakan terbuka di depan anak istri, di meeting kantor, atau di tempat-tempat kerja formal.
Para pria biasanya akan bicara tentang banyak hal, tentang politik, ekonomi, isu mutakhir, tentang memori masa-masa sekolah, tentang sang mantan, tentang lawan jenis dan mengkhayal hal-hal kocak sambil tertawa terbahak-bahak. Maka, biasanya circle seperti ini lebih bersifat homogen dan tingkat intesitas kedekatannya sangat akrab. Kata akrab itu mengandung makna eksklusif dan tertutup, seperti istilah Inggris, close friend (teman akrab), teman yang tertutup atau terbatas. Biasanya semua anggota circle itu pria semua. Jika ada perempuan, maka pembicaraan menjadi lebih terbatas, karena menghormati perempuan.
Canda dan tawa terjadi secara natural, lepas dan tanpa malu-malu. Ketika itu, hormon seperti dopamine, endorphin, serotonin dan oksitosi dilepaskan, sehingga memberikan rasa senang, semangat, euphoria, suasanan hati lebih gembira dan ikatan cinta dan sosial menjadi lebih kuat. Dengan demikian, mereka dapat melepaskan kepenatan, tekanan dan berbagai beban kehidupan. Heee. Pada saat demikianlah, para pria menemukan kebebasan mereka. Oleh karenanya, para istri harus maklum dan jangan “terlalu” membatasi atau melarang para suami untuk berkumpul dengan teman-temannya, sepanjang circle yang dibangun tidak toksit dan tidak mendatangkan mudharat terhadap tanggung jawab mereka. Karena dengan cara itulah, membuat para suami lebih sehat dan insyallah panjang umur.
Kedua, kesenangan (pleasure). Para pria berkeluarga juga membutuhkan kesenangan, sebagai bentuk ekspresi untuk mengendalikan kejenuhan dan potensi stress, akibat tekanan tanggung jawab pekerjaan dan kebutuhan rumah tangga. Namun biasanya, ekspresi kesenangan ini ada kalanya positif namun ada kalanya negatif. Kalau positif, kesenangan akan dicapai dengan mengerjakan sesuatu yang terkait dengan hobby, seperti olah raga (futsal, tenis, bulu tangkis dll), memancing, melukis, bertukang, memodif kendaraan, berkebun, “mengolah-ngolah”, main on line game dll. Tujuannya, adalah untuk mendapatkan kesenangan diri. Mereka bisa melakukan hobby dan kesengangan ini bersama keluarga, bersama teman atau boleh jadi juga sendiri.
Namun ada juga kesenangan (pleasure) dalam konteks yang negatif, dimana mereka mencari kesenangan pada dunia hiburan maupun selingkuh (love affairs). Kesenangan seperti ini bisanya lebih bersifat tertutup, seseorang melakukan secara personal dan tidak akan diumbar kepada orang lain. Mereka cenderung akan menutupi hal tersebut, karena dinilai aib. Maka ada adagium, “kesenangan dicari dan dinikmati sendiri”. Tapi saya yakin, tidak terjadi pada mereka yang membaca tulisan ini, ini terjadi di sono, kata para Ustads biasanya saat ceramah di mimbar. Heeeee
Ketiga, kebahagiaan (happiness). Kebahagiaan adalah mutiara yang paling dicari oleh para pria yang berkeluarga. Rata-rata mereka sudah menemukan kebahagiaan tersebut, yang tidak lain adalah dalam keluarganya sendiri. Mereka bahagia berkumpul dengan istri, anak-anak, makan bersama, liburan bersama, ibadah bersama maupun olah raga bersama. Mereka menemukan kebahagiaan sejati itu di rumah. Makanya, suasana rumah akan selalu dirindukan oleh para pria sejati. Kebahagiaan sejati tidak selalu diukur dengan materi, tidak selalu berbunga-bunga, atau kondisi yang serba ideal. Akan tetapi melalui dinamika pasang surut kehidupan seperti sedih dan gembira, sehat dan sakit, masa lapang dan masa sulit adalah jalan-jalan mereka menemukan kebahagiaan yang tidak ternilai.
Oleh karenanya, para pria sejati tahu dimana letak kunci kebahagian hakiki mereka. Mereka hanya akan mencari kebebasan yang terbatas dalam circle pergaulannya mereka, dan mencari kesenangan sementara di luar. Namun, pada akhirnya mereka akan kembali kepada kebahagian sejati mereka di rumah (dalam pelukan keluarga). Meskipun mereka tidak bicara, seperti iklan yang banyak di media sosial, “pria tidak bicara, tapi mereka merasakan”. So sweet
Jadi nasehat kepada para istri, jika suami anda adalah pria sejati, maka anda jangan takut kehilangan, selagi mereka tahu dimana letak kunci kebahagiannya. Kalau mereka sering ngopi atau ngumpul bareng, dan main bareng dengan teman-temannya, jangan terlalu dikhawatiri, karena mereka hanya menyalurkan kehendak untuk mengekpresikan kebebasan dan kesenangannya yang sudah sangat terbatas. Sepanjang tidak menjadi relasi yang toksit, jangan terlalu khawatir. Namun, jika sudah mengarah kepada toksit, cepat-cepat diajak bicara. Kalau tidak mempan di rukyah saja. Heeeee (*)
*Dosen IAIN Pontianak, pengamat warung kopi.











Comment