by

1 Muharram Momentum Syukur dan Muhasabah Diri

Oleh: Mustafa*

Pernahkah kita sejenak berhenti di tengah kesibukan hidup, lalu bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana perjalanan kita menuju Allah? Berapa banyak nikmat yang telah kita terima tanpa pernah benar-benar kita syukuri? Dan berapa banyak waktu yang telah berlalu tanpa meninggalkan jejak amal yang berarti?

Tahun demi tahun datang dan pergi. Kalender terus berganti. Usia bertambah tanpa bisa ditunda. Rambut mulai memutih, tenaga perlahan berkurang, sementara kesempatan hidup yang Allah berikan semakin mendekati batas akhirnya. Di tengah kenyataan itulah, kehadiran 1 Muharram sebagai Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam penanggalan Hijriah. Ia adalah panggilan untuk merenung, bersyukur, dan memperbaiki arah perjalanan hidup.

Muharram mengingatkan kita pada peristiwa besar hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan menuju keadaan yang lebih baik. Hijrah adalah perubahan dari kegelapan menuju cahaya, dari kelemahan menuju kekuatan, dari kemaksiatan menuju ketaatan.

Karena itu, menyambut Tahun Baru Islam sejatinya adalah menyambut kesempatan baru yang Allah berikan kepada kita. Kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, mempererat hubungan dengan sesama, dan yang tidak kalah penting, memperkuat rasa syukur kepada Allah SWT.

Syukur merupakan salah satu kunci kebahagiaan hidup. Orang yang bersyukur tidak hanya melihat apa yang belum dimiliki, tetapi juga menyadari begitu banyak nikmat yang telah Allah anugerahkan. Nafas yang masih berhembus, kesehatan yang masih dirasakan, keluarga yang menemani, pekerjaan yang dijalani, hingga kesempatan untuk beribadah, semuanya adalah karunia yang sering kali luput dari perhatian.

Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'” (QS. Ibrahim: 7).

Ayat ini mengajarkan bahwa syukur bukan hanya bentuk pengakuan atas nikmat, tetapi juga jalan untuk memperoleh keberkahan yang lebih besar. Sebaliknya, kelalaian dalam bersyukur dapat membuat manusia kehilangan makna dari nikmat yang dimilikinya.

Tahun Baru Islam hendaknya menjadi momentum untuk menghitung bukan hanya apa yang telah kita capai, tetapi juga apa yang telah Allah berikan. Terlalu sering manusia sibuk menghitung kekurangan hingga lupa mensyukuri kelebihan. Terlalu sering kita membandingkan diri dengan mereka yang berada di atas kita, sehingga lupa melihat begitu banyak orang yang masih berjuang untuk memperoleh apa yang telah kita nikmati hari ini.

Rasa syukur yang sejati akan melahirkan kerendahan hati. Orang yang bersyukur tidak mudah sombong ketika berhasil dan tidak mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan. Ia memahami bahwa setiap keberhasilan adalah karunia Allah, sedangkan setiap ujian adalah sarana pembelajaran dan pendewasaan.

Namun, syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan. Syukur harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Syukur atas ilmu diwujudkan dengan mengamalkan dan menyebarkannya. Syukur atas harta diwujudkan dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Syukur atas kesehatan diwujudkan dengan memperbanyak ibadah dan amal kebajikan. Syukur atas waktu diwujudkan dengan menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat.

Di sinilah pentingnya muhasabah diri. Syukur dan muhasabah adalah dua hal yang saling melengkapi. Muhasabah membuat kita menyadari kekurangan yang perlu diperbaiki, sementara syukur membuat kita menyadari nikmat yang perlu dijaga. Muhasabah tanpa syukur dapat melahirkan pesimisme, sedangkan syukur tanpa muhasabah dapat menimbulkan rasa puas diri.

Oleh karena itu, ketika memasuki 1 Muharram 1448 Hijriah, mari kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan tahun lalu? Apakah ibadah kita semakin meningkat? Apakah kepedulian sosial kita semakin kuat? Apakah akhlak kita semakin mencerminkan nilai-nilai Islam?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk menyalahkan diri, melainkan untuk membangun kesadaran bahwa kehidupan ini adalah perjalanan yang harus terus diperbaiki. Setiap pergantian tahun merupakan pengingat bahwa waktu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Di tengah berbagai tantangan kehidupan modern, derasnya arus informasi, persaingan ekonomi, dan berbagai persoalan sosial, semangat hijrah yang diwariskan Rasulullah tetap relevan untuk dijadikan pedoman. Hijrah hari ini adalah berpindah dari sikap lalai menuju kesadaran, dari budaya mengeluh menuju budaya bersyukur, dari sikap individualistis menuju kepedulian sosial, serta dari sekadar menjadi penonton menuju pelaku kebaikan.

Akhirnya, Tahun Baru Islam bukanlah semata-mata perayaan seremonial. Ia adalah momentum spiritual untuk memperbarui tekad, memperkuat iman, dan memperbanyak syukur. Sebab sesungguhnya orang yang paling beruntung bukanlah mereka yang bertambah usianya, melainkan mereka yang bertambah syukur, bertambah amalnya, dan bertambah kedekatannya kepada Allah SWT.

Selamat menyambut 1 Muharram 1448 Hijriah. Semoga tahun yang baru ini menjadi awal bagi hijrah yang lebih baik, kehidupan yang lebih bermakna, dan hati yang semakin dipenuhi rasa syukur kepada Allah Rabbul ‘Alamin.
Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

*Penulis adalah Praktisi Pendidikan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed