by

Sekolah Minus Belajar

Oleh: Mustafa*

Siapakah guru terbaik dalam hidup seseorang? Apakah mereka yang mengajar di sekolah-sekolah terbaik, memiliki gelar tertinggi, dan membimbing murid-murid pilihan? Jika demikian, kisah Ekalaya dalam epos Mahabharata menjadi sulit dijelaskan.

Banyak orang mengenal Arjuna sebagai pemanah terbaik dalam Mahabharata. Namun, epos itu juga mencatat nama Ekalaya, seorang anak dari suku pedalaman yang berasal dari kasta Sudra. Ia bukan pangeran, bukan bangsawan, dan tidak memiliki akses ke lingkungan pendidikan elite Kerajaan Hastinapura. Ketika ia datang menemui Begawan Dorna, mahaguru seni perang yang mendidik para pangeran Kurawa dan Pandawa, permohonannya untuk menjadi murid ditolak.

Bagi sebagian orang, penolakan itu mungkin menjadi akhir dari sebuah cita-cita. Namun, bagi Ekalaya, penolakan justru menjadi awal dari perjalanan belajarnya. Ia pulang, membuat patung Dorna, lalu berlatih memanah dengan ketekunan luar biasa selama bertahun-tahun. Ia membayangkan sang mahaguru selalu mengawasi dan membimbingnya. Dari latihan yang dilakukan tanpa henti itu, lahirlah kemampuan memanah yang bahkan membuat Arjuna terkejut dan mengakuinya sebagai pemanah yang sangat hebat.

Kisah Ekalaya mengajarkan satu hal penting: belajar tidak selalu bergantung pada diterima atau tidaknya seseorang di sebuah lembaga pendidikan. Sekolah dapat membuka jalan bagi pembelajaran, tetapi kemauan untuk belajar lah yang sesungguhnya menentukan sejauh mana seseorang berkembang.

Di tahun 2013, Lant Pritchett dan Rukmini Banerji menerbitkan laporan Schooling Is Not Education! Using Assessment to Change the Politics of Non-Learning. Dalam laporan tersebut, mereka mengingatkan bahwa selama ini banyak negara berkembang terlalu fokus pada upaya membawa anak-anak masuk ke sekolah. Menurut Banerji dan Pritchett, peningkatan angka partisipasi sekolah tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan hasil belajar siswa. Dari sisi angka, berbagai negara memang menunjukkan kemajuan. Akan tetapi, kemajuan itu tidak selalu diikuti oleh kemampuan membaca, berhitung, dan memahami pelajaran yang semestinya dikuasai peserta didik.

Banyak anak hadir di sekolah setiap hari, tetapi tidak benar-benar belajar. Mereka naik kelas, memperoleh ijazah, bahkan menyelesaikan pendidikan dasar, tetapi masih kesulitan memahami bacaan sederhana atau melakukan perhitungan dasar. Dalam situasi seperti ini, sekolah telah berjalan, tetapi pembelajaran tidak selalu terjadi.

Fenomena tersebut tidak hanya ditemukan di berbagai negara berkembang, tetapi juga menjadi tantangan yang terus mengemuka dalam dunia pendidikan modern. Kita sering kali terjebak pada ukuran-ukuran administratif pendidikan: angka partisipasi sekolah, tingkat kelulusan, akreditasi lembaga, atau banyaknya sertifikat yang dimiliki peserta didik. Semua itu memang penting, tetapi belum tentu mencerminkan kualitas pembelajaran yang sesungguhnya.

Karena itu, perhatian kita perlu bergeser dari schooling menuju learning. Sekolah tetap penting, tetapi keberhasilan pendidikan tidak dapat diukur hanya dari jumlah gedung sekolah, angka partisipasi, atau banyaknya murid yang terdaftar. Ukuran yang lebih penting adalah apakah anak-anak benar-benar memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan berpikir yang membuat mereka berkembang sebagai manusia.

Di sinilah kisah Ekalaya menemukan relevansinya. Ia mengingatkan bahwa inti pendidikan bukanlah bangunan sekolah, seragam, atau status kelembagaan. Inti pendidikan adalah tumbuhnya rasa ingin tahu, kesungguhan untuk belajar, dan ketekunan untuk terus berlatih.

Tentu saja, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas. Banyak sekolah unggulan yang hanya dapat dijangkau oleh kelompok tertentu. Biaya, lokasi, maupun berbagai persyaratan sering kali menjadi penghalang bagi anak-anak yang berasal dari keluarga sederhana. Dalam konteks ini, kisah Dorna dan Ekalaya dapat dibaca sebagai refleksi tentang bagaimana akses terhadap pendidikan terkadang masih dipengaruhi oleh status sosial dan ekonomi.

Namun, kisah Ekalaya tidak mengajak kita meremehkan sekolah. Sebaliknya, kisah tersebut mengingatkan bahwa sekolah akan kehilangan maknanya apabila tidak mampu menumbuhkan budaya belajar. Gedung yang megah, kurikulum yang lengkap, dan fasilitas yang modern tidak akan banyak berarti jika peserta didik hanya menghafal tanpa memahami, hadir tanpa terlibat, atau lulus tanpa memperoleh kecakapan yang dibutuhkan dalam kehidupan.

Di era digital saat ini, pelajaran Ekalaya semakin relevan. Pengetahuan tidak lagi tersimpan hanya di ruang-ruang kelas. Buku, jurnal, kursus daring, perpustakaan digital, dan berbagai sumber belajar terbuka memungkinkan siapa saja untuk terus mengembangkan diri. Yang sering menjadi pembeda bukan lagi akses terhadap informasi, melainkan kemauan untuk belajar secara konsisten.

Karena itu, saat berbicara tentang pendidikan, kita tidak boleh berhenti pada pertanyaan berapa banyak anak yang bersekolah. Kita juga harus bertanya: apakah mereka benar-benar belajar? Apakah sekolah telah menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang semestinya menjadi ukuran utama keberhasilan pendidikan.

Sesungguhnya, sekolah hanyalah sarana, bukan tujuan akhir. Belajar adalah proses yang menghidupkan akal, membentuk karakter, dan memerdekakan manusia dari kebodohan. Gedung sekolah dapat membatasi siapa yang masuk dan siapa yang tertinggal di luar gerbangnya. Akan tetapi, semangat belajar tidak mengenal tembok, status sosial, maupun latar belakang keluarga. Dan seperti yang ditunjukkan Ekalaya berabad-abad lalu, ketika kemauan belajar tetap menyala, seseorang dapat menemukan jalan menuju pengetahuan bahkan dari luar gerbang sekolah. (*)

*Penulis adalah Sekretaris DPD FKOB Kota Pontianak.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed