by

Agustinus Pergi Menghadap Prabowo, Noven Honarius: Panglima Jilah Bukan Panglima Seluruh Suku Dayak

JAKARTA, Media Kalbar

Beredarnya foto dokumentasi pertemuan Agustinus Panglima Jilah dengan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada 28 Agustus 2026 di Jakarta, menuai beragam tanggapan dari berbagai kalangan masyarakat, termasuk tokoh pemuda Dayak Kalimantan Barat, Noven Honarius.

Dalam keterangannya, Noven Honarius menyampaikan kekecewaannya terhadap adanya klaim yang menyebut Agustinus Panglima Jilah sebagai Panglima Dayak se-Tanah Kalimantan. Menurut Noven, dalam tradisi dan struktur sosial masyarakat Dayak, tidak dikenal adanya satu panglima tertinggi yang membawahi seluruh suku Dayak di Kalimantan.

“Dayak memiliki keberagaman sub-suku, wilayah adat, serta organisasi yang berbeda-beda. Setiap pasukan atau kelompok memiliki panglimanya masing-masing. Karena itu, tidak tepat apabila ada pihak yang mengklaim atau menggambarkan seseorang sebagai panglima seluruh masyarakat Dayak,” ujar Noven.

Ia menegaskan bahwa keberadaan para panglima di berbagai wilayah Dayak memiliki kedudukan dan peran yang sama dalam komunitasnya masing-masing. Oleh sebab itu, Noven meminta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya untuk memberikan klarifikasi terkait maksud dan konteks unggahan yang beredar tersebut agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Menurut Noven, klarifikasi diperlukan karena penyebutan tersebut berpotensi menimbulkan kesan bahwa panglima-panglima Dayak lainnya tidak memiliki posisi dan peran yang setara.

“Semua panglima memiliki kehormatan dan kedudukan yang harus dihormati. Jangan sampai ada narasi yang justru menimbulkan kesan merendahkan atau mengabaikan keberadaan panglima-panglima lain yang selama ini juga berjuang dan berperan di wilayahnya masing-masing,” katanya.

Noven juga menyoroti penggunaan istilah “Pasukan Merah” yang menurutnya tidak hanya merujuk kepada organisasi Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR). Ia menyebut terdapat berbagai kelompok dan pasukan Dayak lainnya yang juga menggunakan identitas warna merah dalam simbol maupun atribut organisasinya.

Karena itu, Noven menegaskan bahwa Agustinus Panglima Jilah merupakan Panglima Pasukan Merah TBBR dan tidak mewakili seluruh pasukan maupun organisasi Dayak yang ada di Kalimantan.

Sebagai penutup, Noven berharap seluruh pihak dapat lebih berhati-hati dalam menggunakan istilah maupun gelar yang berkaitan dengan adat dan organisasi masyarakat Dayak. Ia menilai penghormatan terhadap keberagaman struktur kepemimpinan adat merupakan bagian penting dalam menjaga persatuan serta keharmonisan antarkomponen masyarakat Dayak di Kalimantan. (*/Amad)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed