Sambas, Media Kalbar – Gelombang penyalahgunaan narkoba di Kalimantan Barat kian menggila. Mirisnya, di tengah anggaran negara yang besar untuk pemberantasan, justru lembaga swasta seperti Yayasan Geretak Kabupaten Sambas yang bergerak aktif menyelamatkan korban.
Ketua Yayasan Geretak, Ryan Setiawan,
membeberkan bahwa pihaknya telah menangani sebanyak 1.280 klien dari seluruh penjuru Kalbar. Ia menegaskan, tren penyalahgunaan narkoba menunjukkan peningkatan tajam pada tahun 2024 hingga 2025, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.
“Tahun 2023 sempat menurun, tapi kini kasus naik lagi. Bahkan anak-anak semakin banyak jadi korban,” ungkap Ryan saat diwawancarai, Kamis (7/8).
Lebih lanjut, ia menyebut kelompok usia remaja dan dewasa adalah yang paling rentan terjerumus ke dalam jerat narkotika. Namun, ironisnya, menurut Ryan, instansi pemerintah yang memiliki anggaran besar justru terjebak dalam pola kerja yang tidak efektif.
“Kebanyakan instansi hanya sibuk dengan kegiatan seremonial. SDM-nya pun banyak yang tidak kompeten. Anggaran habis, tapi dampaknya nol ke masyarakat,” tegasnya.
Ryan juga menyinggung soal koordinasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN). Meski seharusnya menjadi mitra utama, Yayasan Geretak justru lebih sering bergerak sendiri.
“BNN hanya memberi pelatihan dan kadang mengirim klien ke kami. Tapi dalam penanganan langsung, kami tidak mendapat bantuan,” tuturnya.
Kondisi ini diperparah dengan tidaknya ada kegiatan P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba) yang digelar pemerintah tahun ini. Ryan menyayangkan minimnya dukungan terhadap rehabilitasi dan pencegahan, padahal korban terus bertambah.
“Kami menyentuh langsung masyarakat yang butuh pertolongan. Sayangnya, tahun ini tidak ada satupun kegiatan P4GN yang didukung pemerintah. Kami tetap jalan, pakai apa yang kami punya,” pungkasnya.
Fenomena ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah dan aparat penegak hukum. Ketika lembaga negara sibuk dengan agenda formalitas, lapangan justru dikuasai oleh yayasan kecil yang bertahan dengan sumber daya terbatas.
Jika negara tak segera mengevaluasi strategi pemberantasan narkoba, bukan tidak mungkin Kalbar akan menjadi zona merah baru bagi peredaran narkotika dengan anak-anak sebagai korban utamanya. (Rai)











Comment