SAMBAS, Media Kalbar – Wacana pembentukan Daerah Pemilihan (Dapil) III DPR RI Kalimantan Barat yang mencakup Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, dan Kota Singkawang mendapat dukungan bersyarat dari kalangan mahasiswa.
Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Sambas (Presma Poltesa), Deca Endy Rey, menilai pembentukan Dapil Singbebas bukan sekadar urusan membelah wilayah pemilihan menjelang Pemilu 2029. Gagasan tersebut menyangkut seberapa kuat suara masyarakat perbatasan dapat diperjuangkan di tingkat nasional.
Menurut Deca, cakupan dapil yang terlalu luas berpotensi membuat persoalan masyarakat Sambas dan kawasan perbatasan tenggelam di antara banyaknya kepentingan wilayah lain.
“Aspirasi dari daerah seperti Sambas sangat mungkin kehabisan napas sebelum benar-benar sampai dan diperjuangkan di Senayan,” kata Deca dalam pernyataan sikapnya.
Ia menjelaskan Sambas, Bengkayang, dan Singkawang memiliki karakteristik serta persoalan pembangunan yang saling berkaitan. Wilayah ini berhadapan dengan ketimpangan infrastruktur dan konektivitas, keterbatasan layanan pendidikan dan kesehatan di sejumlah kecamatan, hingga persoalan pekerja migran serta perdagangan lintas batas.
Karena itu, penguatan representasi politik kawasan perbatasan dinilai penting. Namun, mahasiswa tidak ingin pemekaran dapil hanya berhenti pada penambahan kursi politik tanpa menghasilkan perubahan bagi masyarakat.
Deca mempertanyakan apakah pembentukan dapil baru benar-benar mampu mempercepat penyelesaian persoalan di Teluk Keramat, Paloh, Sajingan Besar, dan wilayah lainnya, atau sekadar menambah jumlah wakil rakyat tanpa mengubah kehidupan rakyat yang diwakili.
“Pemekaran dapil bukan sekadar menggambar ulang garis di peta atau menambah kursi kekuasaan. Harus ada dampak nyata terhadap pelayanan publik,” ujarnya.
Jangan Jadi Ruang Rapat Para Elite
Deca menegaskan pembahasan Dapil Singbebas harus dilakukan secara terbuka dan tidak boleh hanya menjadi percakapan di antara elite partai politik maupun pejabat daerah.
Mahasiswa, akademisi, tokoh adat, organisasi masyarakat sipil, dan kelompok masyarakat perbatasan harus dilibatkan sejak tahap penyusunan kajian. Mereka tidak seharusnya hanya diminta memberikan dukungan setelah keputusan hampir selesai dibuat.
Usulan tersebut juga harus didukung kajian akademik yang terukur, mulai dari proyeksi jumlah pemilih, kesetaraan nilai suara, proporsionalitas representasi antarwilayah, kebutuhan anggaran pemilu, hingga pemenuhan ketentuan dalam Undang-Undang Pemilu.
“Jangan sampai semangat baik ini kandas karena tidak memenuhi persyaratan konstitusional,” katanya.
Selain kajian kepemiluan, Deca meminta gagasan Dapil Singbebas dibarengi komitmen pembangunan kawasan perbatasan. Kehadiran wakil rakyat yang lebih dekat secara wilayah harus dapat diterjemahkan menjadi pembangunan jalan dan jembatan, pemerataan jaringan internet, peningkatan fasilitas pendidikan, serta kemudahan memperoleh pelayanan kesehatan.
Menurutnya, penambahan representasi politik tidak akan berarti apabila masyarakat tetap menghadapi jalan rusak, kesulitan jaringan internet, dan keterbatasan pelayanan dasar.
Waspadai “Pasar Politik” Baru
Di balik dukungan tersebut, Deca mengingatkan adanya risiko pembentukan dapil baru justru melahirkan “pasar politik” baru. Dalam situasi itu, masyarakat hanya diperlakukan sebagai angka dalam daftar pemilih yang diperebutkan menjelang pemilu.
“Kami tidak ingin wacana yang lahir dari niat memperkuat suara perbatasan justru berakhir memperkuat segelintir elite politik lokal,” tegasnya.
Ia juga meminta seluruh pihak menghitung konsekuensi biaya dari perubahan struktur daerah pemilihan secara terbuka. Anggaran penyelenggaraan pemilu tidak boleh membesar tanpa manfaat yang sebanding bagi penguatan demokrasi dan kepentingan masyarakat.
BEM Politeknik Negeri Sambas, lanjut Deca, siap menjadi mitra kritis dalam mengawal pembahasan Dapil Singbebas melalui diskusi publik, kajian akademik, serta forum-forum kampus.
Mahasiswa tidak menempatkan diri sebagai penolak gagasan tersebut. Namun, mereka juga tidak bersedia memberikan dukungan seperti cek kosong kepada elite politik.
Bagi Deca, ukuran keberhasilan Dapil Singbebas bukan terletak pada bertambahnya jumlah calon yang berlomba menuju Senayan, melainkan pada seberapa banyak persoalan masyarakat perbatasan yang benar-benar dapat dibawa, diperjuangkan, dan diselesaikan.
“Jika prosesnya berjalan tanpa transparansi dan kajian yang memadai, BEM Politeknik Negeri Sambas berhak dan wajib bersuara kritis,” pungkasnya.(rai)






Comment