by

Dosen Politeknik Negeri Sambas Latih Guru Perbatasan Manfaatkan Generative AI untuk Inovasi Pembelajaran

SAMBAS, Media Kalbar

Di tengah keterbatasan akses teknologi di wilayah perbatasan, semangat peningkatan mutu pendidikan justru menyala. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi D3 Manajemen Informatika Politeknik Negeri Sambas (Poltesa) menggelar pelatihan bertajuk “Peningkatan Kompetensi Guru Wilayah Perbatasan melalui Pelatihan Generative AI untuk Inovasi Pembelajaran di SMKN 1 Sejangkung“. Kegiatan berlangsung pada Kamis, 30 Juli 2026, pukul 08.30–15.00 WIB, bertempat di SMKN 1 Sejangkung, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat — kawasan yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Kegiatan ini diketuai oleh Muhammad Usman, S.T., M.Kom., dengan anggota tim sekaligus narasumber Fathushahib, M.Kom., dan Fiqih Akbari, S.Kom., M.Kom. Untuk mencapai lokasi, tim menempuh perjalanan menembus jalan-jalan pedesaan yang dikelilingi kebun karet — potret nyata dedikasi pengabdian di garis depan negeri. Meski demikian, antusiasme peserta membayar tuntas perjuangan tersebut: puluhan guru SMKN 1 Sejangkung hadir memenuhi ruang kelas, masing-masing membawa laptop untuk mengikuti pelatihan secara langsung dan praktik.

Ketua pelaksana, Muhammad Usman, S.T., M.Kom., menyampaikan bahwa pelatihan ini lahir dari kebutuhan nyata para guru di daerah perbatasan untuk beradaptasi dengan perkembangan kecerdasan buatan. “Generative AI bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan menjadi alat bantu yang memperkaya cara mengajar dan meringankan beban administratif. Harapan kami, guru-guru di perbatasan tidak tertinggal dan justru mampu memanfaatkan teknologi ini untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif,” ujarnya.

Menurut tim, gagasan kegiatan berangkat dari kesenjangan digital yang masih dirasakan sekolah-sekolah di kawasan terdepan. Sementara pemanfaatan kecerdasan buatan berkembang pesat di kota-kota besar, banyak guru di perbatasan belum memperoleh kesempatan mengenal alat-alat tersebut secara terpandu. Melalui pelatihan ini, tim ingin memastikan transformasi digital pendidikan tidak berhenti di pusat, melainkan menjangkau hingga ruang-ruang kelas paling ujung. Pendekatan yang dipilih pun sengaja dibuat sederhana, aplikatif, dan langsung menyentuh pekerjaan sehari-hari guru, agar mudah dipahami peserta yang sebagian besar baru pertama kali menggunakan AI generatif.

Pelatihan dirancang dalam tiga sesi yang saling melengkapi. Sesi pertama, dibawakan oleh Fathushahib, M.Kom., mengupas pemanfaatan Claude untuk penyusunan dokumen kerja dan riset akademik — mulai dari menyusun draf modul ajar, membuat variasi soal beserta kunci, hingga merangkum referensi. Sesi kedua, dipandu Fiqih Akbari, S.Kom., M.Kom., memperkenalkan Google Gemini dan NotebookLM untuk mendukung produktivitas kerja harian guru sekaligus menekankan penggunaan AI secara aman dan bertanggung jawab. Sesi ketiga, disampaikan Muhammad Usman, S.T., M.Kom., membahas pemanfaatan ChatGPT untuk produktivitas dan pembuatan konten visual, termasuk teknik menyusun perintah (prompt) yang efektif agar hasil AI sesuai kebutuhan.

Yang membedakan pelatihan ini, seluruh materi tidak hanya disampaikan secara teori, tetapi dipraktikkan langsung oleh peserta menggunakan laptop masing-masing. Para guru diajak mencoba sendiri membuat perangkat pembelajaran, merangkum materi, hingga menghasilkan media ajar visual dengan bantuan AI.

Suasana kelas tampak hidup, peserta yang mayoritas merupakan guru produktif dan adaptif terlihat antusias mengikuti setiap langkah demonstrasi narasumber. Sejumlah guru mengaku terkejut sekaligus senang mendapati banyak pekerjaan yang selama ini memakan waktu — seperti menyusun kisi-kisi soal atau merangkai materi ajar — kini dapat diselesaikan lebih cepat. “Ternyata teknologinya tidak serumit yang dibayangkan. Ini sangat membantu kami menyiapkan bahan ajar,” ungkap salah seorang peserta di sela kegiatan.

Tim narasumber pun menekankan bahwa peran guru tetap sentral, AI hanya membantu memulai, sementara sentuhan akhir, penilaian, dan keputusan tetap berada di tangan pendidik.

Untuk mengukur efektivitas kegiatan, panitia menerapkan pre-test dan post-test melalui Google Form. Pengukuran ini bertujuan memotret peningkatan pemahaman peserta sebelum dan sesudah pelatihan secara objektif. Selain aspek keterampilan teknis, tim juga menegaskan pentingnya etika penggunaan AI: memverifikasi setiap keluaran (output) dari kemungkinan kesalahan atau “halusinasi”, menjaga kerahasiaan data pribadi peserta didik, serta tidak menjadikan AI sebagai satu-satunya pengambil keputusan. Pesan ini menjadi benang merah di sepanjang kegiatan — bahwa teknologi harus meningkatkan, bukan menggantikan, peran pendidik.

Pihak SMKN 1 Sejangkung menyambut baik kegiatan ini. Sekolah menilai pelatihan sangat relevan dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21, terlebih bagi sekolah kejuruan yang menuntut kecakapan digital. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah kejuruan seperti ini diharapkan mampu mempercepat pemerataan literasi digital hingga ke wilayah terdepan. Sebagai penutup, para narasumber menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pihak sekolah atas partisipasi dan kerja sama yang terjalin.

Muhammad Usman menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dharma pengabdian kepada masyarakat, yang dikoordinasikan dan diDanai oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPPM) Politeknik Negeri Sambas. “Kami berharap pelatihan ini bukan kegiatan sekali jalan. Ke depan, kami ingin melakukan pendampingan berkelanjutan agar keterampilan yang diperoleh benar-benar diterapkan di kelas dan berdampak pada kualitas pembelajaran,” tuturnya.

Di akhir kegiatan, seluruh peserta menerima sertifikat sebagai bentuk pengakuan atas partisipasi mereka. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama yang penuh keakraban. Melalui pelatihan ini, Politeknik Negeri Sambas berharap dapat terus menjadi mitra strategis bagi sekolah-sekolah di wilayah perbatasan dalam menghadirkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi — memastikan bahwa kemajuan kecerdasan buatan turut dirasakan hingga ke ujung negeri, dan bahwa guru-guru di garis depan tetap menjadi pembelajar sepanjang hayat. (*/Mk)

*Kontributor: Tim PKM D3 Manajemen Informatika, Politeknik Negeri Sambas.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed