Jakarta, Media Kalbar – Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui Subholding PTPN IV PalmCo tetap menjalankan program pencegahan stunting saat bencana hidrologi dan banjir melanda sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera. Penyaluran intervensi gizi serta pendampingan keluarga berisiko stunting terus dilakukan bersamaan dengan penanganan dampak bencana, sebagai bagian dari konsistensi perusahaan dalam mendukung agenda nasional penurunan stunting.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan bahwa keberlanjutan program pencegahan stunting menjadi prinsip yang dijaga perusahaan, termasuk dalam kondisi krisis. Menurutnya, situasi bencana justru memperbesar risiko gangguan pemenuhan gizi anak dan ibu, sehingga program pendampingan tidak boleh terhenti.
“Ketika bencana terjadi, kelompok yang paling rentan adalah anak-anak dan keluarga. Karena itu, sejak awal kami memutuskan bahwa program pencegahan stunting harus tetap berjalan, seiring dengan penanganan dampak banjir,” ujar Jatmiko.
Ia menjelaskan, hingga sepanjang 2024 dan 2025, PalmCo telah menyalurkan dukungan pencegahan stunting dengan total nilai mencapai Rp7,95 miliar. Dukungan tersebut diwujudkan melalui intervensi gizi, bantuan sosial, penyediaan sarana sanitasi dan air bersih, penguatan fasilitas kesehatan, edukasi kesehatan keluarga, serta pendampingan berkelanjutan melalui Program Bapak Asuh Stunting.
“Program ini kami jalankan secara bertahap dan terukur. Pada 2024, PalmCo menyalurkan bantuan senilai Rp4,88 miliar, kemudian dilanjutkan pada 2025 dengan nilai Rp3,07 miliar hingga November. Intervensi gizi menyasar ribuan anak, sementara bantuan pendukung lainnya diarahkan kepada keluarga berisiko stunting agar dampaknya lebih menyeluruh,” kata Jatmiko.
Menurutnya, pendekatan tersebut dilakukan agar upaya pencegahan stunting tidak bersifat sesaat, melainkan memberi perubahan nyata bagi keluarga penerima manfaat. Ia menekankan bahwa keberlanjutan menjadi kunci utama keberhasilan program.
“Pencegahan stunting bukan pekerjaan jangka pendek. Dampaknya tidak bisa dilihat dalam hitungan bulan, tetapi sangat menentukan kualitas sumber daya manusia ke depan. Karena itu, kami memandang ini sebagai investasi sosial jangka panjang yang harus dijaga konsistensinya,” ujarnya.
Jatmiko juga menyebutkan bahwa PalmCo berupaya menyelaraskan seluruh program pencegahan stunting dengan kebijakan pemerintah, khususnya melalui Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING).
“Melalui Program GENTING, peran dunia usaha menjadi lebih terarah. Kami tidak berjalan sendiri, tetapi berada dalam satu kerangka besar bersama pemerintah, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan lainnya,” kata Jatmiko.
Atas konsistensi tersebut, pemerintah memberikan apresiasi kepada PTPN IV PalmCo sebagai mitra BUMN dalam Program GENTING. PalmCo dianugerahi Predikat Gold pada ajang GENTING Collaboration Summit 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga melalui BKKBN di Luwansa Hotel, Jakarta Selatan, pada Rabu, 10 Desember 2025.
Menutup pernyataannya, Jatmiko menegaskan bahwa penghargaan tersebut menjadi pengingat agar PalmCo terus menjaga komitmen sosialnya. “Bagi kami, apresiasi ini bukan tujuan akhir. Ini menjadi pengingat bahwa konsistensi dan keberlanjutan adalah hal yang paling penting. PalmCo akan terus menjalankan peran sebagai mitra pemerintah dalam pencegahan stunting, termasuk ketika masyarakat menghadapi situasi sulit seperti bencana,” ujar Jatmiko.
GENTING Collaboration Summit 2025 digelar sebagai bentuk penghargaan kepada para mitra kerja pentahelix yang selama satu tahun terakhir berperan sebagai Orang Tua Asuh bagi keluarga berisiko stunting di berbagai daerah. Sinergi lintas sektor tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam percepatan penurunan stunting secara nasional.
Pemerintah sendiri menegaskan pentingnya konsistensi dan kolaborasi lintas sektor dalam penanganan stunting. Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menyebut bahwa penurunan stunting membutuhkan kerja bersama yang berkelanjutan. “Penurunan stunting tidak dapat instan. Dibutuhkan kerja bersama tanpa henti,” ujar Wihaji.
Ia menekankan bahwa setiap Keluarga Risiko Stunting harus terus mendapatkan pendampingan dan intervensi yang tepat, serta dukungan dari berbagai pihak. Menurut Wihaji, Program GENTING menjadi ruang kolaborasi yang memungkinkan keterlibatan aktif pemerintah, dunia usaha, BUMN, akademisi, lembaga masyarakat, dan media. “Upaya ini tidak bisa dilakukan sendirian. Keterlibatan semua pihak sangat diperlukan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh sehat dan berdaya,” katanya. (Mbis/MK)









Comment