Oleh: M Dimitri Chernomyrdin
Jika Anda melintas di sekitar Bundaran Besar, Jalan Yos Sudarso, atau kawasan dan sekitarnya pada sore hari dan Minggu pagi, ada satu pemandangan yang tak bisa dilewatkan para pelari dengan penampilannya yang sporty. Kota Palangkaraya sedang mengalami fenomena pelari yang begitu masif, bergeser dari sekadar hobi individu menjadi gerakan sosial yang menguasai di setiap ruang-ruang publik Kota Cantik.
Maraknya tren lari di Palangkaraya tentu memberikan dampak positif yang nyata. Lari adalah olahraga paling inklusif murah, mudah dilakukan, dan tidak membutuhkan fasilitas rumit. Di tengah kekhawatiran meningkatnya gaya hidup sedentary (kurang bergerak), antusiasme warga untuk berkeringat bersama ini patut diacungi jempol. Aktivitas ini tidak hanya menyehatkan fisik, tetapi juga menghidupkan ruang publik, memicu geliat UMKM lokal, serta mempererat interaksi sosial antarwarga.
Maraknya tren ini makin dibuktikan dengan terdapatnya berbagai agenda event lari di Kota Palangkaraya. Di bulan Agustus 2026 ini aja ada 3 (Tiga) event lari yang melibatkan banyak Pelari Kota Palangka Raya dan sekitarnya, Dimulai Hari Sabtu 15 Agustus 2026, Ribuan Pelari mengikuti Tambun Bungai Run 2026 dalam rangka memperingati HUT Kodam XXII Tambun Bungai yang ke 1 dan bertepatan dengah HUT RI ke 81, dilanjutkan pada Hari Minggu 23 Agustus 2026 gelaran lari 5K yang diselenggarakan oleh pihak Luwansa Hotel bertajuk Running On Independence Day (RID) Vol. 1 Ratusan pelari memadati sepanjang jalan G.Obos dengan penuh antusiasme, membuktikan betapa tingginya minat masyarakat akan berlari
Tak berhenti di situ, deretan event lainnya sudah mengantri dalam kalender. Salah satu yang paling dinantikan dalam waktu dekat adalah agenda Trail Run di kawasan TWA Bukit Tangkiling yang diinisiasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah. Ajang lari lintas alam ini menawarkan pengalaman berbeda, memadukan tantangan fisik dengan promosi wisata alam khas Kalimantan.
Namun, di balik maraknya agenda dan semangat positif ini, ada sisi lain yang menarik untuk diamati yaitu fenomena FOMO (Fear of Missing Out) dan budaya gaya hidup. Tidak sedikit orang yang terjun ke bidang ini bukan murni karena komitmen kesehatan, melainkan terdorong tren media sosial. Olahraga yang sejatinya sederhana ini perlahan bergeser menjadi ajang pamer tentang merek sepatu termahal, atribut outfit modis, pamer catatan waktu, hingga berburu medali demi konten story Instagram.
Pergeseran fokus ini berisiko membuat aktivitas lari berumur pendek. Ketika olahraga dilakukan semata-mata demi tren, konsistensi biasanya akan memudar seiring munculnya tren baru. Selain itu, bagi pelari pemula yang terburu-buru mengejar jarak atau langsung terjun ke rute berat seperti trail run tanpa edukasi yang cukup, risiko cedera menjadi sangat tinggi.
Banyaknya event dan maraknya pelari di Palangkaraya adalah modal sosial yang sangat berharga bagi kesadaran kesehatan masyarakat. Tugas kita sekarang khususnya para penggiat dan komunitas lari adalah mengarahkan euforia ini menjadi kebiasaan hidup sehat jangka
panjang (sustainable lifestyle). Biarkan sepatu lari itu jebol karena konsistensi berlatih setiap minggu, bukan sekadar dipajang di media sosial lalu disimpan di lemari saat trennya meredup. (*)
*Penulis adalah Pelajar di Palangkaraya








Comment