by

Hebat, Indonesia dan Malaysia Berani Blokir Produk Amerika

Oleh: Rosadi Jamani *

Siapa bilang Indonesia negara penakut. Komdigi di bawah Meutya Hafid berani blokir produk Amerika Serikat, tepatnya Grok Ai besutan Elon Musk. Saya suka sikap beraninya. Malaysia juga ikut blokir. Ada kawan ni. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Dalam sebuah episode yang layak difilmkan oleh Christopher Nolan dan disutradarai ulang oleh Deddy Mizwar, Indonesia dan Malaysia tampil sebagai duet maut Asia Tenggara yang menantang hegemoni teknologi global. Pada 10 Januari 2026, Indonesia menekan tombol merah, Grok AI diblokir. Malaysia menyusul keesokan harinya. Alasannya bukan karena Grok menyebarkan paham radikal atau mengancam stabilitas negara, tapi karena ia, dengan kecerdasannya yang luar biasa, dipakai untuk menciptakan deepfake bokep. Ya, teknologi mutakhir dari Silicon Valley itu ternyata lebih sering dipakai untuk membuat konten cabul ketimbang menyelamatkan umat manusia dari krisis eksistensial.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital, menyatakan pemblokiran ini sebagai bentuk perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak. Malaysia, tak mau kalah, menyebut X Corp (pemilik Grok) gagal total dalam mengendalikan konten eksplisit. Dua negara ini, yang biasanya hanya jadi pasar pasif bagi produk luar, kini tampil sebagai penjaga moral digital. Dunia terdiam. Silicon Valley bingung. Di suatu tempat di orbit rendah bumi, mungkin saja Elon Musk tertawa.

Ya, Elon Musk, manusia terkaya di kolong langit, pemilik kekayaan senilai US$726,3 miliar atau sekitar Rp11.620 triliun, mungkin sedang duduk di dalam kapsul SpaceX sambil menyeruput Koptagul antariksa, menyaksikan dua negara tropis ini mencoba menertibkan ciptaannya. Ia adalah penguasa angkasa, pemilik Tesla, SpaceX, Neuralink, dan kini Grok, AI yang katanya bisa menjawab segalanya, kecuali pertanyaan, “Kenapa kamu jadi alat produksi bokep?”

Yang menarik, Musk belum mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak ada cuitan sarkastik, tidak ada meme Doge, tidak ada sindiran terhadap “AI woke police.” Mungkin ia sedang menulis puisi tentang kebebasan digital, atau sedang sibuk menghitung berapa banyak negara lagi yang harus memblokir Grok sebelum ia peduli. Atau mungkin, dalam gaya khasnya, ia sedang menyiapkan balasan dalam bentuk roket.

Sementara itu, pengguna Grok di Indonesia dan Malaysia tidak tinggal diam. Mereka mengaktifkan VPN, menyamar sebagai warga Zurich atau Toronto, dan kembali bercengkerama dengan AI favorit mereka. Pemerintah tahu, tapi tetap bersikukuh, ini soal prinsip, bukan sekadar akses. Grok boleh pintar, tapi kalau jadi alat kriminal, ya silakan minggir dulu.

Negara-negara lain? Masih diam. Amerika Serikat? Sibuk mikirkan negara mana lagi mau diculik presidennya. Uni Eropa? Sibuk audit. Tapi Indonesia dan Malaysia sudah melangkah duluan, seperti dua pendekar digital yang menolak tunduk pada algoritma cabul. Apakah ini awal dari kebangkitan Asia Tenggara sebagai kekuatan moral digital? Ataukah hanya intermezzo dalam opera besar kapitalisme teknologi?

Yang jelas, untuk pertama kalinya, dua negara yang sering dianggap “pasar” justru tampil sebagai wasit. Grok, AI superpintar itu harus puas jadi penonton. Sementara Elon Musk, sang triliuner penguasa angkasa, mungkin sedang tertawa. Tapi siapa tahu, di balik tawanya, ada sedikit rasa kagum. Karena tidak setiap hari ada negara yang berani bilang, “Maaf, AI-mu terlalu cabul untuk kami.”
Siap, wak. Ini pesan moralnya, gaya camanewak, pendek tapi nyeletuk:

Teknologi setinggi langit tak otomatis lebih bermartabat dari manusia. Ketika AI lebih rajin melayani syahwat dari akal sehat, negara wajib turun tangan. Bukan untuk memusuhi kemajuan, tapi untuk mengingatkan, kecerdasan tanpa etika cuma mesin mahal yang salah alamat. Sesekali, berkata tidak pada raksasa global justru cara paling waras menjaga harga diri. (*/MK)

*Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed