Estadio Banorte, Mexico City, mendadak berubah seperti lokasi syuting film kiamat. Pendukung Meksiko datang membawa keyakinan setebal tembok benteng. Maklum, main di kandang sendiri. Ranking FIFA 14. Lawannya memang Inggris ranking 4 dunia, tapi siapa sangka yang pulang membawa senyum justru The Three Lions dengan kemenangan edan 3-2.
Laga baru dimulai, menit pertama Declan Rice langsung mendapat kartu kuning. Penonton belum selesai membuka bungkus kuaci, Rice sudah lebih dulu membuka koleksi kartu. Wasit Alireza Faghani asal Iran tampaknya membawa kartu lebih banyak dari pedagang kartu UNO.
Meksiko sempat mengancam. Menit ke-15 Raul Jimenez menanduk bola sekeras mantan menolak balikan. Jordan Pickford terbang seperti dikejar utang seratus tahun dan berhasil menyelamatkan gawang. Pendukung Meksiko memegang kepala berjamaah. Yang rambutnya lurus mendadak ikal.
Menit ke-36…goooooool!! Bukayo Saka mengirim umpan silang begitu manis sampai gula pasir mengajukan protes ke pengadilan. Jude Bellingham menyundul bola masuk ke gawang.
Stadion langsung pecah! Fans Inggris meloncat setinggi sinyal OTT KPK. Pendukung Inggris di Indonesia mendadak keluar rumah memakai handuk sebagai jubah kerajaan. Kentongan ronda dipukul, galon air mineral dijadikan drum, bahkan ayam tetangga ikut berkokok lima kali karena mengira sudah pagi.
Belum selesai pesta. Dua menit kemudian…goooool lagi! Harry Kane mengirim umpan, Jude Bellingham kembali menghukum Meksiko. 2-0!
Tribun Inggris berubah seperti konser rock bertemu pesta tujuh belas Agustus. Ada memeluk tiang stadion sambil menyanyikan “God Save the King” dengan irama dangdut koplo. Ada yang sujud syukur di depan televisi sampai remot ikut terlempar ke dapur.
Sementara itu…Fans Brazil yang sebelumnya baru dipulangkan Norwegia 2-1 mulai menangis darah. PMI hampir membuka loket khusus bertuliskan, “Donor Air Mata Seleção.” Ada yang memeluk foto Neymar sambil bertanya kepada kipas angin, “Kenapa hidup sekeras tendangan Haaland?”
Untung Meksiko belum menyerah. Menit ke-42 Julian Quinones mencetak gol. 2-1!
Pendukung Meksiko langsung hidup lagi. Teriakannya konon membuat para mafia narkoba sempat ingin taubat. Penjual taco ikut melompat sambil melempar topinya dua meter ke udara. “Ada harapan ni,” kata petani agape di Guadalajara.
Babak pertama selesai. Di ruang ganti, Thomas Tuchel, “Ingat, anak-anak. Dalam politik yang menang belum tentu benar. Di sepak bola, yang benar cuma golnya lebih banyak.” Sementara
Javier Aguirre dalam tausiyahnya, “Kalau babak kedua masih begini, rumput stadion saya jadikan pemain. Minimal dia tidak kehilangan bola.” Seluruh pemain mengangguk, walaupun tidak ada satu pun benar-benar mengerti.
Babak kedua dimulai dengan drama. VAR memanggil wasit. Jarell Quansah dikartu merah! Pendukung Inggris mendadak diam. Bahkan keripik di tribun ikut berhenti dikunyah.
Belum selesai panik, menit ke-58 Inggris mendapat penalti. Harry Kane maju. Seluruh stadion sunyi. Konon seekor nyamuk yang lewat memilih parkir dulu karena menghormati momen. Duar! Gol! 3-1!
Fans Inggris benar-benar kesurupan. Ada menggendong temannya seperti piala dunia, ada mencium televisi sampai layar penuh bekas lipstik. Grup WA fans Inggris Indonesia mengirim stiker lebih cepat dari kecepatan cahaya.
Drama belum selesai. VAR lagi. Penalti Meksiko. Raul Jimenez mencetak gol. 3-2!
Sisa laga semakin dramatis. Kartu kuning beterbangan ke mana-mana. Yang berdiri kena. Yang protes kena. Bahkan Jordan Henderson yang cuma duduk di bangku cadangan ikut dikartu kuning. Duduk ternyata sekarang termasuk olahraga ekstrem.
Akhirnya peluit panjang berbunyi. Inggris menang 3-2 dan melaju menghadapi Norwegia, sang pemburu raksasa yang baru saja mengirim Brazil pulang.
Sementara pendukung Inggris berpesta seperti menemukan harta karun, pendukung Meksiko pulang dengan wajah sendu. Adapun fans Brazil? Mereka masih menangis darah sambil berharap tombol “Restart Piala Dunia” benar-benar ditemukan suatu hari nanti.
“Bang, jangan lupa Koptagul, nanti lupa segalanya.”
“Untung nuan ingatkan, wak.” (*)
Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar








Comment