by

Isra’ Mi’raj dan Entanglement Kuantum

Oleh: Rosadi Jamani*

Hari ini libur nasional, Jumat pula. Waktu yang pas buat mikir agak berat tapi dengan kepala santai sambil seruput Koptagul. Saya mau membahas topik kosmik. Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa yang sejak dulu bikin orang beriman manggut-manggut, dan orang yang kebanyakan mikir malah garuk-garuk kepala.

Ceritanya sederhana tapi dampaknya luar biasa. Nabi Muhammad SAW dalam satu malam melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit sampai Sidratul Muntaha. Jaraknya? Jangan ditanya. Kalau pakai logika jalan darat, Google Maps langsung error. Kalau pakai pesawat, pilotnya minta turun jabatan. Tapi peristiwa itu terjadi, dan Nabi pulang membawa satu oleh-oleh penting, perintah salat.

Masalahnya, manusia modern itu kurang sabar. Kalau dengar cerita begini, refleks bertanya, “Secara ilmiah, mungkin nggak sih?” Lalu muncullah istilah yang terdengar keren, entanglement kuantum. Ini istilah fisika, tapi belakangan sering nongol di obrolan filsafat, podcast tengah malam, sampai grup WhatsApp keluarga.

Entanglement kuantum itu kira-kira begini. Ada dua partikel kecil banget, pernah ketemu, lalu entah kenapa setelah dipisahkan sejauh apa pun, keadaannya tetap nyambung. Yang satu diubah, yang satu lagi langsung ikut, tanpa nunggu sinyal, tanpa kabel, tanpa “paket data”. Jarak jauh bukan masalah. Fisika pun sampai bilang ini aneh. Einstein saja menyebutnya “spooky action at a distance”, aksi menyeramkan dari kejauhan

Nah, saya di kelas kuliah pernah memberikan eksprimen kecil ke mahasiswa. Dua koin. Disuruh mahasiswa muter barengan. Begitu berhenti, satu angka, satu gambar. Diputar lagi, beda lagi. Puluhan kali, tetap bertolak belakang. Lalu muncul kesan, “Loh, ini koin kayak saling tahu, ya?” Dibayangkan lagi, satu koin di Indonesia, satu di Amerika. Bahkan satu di bumi, satu di bulan. Tetap beda. Seolah-olah dua koin itu terhubung.

Di sinilah pentingnya jujur sejak awal. Itu bukan entanglement kuantum. Koin bukan partikel ajaib. Ia jatuh patuh pada hukum fisika biasa. Tapi contoh ini tetap berguna buat satu hal, menunjukkan betapa gampangnya kita mengira ada “koneksi misterius” ketika melihat pola yang berulang. Akal manusia memang hobi cari makna, kadang kebablasan.

Entanglement kuantum yang asli malah lebih ekstrem. Partikel-partikel itu bahkan belum “memutuskan” keadaannya sebelum diukur. Realitasnya menggantung. Begitu diukur, barulah jelas, dan pasangannya ikut jelas juga, walau jaraknya sejauh apa pun. Alam semesta, di level paling dalam, ternyata tidak sesederhana yang diajarkan waktu SMA.

Terus, apakah Isra’ Mi’raj bisa dijelaskan pakai entanglement kuantum? Jawabannya, tidak perlu, dan memang bukan itu wilayahnya. Isra’ Mi’raj bukan eksperimen sains, bukan trik fisika tingkat dewa, dan bukan juga teknologi langit yang kebetulan belum kita temukan. Ia adalah mukjizat. Artinya sederhana, terjadi karena Allah menghendaki, bukan karena hukum alam sedang perform.

Tapi sains tetap punya peran penting, bukan buat membuktikan Isra’ Mi’raj, melainkan buat menampar keangkuhan kita sendiri. Kalau fisika modern saja akhirnya mengaku, jarak bisa tidak relevan dan realitas bisa “nyambung” tanpa jalur jelas, maka klaim “nggak masuk akal” jadi terdengar agak sombong.

Isra’ Mi’raj justru mengajarkan sesuatu yang lebih penting dari sekadar kecepatan dan jarak. Ia mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan tidak diukur pakai kilometer atau detik. Salat yang dibawa pulang Nabi bukan hasil riset, tapi hasil perjumpaan. Bukan soal teknologi, tapi soal kepatuhan.

So, kalau mau diringkas ala warkop, entanglement kuantum itu bikin fisika bilang, “Lah, kok bisa begitu?” Isra’ Mi’raj bikin iman bilang, “Ya bisa, wong Allah yang ngatur.” Dua-duanya sama-sama mengingatkan kita pada satu hal, alam semesta ini jauh lebih rumit dari otak kita, dan tidak semua yang benar harus bisa kita jelaskan dulu.

Di Jumat libur ini, mungkin yang paling pas bukan memaksakan akal jadi hakim segalanya, tapi menaruhnya di tempat yang semestinya. Ngopi boleh, mikir boleh, bertanya juga sah. Tapi ada saatnya akal duduk, iman yang nyetir. Anehnya, justru di situ hidup terasa lebih tenang.

Selamat Memperingati Isra’ Mi’raj untuk kaum Muslimin di Indonesia. (*)

*Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed