by

Jembatan Mengkurai Nyaris Roboh, Pemkab Sintang Masih Sibuk Cari Alasan?

Sintang,  Media Kalbar

Kondisi Jembatan Mengkurai kini menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Sintang. Di saat Warga setiap hari membutuhkan akses aman untuk bekerja, sekolah, dan berobat, yang tersedia justru jembatan rusak yang tampak lebih layak disebut jebakan maut daripada Fasilitas Umum.

Dari kondisi di lapangan, bagian jembatan terlihat rapuh, berlubang, dan membahayakan pengguna jalan. Namun anehnya, kerusakan separah ini seolah tidak cukup penting untuk memicu gerak cepat Pemerintah. Entah laporan belum dibaca, atau memang tunggu ada Korban jiwa dulu dan Rakyat sudah terlalu biasa disuruh menunggu?

Setiap hari Masyarakat harus melintas dengan rasa was was. Sekali salah pijak atau roda tersangkut, kecelakaan bisa terjadi kapan saja. Sementara Pemerintah tampaknya masih nyaman dengan pola lama, yaitu bergerak setelah Viral dan gaduh.

Anggaran Ada, Hasilnya Mana?

Setiap tahun Masyarakat membayar Pajak dan Daerah memiliki Anggaran Pembangunan. Tapi jika jembatan sepenting ini dibiarkan rusak bertahun-tahun, Publik pantas bertanya: Uangnya dipakai untuk apa?

Salah satu Warga Mengkurai yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa dengan lambannya penanganan jembatan tersebut. Ia mengatakan kondisi ini bukan baru terjadi kemarin, tetapi sudah lama dikeluhkan Masyarakat.

“Kami ini tiap hari lewat sini. Mau kerja lewat sini, anak sekolah lewat sini, orang sakit juga lewat sini. Tapi sampai sekarang belum ada perbaikan serius. Apa harus tunggu ada korban dulu baru pemerintah turun tangan?” ujarnya, Selasa (28/4).

Warga itu juga menyindir Pemerintah yang dinilai sering datang saat ada kepentingan tertentu, namun lambat saat Masyarakat membutuhkan tindakan nyata.

“Kalau musim kampanye atau ada acara, jalan rusak pun bisa didatangi. Tapi kalau jembatan begini rusak parah, malah sepi perhatian. Kami cuma butuh akses aman, bukan janji,” tambahnya.

Cepat Saat Seremoni, Lambat Saat Kondisi Darurat. Kalau urusan Peresmian, Spanduk, dan Dokumentasi, biasanya pejabat hadir paling depan apalagi pada saat musim kampanye, janjinya bahkan buat Masyarakat terbuai. Tapi saat komponen jembatan copot dan keselamatan Warga terancam, yang muncul justru alasan klasik: menunggu Proses, menunggu kajian, menunggu waktu yang tepat.

Jangan Tunggu Korban Baru Sibuk

Kebiasaan paling buruk dalam Birokrasi adalah baru panik setelah ada musibah. Jika nanti ada Warga celaka karena jembatan ini, maka itu bukan sekadar kecelakaan, tetapi buah dari kelalaian yang dibiarkan.

Kalau memperbaiki jembatan saja terlalu sulit, lalu apa sebenarnya yang sedang dikerjakan? Jangan sampai Masyarakat melihat Pemerintah hanya rajin membuat agenda, tapi malas menyelesaikan masalah nyata.

Jembatan Mengkurai hari ini bukan cuma kayu yang rusak. Ia adalah monumen lambannya respon Pemerintah terhadap penderitaan Masyarakat.

Segera perbaiki sebelum kepercayaan publik runtuh lebih dulu daripada jembatannya. (Felk/MK)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed