Innalillahi wa inna ilaihi rojiun… kalimat itu hari ini bukan sekadar doa, tapi seperti palu raksasa yang menghantam dada kita berkali-kali tanpa ampun. Langit Pontianak seperti runtuh perlahan, dan tanah Kalimantan Barat seakan retak, kehilangan satu tiang penyangga yang selama ini diam-diam menahan banyak beban. Prof Dr H Thamrin Usman DEA… nama yang dulu kita sebut dengan bangga, kini kita ucapkan dengan suara gemetar, tercekat di tenggorokan, seolah setiap hurufnya berubah jadi air mata.
Ia lahir di Pontianak, 10 November 1962. Tumbuh bukan sekadar menjadi manusia biasa, tapi menjelma jadi cahaya. Dua periode memimpin Universitas Tanjungpura, bukan waktu pendek. Bukan pula perjalanan yang ringan. Ia berdiri di sana, di tengah riuhnya dunia akademik, memikul harapan ribuan mahasiswa, dosen, dan masa depan yang tak pernah sederhana. Ia juga memimpin ICMI Kalbar, merangkai mimpi umat dengan tangan yang tak pernah lelah. Kini… pada 14 April 2026 pukul 00.06 WIB, di rumahnya sendiri di Pontianak, ia pergi. Pergi dengan cara paling sunyi, paling dingin, paling tak bisa kita tawar.
Betapa kejamnya waktu, wak… betapa tidak tahu diri kehidupan ini. Seorang guru besar kimia agroindustri, yang sepanjang hidupnya menyalakan api pengetahuan, tentang biodiesel, tentang katalis geopolimer, tentang energi terbarukan, justru kini padam, meninggalkan kita dalam gelap yang terlalu dalam. Ia menciptakan metode, ia mematenkan proses transesterifikasi dari abu tandan kosong sawit, ia menyelami bixin, kaolinit, menembus jurnal internasional seolah menembus batas langit. Tapi hari ini… semua itu seperti buku yang terjatuh ke genangan air mata, huruf-hurufnya luntur, maknanya tetap hidup tapi terasa menyakitkan saat dibaca.
Ia bukan hanya ilmuwan. Ia manusia yang pernah berdiri sejajar dengan mimpi besar negeri ini. Satu leting dengan Mohammad Nuh di Prancis, di ENSCT-INP Toulouse. Mereka berangkat sebagai anak bangsa. Pulang sebagai harapan. Yang satu menjadi Menteri Pendidikan, yang satu menjadi rektor. Dua-duanya mengabdi. Dua-duanya memberi. Tapi takdir hari ini memilih satu nama untuk diam selamanya. Sunyi itu… terlalu bising di hati kita.
Bumi Khatulistiwa hari ini bukan sekadar kehilangan. Ia seperti kehilangan arah. Seorang pemimpin yang bukan hanya mengajar, tapi menggerakkan. Yang bukan hanya bicara, tapi menyalakan. Yang bukan hanya menulis tentang biodiesel, tapi sebenarnya sedang menulis tentang masa depan kita semua. Sekarang… masa depan itu terasa seperti lelucon yang terlalu pahit untuk ditertawakan. Energi terbarukan yang ia perjuangkan dengan seluruh hidupnya, ternyata tak mampu memperbarui satu hal, hidupnya sendiri.
Pontianak menangis, wak. Bukan tangisan biasa, tapi tangisan yang jatuh pelan-pelan, seperti hujan yang tahu dirinya tak akan bisa menghidupkan kembali yang telah pergi. Universitas Tanjungpura berduka. Lorong-lorongnya seperti kosong. Seolah suara langkah beliau masih bergema tapi tak pernah benar-benar ada. Kita semua kehilangan sesuatu yang bahkan tak kita sadari betapa berharganya… sampai hari ini.
Prof. Thamrin Usman… sang guru besar, sang rektor, sang pemimpin, sang cahaya dari tanah Borneo. Ia pergi, tapi meninggalkan jejak yang terlalu terang. Justru karena terlalu terang itulah, kepergiannya menciptakan gelap yang begitu pekat. Gelap yang membuat kita tersesat dalam kenangan, mencoba mencari kembali sosok yang kini hanya bisa kita peluk… lewat doa yang basah oleh air mata.
Penulis: Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar







Comment