Pontianak, Media Kalbar
Semua orang ingin pergi haji dalam kondisi masih muda, bugar, gesit, dan prima. Namun, dengan sistem haji seperti saat ini, butuh waktu belasan tahun menabung agar bisa menginjakkan kaki di tanah suci Mekah. Banyak jamaah haji sudah lansia, wajar. Cuma, janganlah dibilang mereka itu sangat merepotkan. Tuduhan seperti itu sangat menyinggung dan kurang ajar.
Pada Rapat Dengar Pendapat Komisi VIII DPR RI, Senin, 6 Juli 2026, Ketua DPW FK KBIHU Jawa Barat, Syatori mengusulkan agar pemerintah menerapkan pembatasan usia dan memperketat pemeriksaan istitha’ah. Alasannya, pendampingan jemaah lansia membutuhkan tenaga lebih banyak. Menurutnya, sekitar 35 persen jemaah dalam satu kloter merupakan lansia membutuhkan bantuan fisik, mulai dari kursi roda hingga pendampingan intensif.
Lalu meluncurlah kalimat yang langsung viral ke seluruh penjuru negeri. “Lansia itu pelaksanaan hajinya repot dan merepotkan orang lain.”
Seketika… Indonesia mendadak serempak menarik napas. Ada hampir tersedak kopi. Ada batal menyeruput teh. Ada pula spontan melihat KTP sendiri sambil menghitung umur. “Lho… sebentar lagi saya juga masuk kategori merepotkan?”
Belum selesai publik mencerna kalimat itu, ruang sidang langsung disambar interupsi keras. Anggota Komisi VIII DPR RI dari PDI Perjuangan, Matindas Janusanti Rumambi langsung mengangkat tangan.
“Pimpinan, saya ingin mengingatkan KBIHU untuk mencabut istilah lansia itu merepotkan. Ini live loh ya. Jangan ada bahasa jemaah haji lansia itu merepotkan.”
Ungkapan lansia itu merepotkan, selain viral, juga mendapat resposn dari KBIHU yang berada di Pontianak, Kalimantan Barat. Direktur KBIHU Al Arafah Pontianak, H. Ahmad Khalil berdiri di sisi berbeda dari KBIHU Jawa Barat itu. Beliau menyampaikan keberatan terhadap pernyataan tersebut.
Menurutnya, pembimbing haji tidak boleh memilih-milih jemaah. Mau muda, tua, sehat, menggunakan tongkat, memakai kursi roda, semuanya adalah tamu Allah wajib dilayani dengan penuh kesabaran.
Di sinilah cerita menjadi semakin menarik. Alih-alih menganggap lansia sebagai beban, Ahmad Khalil justru menyebut mereka sebagai penopang semangat rombongan.
Beliau bercerita, selama bertahun-tahun mendampingi haji reguler, yang paling rajin datang manasik justru bapak-bapak dan ibu-ibu sepuh. Yang paling disiplin mengikuti arahan juga mereka. Yang paling tekun mengaji juga mereka. Yang paling banyak berdoa untuk rombongan juga mereka. Yang paling sedikit protes? Ya… lagi-lagi mereka.
Beliau berani mengatakan sesuatu yang mungkin membuat sebagian orang terdiam. “Kalau disuruh memilih, kami lebih suka membimbing jemaah yang sepuh dibanding sebagian jemaah muda.”
Kenapa? Karena yang sepuh kalau diminta duduk, ya duduk. Kalau diminta menunggu, ya menunggu. Kalau diminta berdoa, beliau mendoakan seluruh rombongan.
Sementara sebagian yang muda…”Pak, Wi-Fi hotel password-nya apa?” “Pak, kopi yang viral di Makkah sebelah mana?” “Pak, boleh nggak tawaf sambil bikin konten?” Tentu tidak semua begitu. Tetapi sindiran ini cukup membuat kita tersenyum pahit.
Dalam praktik di lapangan pun, pelayanan sudah diatur sedemikian rupa. Jemaah muda lebih dahulu menjalankan tawaf wajib. Setelah itu, jemaah sepuh dibawa secara bertahap menggunakan kursi roda atau tenaga pendorong. Ahmad Khalil menyambut baik rencana pemerintah yang akan menyediakan lebih banyak tenaga pendorong gratis pada musim haji mendatang.
Beliau juga menjelaskan skema baru yang sedang disiapkan pemerintah. Jemaah sehat direncanakan mengikuti Tarwiyah sejak 7 Zulhijah. Sedangkan jemaah sepuh akan menggunakan skema murur, yakni setelah wukuf di Arafah langsung melintas menuju Mina tanpa bermalam di Muzdalifah agar fisik mereka tidak semakin terkuras. Pemerintah bersama Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji juga sedang menyiapkan berbagai terobosan pelayanan di Muzdalifah dan Mina agar jemaah lanjut usia semakin nyaman.
Lalu pertanyaannya sederhana. Kalau profesinya memang Kelompok Bimbingan Ibadah Haji, mengapa yang membutuhkan bimbingan justru dianggap beban? Kalau tugasnya melayani, mengapa pelayanan berubah menjadi keluhan? Kalau merasa hanya sanggup mendampingi yang muda, sehat, kuat, dan bisa jalan cepat, mungkin yang lebih cocok bukan menjadi pembimbing haji. Mungkin buka saja komunitas hiking. Atau akademi lari maraton.
Karena haji sejak zaman Rasulullah bukan panggung adu kecepatan. Ia adalah panggung kesabaran. Di sana yang muda belajar menghormati yang tua. Yang kuat belajar menopang yang lemah.
Penulis : Rosadi Jamani










Comment