by

LDII Ketapang Dorong Mubaligh Muda Jadi Guru Menyenangkan Bagi Generasi PAUD Hingga Praremaja

KETAPANG, Media Kalbar  — Ketua DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Ketapang, Tunggono, M.MPd mendorong para mubaligh muda untuk mengambil peran lebih besar dalam mendidik generasi penerus, khususnya anak usia Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga praremaja.
Hal tersebut dikatakan disela-sela Workshop Mubaligh Muda yang dilaksanakan LDII Ketapang, di aula sekretariat, Sabtu (15/8/2026).

Dikatakan, target pembinaan generasi LDII dilakukan mulai usia caberawit atau PAUD
“Pembinaan LDII berbasis masjid ataupun mushola, dan target pembinaan adalah terwujudnya generasi tri sukses yakni Berakhlak luhur, berilmu dan mandiri dengan penerapan 29 karakter luhur,” ujar dia.

Dalam mencapai target itu tidaklah mudah, tetapi mesti diikhtiarkan agar berhasil, karena muara dari pembinaan itu adalah generasi unggul.
“Memang banyak tantangan, tetapi target itu akan berdampak juga terhadap penyediaan generasi yang unggul untuk Indonesia Emas 2045,” tegas Tunggono.

Sehingga sebutnya, anak-anak mesti didorong untuk rajin mengaji yang dilakukan oleh Kelompok Belajar Mengaji (KBM).
“Anak menjadi gemar mengaji juga didukung suasana yang menyenangkan. Disinilah peran para mubaligh muda LDII. Maka workshop ini tujuannya melatih ke arah bagaimana menjadi guru mengaji yang menyenangkan,” jelas dia.

Lebih lanjut Tunggono menjelaskan sekarang guru mengaji dituntut tidak hanya sekedar menguasai ilmu agama, melainkan sejauhmana mampu berinteraksi dengan anak-anak.
“Pada usia PAUD hingga praremaja, anak-anak membutuhkan suasana belajar yang menyenangkan. Mubaligh muda harus mampu menyampaikan nilai-nilai agama dengan bahasa yang mudah dipahami, metode yang kreatif, serta memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya

Menurutnya, menjadi guru yang menyenangkan bukan berarti mengurangi substansi pendidikan agama. Justru, materi keagamaan perlu dikemas dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter anak, seperti permainan edukatif, cerita, praktik ibadah, aktivitas kelompok, maupun pembelajaran interaktif.
Pendekatan tersebut penting agar anak tidak merasa bahwa belajar agama merupakan sesuatu yang berat dan membosankan. Sebaliknya, mereka diharapkan tumbuh dengan pengalaman bahwa belajar agama merupakan aktivitas yang menyenangkan sekaligus memberikan bekal dalam kehidupan.
“Anak-anak adalah generasi penerus. Jangan sampai mereka hanya pintar secara akademik, tetapi kurang memiliki karakter dan pemahaman agama. Karena itu, pembinaan harus dilakukan sejak dini dengan pendekatan yang tepat,” tambahnya.

LDII Ketapang juga menilai keberadaan mubaligh muda memiliki keunggulan dalam membangun komunikasi dengan generasi penerus. “Selain relatif dekat dengan dunia anak dan remaja, mereka juga diharapkan mampu memanfaatkan teknologi serta media digital sebagai sarana pembelajaran yang positif, termasuk menjadi teladan,” kata Tunggono.

Dalam workshop yang diikuti 30-an mubaligh dan mubalighot muda dari LDII ini menghadirkan dua narasumber Ust. Latifudin dan Ust. Yahya Addy Saputra. (*/Amad)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed