Jakarta, Media Kalbar – Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengingatkan ratusan mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) agar tidak hanya mengejar nilai akademis, tetapi juga berani mengeksplorasi potensi diri.
Pesan mengenai realitas dunia kerja dan kepemimpinan tersebut disampaikan Jatmiko saat mengisi Orientasi Pengenalan Kampus FEB UI pada akhir pekan lalu. Kehadirannya sekaligus menjadi bagian dari kontribusi Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV PalmCo dalam memperkuat keterhubungan antara dunia industri dan perguruan tinggi.
Alih-alih memaparkan teori ekonomi makro atau membanggakan pencapaian perusahaan, Jatmiko mengajak para mahasiswa melihat realitas dunia kerja dari perspektif ketahanan mental dan eksplorasi diri. Ia menekankan bahwa masa perkuliahan bukan sekadar ajang mengejar nilai, melainkan ruang simulasi untuk menghadapi kegagalan.
“Kampus adalah tempat yang paling aman untuk teman-teman semua bereksperimen. Manfaatkan empat tahun ini sebagai laboratorium,” ujar Jatmiko.
Ia menjelaskan bahwa di dunia kerja profesional, sebuah kesalahan dapat berdampak pada sanksi indisipliner hingga pemutusan hubungan kerja. Namun, konsekuensi tersebut tidak berlaku di lingkungan akademik.
“Bikin salah di kampus tidak ada mutasi, tidak ada PHK, tidak dimarahi atasan, dan tidak dipotong gaji. Karena di situlah teman-teman bisa membentuk diri dengan lebih bagus,” tambahnya.
Realitas Karier Tidak Selalu Linier
Pesan mengenai eksplorasi tersebut lahir dari refleksi perjalanan karier Jatmiko. Sebagai pucuk pimpinan PTPN IV PalmCo, entitas hasil merger lima perusahaan di bawah Holding Perkebunan Nusantara yang kini mengelola sekitar 600.000 hektare lahan sawit dengan 70.000 karyawan dari Aceh hingga Sulawesi, ia menyadari bahwa kepemimpinan dalam skala besar menuntut keluwesan beradaptasi dan kemampuan mengelola ekspektasi.
Kepada mahasiswa Gen Z yang kerap dibayangi tuntutan untuk meraih kesuksesan secara instan, Jatmiko menjelaskan bahwa perkembangan karier seorang profesional jarang berjalan lurus. Ada kalanya seseorang harus mengubah haluan menuju bidang yang sama sekali tidak direncanakan.
“Manusia kadang berpikir bahwa progres itu akan linier. Tapi tidak, progres itu kadang meminta kita untuk belok kiri atau belok kanan ke area yang belum kita ketahui. Kalau hari ini kalian belum tahu mau jadi apa, tidak usah khawatir. Yang paling penting adalah terus melakukan evaluasi agar kita memahami di mana letak potensi sejati kita,” jelasnya.
Dalam paparannya, Jatmiko turut menceritakan titik baliknya ketika harus meredam ego dan kesombongan intelektual pada masa lalu. Pemahaman terhadap keberagaman karakter manusia yang ia peroleh selama memimpin proses transformasi bisnis dan penyatuan budaya dari berbagai wilayah operasional di Indonesia menjadi salah satu kunci dalam merestrukturisasi kinerja perusahaan.
Mengelola Ekspektasi dan Bekerja dengan Hati
Di luar kecerdasan akademis, dunia industri saat ini membutuhkan talenta muda yang memiliki growth mindset atau pola pikir bertumbuh serta kecerdasan emosional yang matang. Salah satu indikatornya terlihat dari cara seseorang merespons hasil yang tidak sesuai dengan harapan.
“Nilai berapapun atau hasil apapun yang kita terima dalam hidup ini, selama kita sudah berusaha dan berdoa dengan maksimal, terima saja. Apa yang kita dapatkan hari itu adalah apa yang kita butuhkan, yang belum tentu apa yang kita inginkan,” pesan Jatmiko.
Ia menutup sesi interaktif tersebut dengan membagikan filosofi kerja yang menjaganya tetap bertahan menghadapi berbagai krisis dan dinamika industri. Menurutnya, kepintaran tidak akan cukup tanpa dedikasi yang utuh.
“Maksimalkan potensi kalian, optimalkan waktu yang ada. Apakah nanti akan menjadi seorang spesialis atau generalis, itu adalah pilihan. Tapi ingat, selalu buka pikiran (open mind) dan kerjakan semuanya secara persisten, konsisten, serta selalu pakai hati,” pungkasnya.
Kehadiran pemimpin PTPN Group di ruang akademik tersebut diharapkan tidak hanya mendekatkan dunia industri dengan perguruan tinggi, tetapi juga memberikan pembekalan karakter yang relevan bagi mahasiswa. (Mbis/MK)











Comment