by

Mengenal Prof. Dr. Wajidi Sayadi, Rektor IAIN Pontianak yang Baru Terpilih

Nuan bayangkan anak Polewali Mandar, Sulawesi Barat, lahir 12 Maret 1968, lalu hidupnya berkelana sampai ujung barat Kalimantan. Kalau ini sinetron, judulnya mungkin “Dari Campalagian Menaklukkan Pontianak.” Tapi ini bukan sinetron. Ini perjalanan Prof Dr H Wajidi Sayadi M Ag yang baru saja terpilih sebagai Rektor IAIN Pontianak periode 2026–2030.

Perjalanannya tidak muncul dari karpet merah. Ia berangkat dari pesantren salafiyah di Campalagian, bergelut dengan kitab kuning, lalu naik kelas ke dunia akademik: IAIN Alauddin Makassar 1996, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1999, dan doktor Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2006.

Kalau ada mengira profesor itu lahir bersama toga, mohon tarik napas dulu. Wajidi kemudian dikukuhkan sebagai guru besar bidang Ilmu Hadis. Perjalanan menuju profesor pun bukan jalan tol. Ia pernah bercerita tentang perjuangan bersama sang istri, termasuk merasakan pahit getir hidup di kos-kosan saat menempuh doktoral. Artinya, sebelum menikmati podium profesor, ada episode “mie instan rasa perjuangan” yang harus ditelan.

Secara nasional, kepakarannya juga bukan kaleng-kaleng. Sejak 2007 hingga 2025, ia dipercaya Kementerian Agama sebagai anggota Tim Pakar Pembahas Revisi Tafsir dan Terjemahan Al-Qur’an.

Di Kalbar, kiprahnya juga panjang. Ia pernah menjadi Wakil Rais Syuriah PWNU Kalbar selama tiga periode dan pernah memimpin Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalbar. Tahun 2019, ia dikirim ke Amerika Serikat melalui International Visitor Leadership Program (IVLP) untuk mempromosikan pesan toleransi.

Dari kitab kuning bisa sampai Amerika. Ini baru namanya perjalanan akademik, berangkat dari kampung, bukan dari tombol “skip intro”.

Yang menarik, Wajidi tidak berhenti menjadi akademisi. Ia juga kritis melihat zaman post-truth, ketika fakta kadang kalah cepat dari emosi, opini, dan konten media sosial. Otoritas keagamaan dulu berada di pesantren kini bisa mendadak pindah ke TikTok, Facebook, atau grup WhatsApp keluarga.

Karena itu, visi yang ia usung sebagai rektor adalah penguatan moderasi beragama dan integrasi keilmuan. Kampus Islam, menurut semangat gagasannya, harus adaptif terhadap zaman, bukan menjadi museum yang hanya sibuk menjaga kaca etalase.

Namun menuju kursi rektor, Wajidi tidak jalan sendirian. Ia harus berkompetisi dengan delapan kandidat lain: Prof Dr H Hermansyah Mag, Dr Misdah SAg M Pd, Dr Moh Yusuf Hidayat S PdI M Pd, Prof Dr Muhammad M Ag, Dr Nelly Mujahidah S Ag ST MSI, Prof Dr Rianawati M Ag, Prof Dr Sahri MA, serta Prof Dr H Zaenuddin S Ag MA.

Delapan kandidat berasal dari internal IAIN Pontianak. Sementara Prof. Muhammad merupakan satu-satunya kandidat eksternal dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mereka punya rekam jejak luar biasa. Kajian Melayu, manajemen pendidikan, transformasi digital menuju UIN, ekonomi, bahasa Arab, teknik elektro, pendidikan karakter, pemikiran Islam, hingga peacebuilding.

Wajidi akhirnya harus melewati presentasi visi-misi dan wawancara di Jakarta sebelum ditetapkan Menteri Agama sebagai rektor definitif.

Kini tantangannya justru dimulai. Ia membawa pengalaman, pernah menulis lebih dari 20 buku, aktif dalam dialog antaragama, dan punya gagasan integrasi keilmuan serta moderasi beragama.

Publik Kalbar tentu berharap IAIN Pontianak tidak cuma pintar membaca kitab, tetapi juga pintar membaca zaman. Sebab zaman sekarang sudah aneh. Yang paling cepat viral belum tentu paling benar. Yang paling keras belum tentu paling pintar. Yang paling banyak followers belum tentu punya sanad keilmuan.

Maka, selamat datang Rektor Wajidi. Semoga kampus ini tidak hanya mencetak sarjana pintar menjawab soal, tetapi juga manusia waras ketika dunia sedang kehilangan akal sehat. Kapan-kapan kita seruput Koptagul Pak Wajidi. (*)

Penulis: Rosadi Jamani

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed