Sambas, Media Kalbar-Memasuki musim kemarau, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian serius di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Ancaman ini tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, tetapi juga berpotensi memicu krisis kesehatan masyarakat yang lebih luas.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, dr. H. Ganjar Eko Prabowo, M.M. , mengingatkan bahwa karhutla merupakan permasalahan tahunan yang memiliki dampak signifikan terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat, khususnya pada sistem pernapasan.
“Setiap musim kemarau, risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat. Kabut asap yang ditimbulkan dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta memperburuk kondisi penderita penyakit kronis,” ujarnya kepada Media Kalbar, Kamis(26/3/2026)
Menurutnya, praktik pembukaan lahan dengan cara tebang dan bakar, ditambah faktor iklim serta lemahnya pengawasan, menjadi pemicu utama terjadinya karhutla yang berulang setiap tahun. Kondisi ini tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga dapat meluas menjadi isu nasional karena sebaran asap lintas wilayah.
Dinas Kesehatan mencatat bahwa paparan kabut asap berpotensi meningkatkan kasus ISPA, batuk, sesak napas, pilek, sakit tenggorokan, hingga memicu serangan asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan menjadi pihak yang paling berisiko.
Meski hingga saat ini belum terjadi lonjakan kasus akibat kabut asap di Sambas, pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini guna mencegah dampak yang lebih besar.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas mengeluarkan sejumlah imbauan kepada masyarakat, di antaranya menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, mengurangi aktivitas luar terutama bagi kelompok rentan, memperbanyak konsumsi air putih, serta menjaga asupan gizi dan istirahat yang cukup.
Selain itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala gangguan pernapasan.
“Upaya pencegahan harus dilakukan bersama. Kesadaran masyarakat sangat penting agar dampak kesehatan akibat kabut asap dapat diminimalkan,” tegas dr. Ganjar.
Isu karhutla di Sambas menjadi bagian dari persoalan yang lebih luas di tingkat nasional. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan untuk mencegah terjadinya kebakaran serta melindungi kesehatan publik di tengah ancaman musim kemarau.(Rai)







Comment