by

Portugal Bersama Bang Dodo Akhirnya Tumbang di Tangan Spanyol

Saya tak bisa membayangkan betapa sedihnya fans Bang Dodo. Timnya, Portugal tersingkir di tangan Spanyol 1-0. Mana golnya di menit akhir lagi. Simak ulasan absurdnya sambil seruput Koptagul, wak!

Peluit pertama ditiup Anthony Taylor, dan perang Semenanjung Iberia resmi dimulai. Baru dua menit, Lamine Yamal sudah bikin pelanggaran. Bocah ajaib itu seolah memberi salam pembuka, “Maaf, saya datang bukan untuk silaturahmi.” Menit ketiga, Mikel Oyarzabal melepaskan tembakan, tetapi Diogo Costa menangkapnya santai seperti KPK menangkap Bang Ondim.

Spanyol menguasai sepenuhnya laga. Oyarzabal, Alex Baena, Lamine Yamal, hingga Pedro Porro bergantian mengancam. Namun Diogo Costa mendadak berubah menjadi lemari besi berjalan. Semua tembakan mental. Gawang Portugal seperti dipasang kaca antipeluru.

Portugal membalas lewat Cristiano Ronaldo. Menit ke-12 ia mendapat peluang emas, tetapi Unai Simon menjelma kulkas empat pintu yang bisa terbang. Menit ke-37 Joao Felix menanduk bola, Simon menepis. Ronaldo menyambar bola rebound, Simon menepis lagi. Banyak penonton mulai curiga, jangan-jangan kiper Spanyol itu hasil patungan NASA, UEFA, dan bengkel las di lae Rismon.

Menit ke-23 laga dihentikan untuk cooling break. Para pemain minum, penonton ikut minum, bahkan televisi tetangga terasa ikut kehausan. Tak lama kemudian Dani Olmo memperoleh peluang emas pada menit ke-31. Gawang sudah menganga selebar pintu minimarket, tinggal sundul. Hasilnya? Bola melayang entah mau daftar haji atau mengorbit Saturnus. Pendukung Spanyol kompak memegang kepala.

Babak pertama berakhir 0-0. Kedua tim masuk ruang ganti dengan wajah kusut seperti habis rapat delapan jam tanpa kopi.

Roberto Martinez berdiri memberi tausiyah. “Anak-anak, jangan cuma pandai berjanji menyerang. Jangan seperti rapat yang isinya wacana terus, hasilnya nol besar. Rakyat stadion tidak butuh pidato, mereka butuh gol!”

Di ruang sebelah, Luis de la Fuente juga berkhotbah. “Kita sudah terlalu banyak operan. Jangan seperti birokrasi yang muter-muter mengurus satu berkas. Sederhana saja, kirim bola ke gawang, selesai urusan!”

Babak kedua dimulai. Tausiyah tampaknya langsung diamalkan. Lamine Yamal kembali meneror pertahanan Portugal. Pedri dan Alex Baena terus menembak, Rodri sempat lupa profesinya dengan menyentuh bola memakai tangan. Portugal kehilangan Nuno Mendes karena cedera pada menit ke-56. Roberto Martinez langsung memasukkan Rafael Leao, Diogo Dalot, Bernardo Silva, dan Francisco Conceicao. Bangku cadangan Portugal mendadak kosong seperti warung Madura setelah diborong warga.

Spanyol juga memasukkan Ferran Torres, Fabian Ruiz, dan Mikel Merino. Laga berubah menjadi festival pelanggaran, tendangan sudut, dan peluit Anthony Taylor. Bernardo Silva menerima kartu kuning pada menit ke-89, disusul Renato Veiga pada menit 90+4 karena tekel keras.

Lalu datanglah menit yang mengubah nasib. Menit 90+1… goooooooooollllll!!

Ferran Torres mengirim umpan akurat ke kotak penalti. Mikel Merino muncul seperti tokoh utama yang baru turun di episode terakhir. Sekali sentuh, bola meluncur ke sudut kiri bawah gawang! 0-1 untuk Spanyol!

Stadion langsung berguncang. Burung-burung migrasi putar balik. Satelit kehilangan sinyal. Gunung-gunung di Indonesia seolah ikut bergema.

Di Indonesia, kekacauan nasional terjadi. Grup WA RT yang tadinya membahas iuran sampah mendadak berubah menjadi studio analisis UEFA. Tukang bakso lupa menagih pelanggan karena ikut teriak “goool!” Emak-emak menghentikan arisan demi membahas assist Ferran Torres. Bapak-bapak yang lima menit sebelumnya mengaku ngantuk mendadak menjadi analis taktik kelas dunia. Admin meme lembur sampai subuh.

Enam menit tambahan waktu terasa seperti enam tahun. Portugal menyerbu habis-habisan lewat Ronaldo, Bruno Fernandes, dan Rafael Leao, tetapi pertahanan Spanyol berdiri sekokoh tembok yang lebih susah ditembus daripada mengurus berkas yang kurang satu fotokopi.

Peluit panjang berbunyi. Portugal tumbang 0-1. Spanyol berpesta. Mikel Merino menjadi pahlawan. Dunia akhirnya sepakat, gol telat bukan cuma mengubah papan skor, tetapi juga sanggup mengubah jutaan orang Indonesia menjadi komentator sepak bola profesional dalam waktu kurang dari lima detik. Bravo Spanyol. Portugal tamat. Bang Dodo jadi penonton saat Messi main nanti. (*)

penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed