Sambas, Media Kalbar – Angin segar berembus ke ladang-ladang petani Sambas. Tahun 2025, Kabupaten Sambas kebagian durian runtuh dalam bentuk 31.614.500 kilogram pupuk subsidi, terdiri dari 10.272.500 kg Urea dan 21.342.000 kg NPK. Tapi, seperti kata pepatah, tak semua yang mengalir deras itu membawa berkah, kadang bisa juga banjir masalah.
Program pupuk subsidi ini dijabarkan dalam Keputusan Bupati Sambas Nomor 1158/DISTAN-KP/2024. Secara teori, distribusi akan merata ke seluruh 19 kecamatan, dengan Tebas, Jawai, dan Tangaran jadi ‘anak emas’ alias penerima alokasi terbesar. Targetnya? Mewujudkan swasembada pangan dan menciptakan panen raya yang bisa bikin Menteri Pertanian senyum sampai ke kuping.
Namun, menurut Redi Pidriyanto, mahasiswa Fakultas Ekonomi dari Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas (UNISSAS) yang dikenal sebagai ‘pengamat ekonomi dari warung kopi’, euforia ini mesti disertai dengan sikap kritis. “Kalau distribusinya kayak tahun-tahun lalu, jangan mimpi bisa panen raya. Yang ada panen janji,” katanya sambil menyelipkan senyum skeptis.
Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi memang bikin hati petani sedikit adem: Rp2.250/kg untuk Urea dan Rp2.300/kg untuk NPK. Bandingkan dengan harga pupuk non-subsidi yang bisa tembus Rp14.000/kg—bisa bikin dompet petani menjerit dan pingsan bersamaan. Tapi ya itu tadi, kalau distribusinya ngadat, semua harapan bisa berubah jadi wacana.
Distribusi Tak Merata dan Drama Lama
Redi mengingatkan, berdasarkan laporan Ombudsman RI tahun 2023, distribusi pupuk di berbagai daerah termasuk Kalbar masih sering jadi ladang drama: pupuk raib, data fiktif, dan petani yang kebagian cuma brosur. “Pupuknya entah di mana, tapi SPJ-nya lengkap. Itu sering terjadi,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar Pemda tak hanya fokus pada angka, tapi juga pada integritas distribusi. “Petani di Sajingan, Paloh, dan Galing sering merasa dianaktirikan. Kalau subsidi cuma muter di jalur utama, lalu siapa yang panen? Mafia pupuk?”
Panen Raya atau Panen Janji?
Dengan kuota nasional pupuk subsidi yang naik jadi 9,5 juta ton, Sambas sebenarnya sedang duduk di atas potensi emas. Tapi seperti main catur, salah langkah sedikit saja—distribusi molor, data tidak sinkron, atau ada yang nakal di tengah jalan—maka seluruh strategi bisa ambruk.
“Kalau pupuknya sampai, petani bisa menanam. Kalau menanam, bisa panen. Kalau panen, ekonomi berputar. Tapi kalau pupuknya nyangkut di gudang atau malah ‘diselewengkan’, ya siap-siap Sambas panen masalah,” pungkas Redi.
Jadi, 2025 ini Sambas akan menyambut panen raya atau malah kembali mengelus dada? Jawabannya ada di distribusi—dan tentu, di nurani mereka yang diberi amanah mengawalnya.(Rai)











Comment