SAMBAS, Media Kalbar – Senja belum sepenuhnya padam ketika kabar itu datang: pada pukul 18.28 WIB, di sebuah ruang perawatan RSUD Manggis Sambas yang sunyi, Uray Riza Fahmi berpulang menghadap Sang Pencipta. Kabar duka itu menyebar perlahan, namun seketika membuat seluruh penjuru Sambas seperti berhenti sejenak—seakan merasakan kehilangan seorang penjaga kearifan yang selama ini menjadi peneduh bagi banyak orang.
Beliau tutup usia setelah berjuang melawan diabetes dan berbagai komplikasi. Namun siapa pun yang pernah mengenalnya tahu, almarhum bukan tipe yang mengeluhkan derita. Hingga detik-detik terakhir, beliau tetap hadir sebagai sosok yang menenangkan, tersenyum lembut, dan lebih sering menguatkan orang lain ketimbang menunjukkan rasa sakitnya sendiri.
Nama Uray Riza Fahmi tak hanya tercatat sebagai Majelis Pemangku Adat Istana Alwatzikhoebillah Sambas. Beliau adalah kerabat keraton, seorang birokrat yang mengabdi di Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan, serta Ketua Dewan Pemangku Adat MABM Sambas. Tetapi bagi masyarakat, beliau adalah lebih dari sekadar jabatan: beliau adalah jembatan nilai, pemilik tutur menyejukkan, dan tempat banyak hati menemukan arah.
Orang-orang mengenang beliau sebagai lelaki yang berjalan tenang dan berbicara lembut, namun meninggalkan kesan mendalam. Ada kelakar halus yang sering ia selipkan, ada keramahan yang tak pernah dibuat-buat. Bagi yang pernah meminta nasihat darinya, tahu betul bagaimana ia mendengarkan terlebih dahulu, baru kemudian memberi jawaban pelan, jernih, dan meneduhkan. Saya sendiri pernah merasakannya, bukan sekali, tetapi berkali-kali.
Sebagai pengayom adat Melayu Sambas, almarhum menjaga warisan leluhur dengan ketulusan. Ia tidak memaksa orang untuk melestarikan tradisi; ia membuat generasi muda mencintai identitasnya dengan menunjukkan bahwa adat bukan sekadar aturan, melainkan akar yang membuat langkah menjadi kukuh.
Di lingkungan pemerintahan, beliau dikenang sebagai pekerja senyap, tidak mengejar tepuk tangan, tidak menuntut terima kasih. “Bekerja untuk masyarakat adalah ibadah,” begitu prinsip hidup yang sering ia pegang. Dan mungkin itulah yang membuatnya dihormati, bukan hanya karena posisinya, tetapi karena ketulusannya.
Kini, ketika beliau telah kembali ke pangkuan Ilahi, Sambas tak hanya kehilangan seorang tokoh adat, tetapi juga kehilangan cahaya lembut yang selama ini menerangi jalan banyak orang. Namun dari kepergian itu, warisan beliau tetap tertinggal: kebijaksanaan, kehangatan, keteladanan, dan jejak perbuatan baik yang tak akan mudah dilupakan.
Selamat jalan, Uray Riza Fahmi
Engkau pergi dengan tenang, namun namamu akan terus hidup, dalam adat yang kau jaga, dalam cerita yang kau tinggalkan, dan dalam hati masyarakat yang pernah kau sentuh dengan kebaikanmu.(Rai)











Comment