Pontianak, Media Kalbar
Seminar Nasional dalam rangka Pekan Gawai Dayak (PGD) Ke-40 Kalimantan Barat sukses digelar yang dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan bersama Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sain dan Teknologi (Wamen Diktisaintek), Prof Fauzan di Rumah Radakng Kalimantan Barat, Selasa (19/5).

Seminar tersebut mengangkat tema Pemberdayaan Masyarakat Dayak dalam Arus Globalisasi : Strategi Pembangunan Manusia Berbasis Pendidikan dan Kearifan Lokal di Kalimantan Untuk Perkuat Peran Masyarakat Dayak di Ibu Kota Nusantara
Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan dalam sambutannya mengatakan Pemberdayaan masyarakat dayak ditengah arus globalisasi, untuk itu peningkatan SDM terus dilakukan.
Di era globalisasi banyak informasi yang mesti kita cermati, untuk itu maka harus kita siapkan SDM yang mampu bersaing di era globalisasi dan teknologi informasi.
Seminar ini diharapkan membahas secara konferehensif dimana masyarakat dayak bisa berdaya ditengah arus globalisasi.
Disampaikan Wagub bahwa Potensi Kalbar SDA sangat potensial, perkebunan, pertanian, pertambangan dan investasi juga masuk, namun pasal 33 uud 1945 Belum dilaksanakan di Kalimantan Barat.
Di Kalbar sekita 62 ribu hektar lebih area PETI, kalau lingkungan jelas rusak, masyarakat tambang sendiri ditanah sendiri namun tanpa ijin, ini masih belum ada payung hukum bagaimana pertambangan emas oleh masyarakat ini.
“Kemana Sumber daya alam ini, mafia, oknum yang memanfaatkan hal ilegal ini.
Ekspor juga belum sepenuhnya melalui pelabuhan Kijing, sehingga pajak ekspor sawit dan tambang tidak maksimal. Untuk itu tahun ini operasional ful pelabuhan Kijing.
Wamendiktisaintek Prof Fauzan mengungkapkan bahwa dari pendidikan perlu kurikulum kearifan lokal, disitu pendidikan bisa berinovasi dengan kearifan lokal masing-masing.
Kemudian untuk IKN kedepan yang saat ini ibu kota negara masih Jakarta, namun seminar ini penting untuk melakukan antisipasi-antisipasi, yang bisa dilihat dari perspektif pendidikan dalam rangka pembangunan secara finansial, itu harus dengan pendidikan.
Konkret bisa seluruh perguruan tinggi yang ada di Kalbar membentuk konsorsium perguruan tinggi, untuk Perkuat pendidikan di Kalbar.

Borneo Indigenous Organisation (Ft: Amad Media Kalbar)
Apresiasi Dari Peserta Luar Negeri
Seminar tersebut mendapat apresiasi dari peserta yang berasal dari Sabah Malaysia, Stephen Nogiris Sabala, Presiden
Borneo Indigenous Organisation menyampaikan apresiasi kepada panitia yang melaksanakan seminar untuk kemajuan masyarakat dayak.
Ia berharap hasil dari seminar tersebut bisa diimplementasikan dan diaplikasikan oleh peserta terutama para generasi muda dayak untuk kehidupan masa depan masyarakat dayak.
Baginya masyarakat Dayak adalah suku bangsa yang gagah, kuat untuk bisa membina masyarakat dayak.
Harapannya orang-orang dayak bisa menjadi agen perubahan untuk masa depan, menjaga adat budaya dayak dan dayak tetap bersatu walaupun terbagi puluhan suku yang ada di Kalimantan, namun tetap bersatu padu untuk berjuang untuk kemajuan masyarakat dayak.
Hasil Seminar Akan Disampaikan ke Presiden
Ketua Panitia Thomas Alexander menegaskan bahwa hasil seminar akan disampaikan ke Presiden dan pihak terkait
Dijelaskan bahwa seminar dilaksanakan pertama untuk merubah perspektif dan paradigma tentang konsep-konsep sumber daya alam dan lainnya berkaitan dengan sumber daya manusia, kedua mendiskusikan terkait ketika bicara tingkat nasional dan internasional mampu menjadi Kalbar terdepan baik SDM maupun SDA, ketiga Kalbar penyanggah dan integral IKN, apa yang kita dapat dari itu? maka kita siapkan SDM kita yang hebat.
“Hasil seminar ini kita ada rekomendasi yang akan disampaikan ke Presiden, ke Sekneg, ke Otorita IKN, bahwa Kalbar mempunyai rekomendasi hasil seminar sehingga tidak selesai begitu saja, ada tindak lanjutnya, ” ungkapnya.
Sementara nara sumber seminar Nasional dalam rangka Pekan Gawai Dayak ke-40 ini antaranya Prof Fauzan sebagai keynote speaker, Alimudin mewakili Kepala Otorita IKN, Louis Ringah Kanyah dari Universitas Sarawak Malaysia, Stefanus Masiun, Pitalis Mawardi, dan konten kreator F. Deliana W. (Amad)








Comment