Tulisan keempat Edisi Ramadan. Pilihannya pada khalifah Umar bin Khattab. Kalian pasti sudah tahu ketegasan dan kejujurannya dalam memimpin negara. Layak dijadikan teladan bagi penguasa saat ini. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Kalau dunia hari ini kekurangan pemimpin berani, mungkin kita memang lagi defisit stok manusia tipe Umar bin Khattab. Lahir sekitar 584 M di Makkah, 13 tahun setelah Tahun Gajah, dibesarkan ayah keras yang tak segan memukul kalau malas menggembala, ditempa gurun, ditempa konflik, ditempa kenyataan hidup, bukan ditempa tim kreatif dan konsultan pencitraan. Tinggi besar, jago gulat, fasih pidato, pedagang lintas Syam dan Persia. Paket lengkap. Bahkan sebelum Islam, beliau masih ikut tradisi Jahiliyah seperti minum khamar. Jangan kira beliau malaikat turun dari langit. Beliau manusia. Bedanya, ketika dapat kebenaran, beliau berubah total, bukan sekadar ganti jargon.
Tahun 616 M, Umar yang awalnya mau membunuh Rasulullah, justru runtuh oleh Surah Thaha. Dari tangan yang menampar adiknya sampai berdarah, berubah jadi tangan yang gemetar membaca ayat. Masuk Islam. Digelari Al-Faruq, pembeda haq dan batil. Zaman sekarang mungkin gelarnya bisa saja dipelintir jadi “pembeda mana proyek dan mana komisi”, tapi Umar jelas beda kelas.
Beliau salat terang-terangan di Ka’bah dengan pedang terhunus. Hijrah terbuka. Ikut Badar, Uhud, Khandaq, Khaibar, Fathu Makkah. Menyerahkan setengah hartanya untuk Tabuk. Setelah Rasulullah wafat tahun 632 M, beliau sempat terguncang, ya manusiawi, tapi cepat sadar dan berdiri menjaga stabilitas umat. Ikut membantu Abu Bakar menumpas Perang Riddah dan mengusulkan pengumpulan Alquran jadi mushaf. Fokusnya negara dan akidah, bukan bagi-bagi jabatan strategis.
Tahun 634 M jadi khalifah kedua. Sepuluh tahun kepemimpinannya (634–644 M) seperti meteor politik yang menghantam peta dunia. Persia runtuh. Dua pertiga Bizantium, Suriah, Palestina, Mesir, Libya, bergeser tangan. Yarmuk, Qadisiyyah, Nahawand. Beliau mendirikan Basra dan Kufah. Bangun kanal dari Nil ke Laut Merah. Bentuk Diwan untuk gaji tentara dan pegawai. Dirikan Baitul Mal. Tunjangan anak. Pensiun janda. Bantuan fakir miskin termasuk non-Muslim. Perkenalkan kalender Hijriyah berdasarkan Hijrah 622 M. Lakukan sensus penduduk.
Coba bayangkan, abad ke-7 sudah ada sistem gaji dan kesejahteraan sosial. Sekarang abad ke-21, masih ada yang sibuk sensus suara, bukan sensus kemiskinan. Umar membangun sistem agar negara rapi. Bukan membangun sistem agar kursi tetap aman.
Ketegasannya? Beliau memecat Khalid bin Walid, jenderal legendaris, karena takut umat bergantung pada manusia, bukan Allah. Nuan bayangkan, memecat jenderal paling populer. Di zaman kita, memecat pejabat populer itu bisa bikin rating turun, trending negatif, dan konsultan panik setengah mati. Umar? Tenang saja. Prinsip di atas popularitas.
Saat paceklik 638 M, beliau hanya makan roti dan minyak zaitun. Perutnya keroncongan, ditepuk sambil berkata, “Diamlah sampai rakyat kenyang.” Coba bandingkan dengan standar modern, rakyat antre sembako, pejabat antre katering premium. Umar memanggul sendiri gandum untuk janda miskin. Bukan unggah foto sambil kasih caption, “Turun langsung ke lapangan.” Kisah memanggul gandum ini, kok jadi ingat sosok yang itu, ya, ups.
Soal anti-korupsi? Umar melarang gubernur berdagang. Seorang pegawainya untung besar, langsung disita dan masuk Baitul Mal. “Kami mengutusmu memimpin, bukan berdagang.” Tegas. Tidak ada kalimat, “Itu kan hak pribadi.” Tidak ada dalih, “Sudah sesuai prosedur.” Bahkan ketika beliau sendiri kalah di pengadilan dalam sengketa kuda, beliau tunduk pada keputusan hakim. Kepala negara kalah di sidang dan tidak bikin drama konferensi pers. Tidak ada rumah hakim yang tiba-tiba esoknya terbakar.
Keadilan beliau legendaris. Seorang pemuda Mesir dipukul putra gubernur. Umar panggil gubernur dan anaknya ke Madinah. Si pemuda disuruh membalas pukulan itu di depan umum. Lalu kalimat yang mengguncang zaman: “Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan merdeka?” Itu abad ke-7. Abad kita masih debat panjang soal etika kekuasaan.
Lalu datang pagi 3 November 644 M, 26 Dzulhijjah 23 H. Subuh baru menyingsing. Umar memimpin salat di Masjid Nabawi. Suara bacaan ayat mengalun tenang. Tidak ada sirine pengawal. Tidak ada rompi antipeluru. Tidak ada pagar berlapis baja. Seorang budak Persia, Abu Lu’lu’ah, menyelinap dengan belati bermata dua. Kilatan besi membelah udara fajar.
Tikaman pertama. Kedua. Ketiga. Enam tusukan. Darah mengalir di atas sajadah. Jamaah panik. Pelaku mengamuk sebelum bunuh diri. Umar roboh. Tapi kalimat pertama yang keluar dari lisannya bukan, “Tangkap dia!” Bukan, “Amankan kursi kekuasaan!” Melainkan, “Apakah kaum Muslimin sudah menyelesaikan salatnya?”
Dalam kondisi luka parah, beliau masih memikirkan salat umat. Bukan memikirkan siapa yang akan jadi ahli waris politik. Bahkan menjelang wafat, beliau membentuk tim enam sahabat, termasuk Utsman dan Ali, untuk memilih pengganti. Tidak menunjuk anak. Tidak menunjuk kerabat. Tidak bikin dinasti. Tidak bikin aturan dadakan demi memperpanjang napas kekuasaan.
Beliau wafat di usia sekitar 60 tahun, dimakamkan di samping Rasulullah dan Abu Bakar. Lelaki yang mengguncang imperium, mati di atas sajadah, bukan di atas singgasana empuk.
Di sinilah sindirannya terasa halus tapi pedas. Umar takut jika seekor anjing mati kelaparan di tepi Sungai Efrat, ia akan dimintai pertanggungjawaban. Zaman sekarang, kadang ada yang tak takut walau rakyatnya mati pelan-pelan di tepi anggaran.
Umar bukan malaikat. Beliau manusia. Tapi manusia yang sadar bahwa jabatan itu amanah, bukan ATM. Kekuasaan itu tanggung jawab, bukan warisan keluarga. Popularitas itu debu, keadilan itu inti.
Sekarang pertanyaannya sederhana tapi bikin meriang, kalau Umar hidup hari ini, siapa yang paling duluan berkeringat dingin? (*)
Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar










Comment