SAMBAS, Media Kalbar – Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas bergerak cepat menindaklanjuti dugaan gangguan sistem pencernaan yang dialami sejumlah siswa SDN 06 Sungai Rusa dan SDN 08 Sungai Daun, Kecamatan Selakau, Kamis (21/5/2026) kemarin.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, dr. Ganjar Eko Prabowo, M.M., mengatakan laporan awal diterima dari Kepala Puskesmas Selakau sekitar pukul 10.30 WIB. Saat itu, sejumlah siswa datang ke Puskesmas dengan keluhan nyeri perut, mual, muntah, lemas, dan kepala pusing.
“Jumlah siswa yang datang ke Puskesmas dengan gejala tersebut sebanyak 15 orang. Mereka langsung mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sesuai ketentuan,” kata dr. Ganjar.Jumat(22/5/2026)
Berdasarkan hasil wawancara petugas kesehatan dengan guru dan siswa, gejala tersebut muncul sekitar dua jam setelah para siswa mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Adapun menu MBG yang dikonsumsi siswa terdiri dari nasi putih, ayam goreng tepung, tempe saus kecap, tumis kuning timun dan wortel, serta buah pisang. Makanan tersebut diketahui berasal dari SPPG Sambas Selakau Sungai Nyirih yang beralamat di Jalan Raya Desa Sungai Daun, Kecamatan Selakau.
dr.Ganjar menjelaskan, sekitar pukul 15.30 WIB kondisi para siswa mulai membaik. Setelah mendapat penanganan dari pihak Puskesmas, para siswa diperbolehkan pulang dan tetap dipantau oleh pihak Puskesmas, sekolah, Polsek Selakau, Pemerintah Kecamatan Selakau, dan Loka POM Sambas.
“Petugas surveilans Puskesmas dan Dinas Kesehatan langsung melakukan penyelidikan epidemiologi. Sampel makanan juga sudah diamankan dari sekolah dan tempat pengolahan makanan,” jelasnya.
Sampel tersebut kini dalam proses pengiriman ke Balai Besar POM di Pontianak untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan diperkirakan keluar dalam waktu sekitar 14 hari.
dr.Ganjar menegaskan, penyebab pasti gangguan pencernaan belum dapat disimpulkan sebelum hasil laboratorium keluar. Namun, dugaan sementara gangguan pencernaan tersebut berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi para siswa dari program MBG.
“Untuk memastikan penyebabnya, kita tetap menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Jadi saat ini statusnya masih dugaan sementara,” tegasnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas juga mendorong pihak yang berwenang melakukan pemulihan psikologis kepada siswa dan orang tua agar tidak menimbulkan trauma terhadap program MBG. Selain itu, pihak SPPG diminta memperketat penerapan SOP keamanan pangan di seluruh titik pengolahan makanan.
dr.Ganjar menambahkan, monitoring terhadap keamanan pangan MBG harus dilakukan secara berkala dengan melibatkan petugas kesehatan, BPOM, dan lintas sektor.
“Keselamatan anak-anak harus menjadi prioritas. Program MBG sangat baik, tetapi pelaksanaannya wajib memenuhi standar keamanan pangan agar tidak menimbulkan risiko bagi siswa,” pungkasnya.(Rai)










Comment