KUBU RAYA, Media Kalbar – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali menggelar Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) 2026 dan Sekolah Lapang Iklim (SLI) 2026 di Provinsi Kalimantan Barat. Kegiatan berlangsung di Aula Balai Pertemuan Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Senin (3/8/2026).
Acara tersebut dihadiri Anggota DPR RI Komisi V Syarif Abdullah Alkadrie, Staf Ahli Bupati Kubu Raya Hefmi Rizal, S.Pi., M.Si. yang mewakili Bupati Kubu Raya, Deputi Bidang Klimatologi BMKG yang diwakili Plh. Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II Tangerang Selatan Ana Oktavia Setiowati, S.Si., M.Si., Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Kepala Balai Besar MKG Wilayah II, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kubu Raya, Kepala UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat, Koordinator UPT BMKG Provinsi Kalimantan Barat, para Kepala Stasiun Meteorologi di Kalimantan Barat, Camat Sungai Kakap, Danramil 1207-07 Sungai Kakap, Kapolsek Sungai Kakap, Kepala Desa Sungai Kakap, serta para nelayan, petani, dan penyuluh.
Mewakili Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, Hefmi Rizal menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan dan Sekolah Lapang Iklim yang dinilai sangat bermanfaat dalam meningkatkan kapasitas nelayan dan petani menghadapi perubahan cuaca dan iklim.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan BMKG. Program ini sangat membantu nelayan dan petani dalam mendeteksi lebih dini kondisi cuaca yang dapat memengaruhi produktivitas hasil perikanan maupun pertanian. Saat ini kondisi iklim semakin tidak menentu sehingga informasi cuaca menjadi kebutuhan yang sangat penting. Kami berharap kegiatan ini terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak peserta di berbagai wilayah Kabupaten Kubu Raya,” ujar Hefmi.
Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG yang diwakili Plh. Kepala Balai Wilayah Il Ibu Ana Oktavia Setiowati, S.Si, M.Si menjelaskan bahwa BMKG telah menyediakan berbagai informasi resmi mengenai cuaca, iklim, dan kegempaan yang dapat diakses masyarakat melalui berbagai kanal resmi BMKG.
Menurutnya, Sekolah Lapang Cuaca Nelayan dan Sekolah Lapang Iklim bertujuan agar masyarakat mampu memahami serta memanfaatkan informasi cuaca dan iklim dalam mengambil keputusan.
Bagi nelayan, informasi yang dipelajari meliputi prakiraan arah angin, tinggi gelombang, arus laut, hingga daerah potensi penangkapan ikan. Dengan informasi tersebut, nelayan dapat menentukan waktu dan lokasi melaut secara lebih tepat sehingga penggunaan bahan bakar dan perbekalan menjadi lebih efisien serta peluang memperoleh hasil tangkapan meningkat.
Sedangkan bagi petani, Sekolah Lapang Iklim memberikan pemahaman mengenai penyesuaian pola tanam sesuai kondisi musim. BMKG juga mengingatkan bahwa fenomena El Nino tahun ini diperkirakan menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan lebih kering, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan di Kalimantan Barat.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memperbarui informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta bersama-sama mengantisipasi dampak musim kemarau.
Anggota DPR RI Komisi V, H.Syarif Abdullah Alkadrie, SH. MH menyambut baik pelaksanaan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan dan Sekolah Lapang Iklim. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat besar bagi nelayan dan petani karena mampu meningkatkan pengetahuan dalam menghadapi risiko cuaca.
“Program ini sangat membantu, terutama bagi para nelayan yang setiap hari bekerja dengan risiko tinggi di laut. Melalui pelatihan ini mereka dapat mengetahui kapan cuaca aman untuk melaut, wilayah yang berpotensi memiliki hasil tangkapan ikan, sehingga tidak lagi berangkat hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga berdasarkan informasi ilmiah dan teknologi yang disediakan BMKG,” katanya.
Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi dan informasi cuaca akan meningkatkan efisiensi biaya operasional nelayan sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan mereka.
Menurut Syarif, manfaat yang sama juga dirasakan sektor pertanian. Dengan memahami informasi iklim, petani dapat menentukan waktu tanam yang tepat sehingga produksi pertanian tetap terjaga meskipun menghadapi perubahan musim.
“Semua pembelajaran yang diberikan dalam Sekolah Lapang ini pada akhirnya bertujuan membantu masyarakat, baik nelayan maupun petani, agar lebih produktif, lebih aman dalam bekerja, dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka,” pungkasnya. (Ismail)










Comment