by

Dadan Cs Digelandang Kejagung, Drama BGN Makin Panas

Lanjut lagi drama BGN episode 5. Gimana kader dan simpatisan Partai Koptagul, masih semangat kan. Setelah kantornya digeledah, Kang Dadan dan dua wakilnya digelandang Kejagung. Tentunya untuk dimintai keterangan. Simak lagi narasinya sambil seruput cairan hitam no sugar, wak!

Rabu dini hari, 3 Juni 2026, suasana di kawasan Kebon Sirih mendadak berubah seperti lokasi syuting film laga yang sutradaranya sedang kesurupan semangat. Tepat sekitar pukul 02.00 WIB, tim penyidik Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung bergerak menuju kantor Badan Gizi Nasional (BGN). Tidak ada karpet merah. Tidak ada sambutan tari daerah. Yang ada hanya suasana dini hari yang sunyi, lampu gedung yang masih menyala, dan sejumlah orang yang mungkin mengira dunia masih normal-normal saja.

Ternyata tidak.

Ketika sebagian besar rakyat Indonesia sedang bermimpi ketemu mantan, ketemu artis Korea, atau mendadak jadi miliarder, penyidik Kejagung justru sedang menjalankan operasi yang membuat netizen terbangun lebih cepat dari alarm subuh.

Kantor BGN yang biasanya sibuk membahas menu makan bergizi mendadak menjadi pusat perhatian nasional. Penyidik keluar masuk gedung. Berkas diperiksa. Ruangan ditelusuri. Situasinya membuat publik membayangkan setiap lemari, setiap laci, setiap map, bahkan mungkin setiap stapler sedang mengalami krisis identitas.

Plh Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Mochamad Jeffry, membenarkan adanya penggeledahan tersebut. Namun seperti trailer film yang sengaja dipotong sebelum adegan penting, ia belum menjelaskan perkara apa yang sedang ditangani dan barang bukti apa yang sedang dicari.

Akibatnya imajinasi netizen langsung berlari lebih cepat dari motor balap Veda Ega Pratama.

Media sosial mendadak berubah menjadi kantor detektif terbesar di Asia Tenggara. Semua orang membuat teori. Semua orang menjadi analis. Semua orang merasa lulusan Fakultas Investigasi Universitas Kolom Komentar.

Belum habis publik mencerna kabar penggeledahan, kejutan berikutnya datang. Sekitar pukul 04.00 WIB. Ya, empat pagi. Jam ketika ayam mulai pemanasan vokal untuk berkokok. Jam ketika tukang bubur baru mulai mencuci panci. Jam ketika sebagian besar manusia masih menempel erat dengan bantal.

Pada jam itulah Dadan Hindayana, Lodewyk Pusung, dan Sonny Sonjaya dijemput penyidik. Usai dijemput, lalu digelandang ke gedung bundar Kejagung.

Kecepatannya membuat banyak orang gagal memahami konsep waktu. Baru dua jam sebelumnya kantor digeledah. Tahu-tahu mantan pimpinan sudah dibawa untuk pemeriksaan intensif.

Biasanya orang Indonesia terbiasa mendengar istilah “sedang diproses”. Kalimat yang kadang umurnya lebih panjang daripada pembangunan jalan. Namun kali ini prosesnya melaju seperti kereta yang kehilangan rem.

Jam 02.00 penggeledahan. Jam 04.00 penjemputan. Kalau kronologi ini dijadikan menu restoran, namanya mungkin “paket kilat super jumbo”.

Menurut sumber Kejagung yang dikutip Republika, ketiganya kemudian menjalani pemeriksaan intensif sejak pagi hari. Sementara Jeffry menyatakan informasi resmi mengenai penjemputan tersebut akan diumumkan kepada publik pada sore hari.

Yang menarik bukan hanya tindakan hukumnya, tetapi efek psikologisnya. Dalam hitungan jam, kantor BGN berubah dari gedung pemerintahan biasa menjadi bangunan paling terkenal di Indonesia. Gedung itu mendadak lebih populer daripada konser musik, pertandingan sepak bola, bahkan gosip perceraian artis.

Netizen yang biasanya berdebat soal apakah Timnas U19 bisa menang lawan Vietnam, kini kompak membahas jam penggeledahan. “Kenapa jam dua pagi?” “Kenapa cuma selang dua jam?” “Siapa yang masih melek saat itu?” Pertanyaan bertebaran ke mana-mana seperti konfeti tahun baru.

Sampai saat ini anak buah Sanitiar Burhanuddin belum mengumumkan secara rinci status hukum ketiga mantan pimpinan BGN tersebut. Namun satu hal yang sulit dibantah, operasi dini hari itu sukses membuat seluruh Indonesia mendadak melek.

Karena biasanya berita subuh hanya berisi ceramah Mamah Dedeh, kali ini subuh datang membawa penggeledahan, penjemputan, dan sebuah drama nasional yang membuat kopi pagi terasa jauh lebih pahit dari biasanya. Duh, makin seru saja. Tunggu episode berikutnya tentu lebih panas perang Iran vs Amerika. (*)

Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed