Kalian merasa ndak, setiap situasi genting di negeri ini, hampir dipastikan Dasco muncul. Seolah-olah beliaulah yang memerintah negeri ini. Lantas, kenapa para petinggi yang lain? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Indonesia memang negeri penuh kejutan. Di negara lain, superhero biasanya pakai jubah, bisa terbang, dan menyelamatkan dunia dari meteor. Di Indonesia, superhero itu bernama Sufmi Dasco Ahmad. Bedanya, dia tidak terbang. Dia cuma muncul di mana-mana dengan kecepatan yang membuat kurir ekspres internasional minder.
Malam ini, 19 Juni 2026, Ruang Abdul Muis DPR RI berubah menjadi panggung utama sinetron politik episode ke-7.846. Saat mahasiswa dari HMI MPO, Universitas Trisakti, Mercu Buana, Esa Unggul, dan berbagai kampus lain datang membawa aspirasi, siapa yang menyambut? Lagi-lagi Dasco.
Sementara itu, Ketua DPR Puan Maharani seperti tokoh legenda. Namanya sering disebut, tetapi penampakannya lebih langka dari diskon cabai menjelang Lebaran. Entah sedang rapat, ngopi, meditasi, atau mungkin sedang menjalankan misi rahasia menjaga keseimbangan galaksi.
Mahasiswa datang dengan daftar keluhan yang panjangnya hampir setara antrean solar di SPBU. Mereka bicara soal ekonomi yang ngos-ngosan, BBM subsidi yang hilangnya lebih misterius dari Silpester Matutina. Program MBG yang dana triliunannya digarong oleh gerombolan Haji Dadan cs membuat seluruh rakyat marah besar.
Dasco mendengarkan. Dasco berbicara. Dasco berjanji. Bahkan Dasco menelepon Menteri Bahlil soal BBM dan Nanik soal MBG langsung di depan mahasiswa.
Nuan bayangkan adegannya. Mahasiswa menyampaikan keluhan. Dasco mengambil telepon. Menteri dihubungi. Penonton imajiner langsung berdiri dan bertepuk tangan. Kalau ada musik latar, mungkin sudah terdengar suara orkestra Avengers.
Dialog berlangsung baik meski waktunya terbatas. Setelah itu, Dasco bersama Saan Mustopa turun menemui massa demonstran di luar. Mereka naik mobil komando, menyampaikan hasil audiensi, dan menjelaskan apa yang sudah dibicarakan.
Mahasiswa Trisakti mengapresiasi respons cepat DPR. Tapi mereka juga memberi kalimat yang sangat Indonesia, “Kami tunggu tindak lanjut konkretnya.” Artinya kurang lebih, “Terima kasih, Pak. Tapi kami belum lahir kemarin sore.”
Yang membuat cerita ini makin epik adalah fakta bahwa sehari sebelumnya, 18 Juni 2026, Dasco juga baru saja muncul dalam bab lain dari serial nasional berjudul “Negara versus Hotel Sultan.”
Di kawasan Gelora Bung Karno terjadi bentrokan besar. Water cannon menyembur seperti air mancur Monas yang kesurupan. Kawat berduri dipasang. Batu beterbangan. Sebanyak 69 orang diamankan. Puluhan anggota polisi dan TNI mengalami luka-luka.
Di tengah kekacauan yang nilai lahannya mencapai Rp28,9 triliun itu, siapa lagi yang muncul? Benar sekali. Dasco lagi.
Setelah negara mengeksekusi lahan tersebut, Dasco langsung mengurus nasib karyawan Hotel Sultan. Ia berkoordinasi agar para pekerja tetap dipertahankan dan berjanji membahasnya dengan Kemensetneg.
Luar biasa. Kemarin mengurus bentrokan negara versus hotel. Hari ini mengurus mahasiswa. Besok mungkin mengurus harga tomat. Lusa mengatur cuaca. Minggu depan barangkali menengahi konflik antara kucing komplek dan tikus got.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto dikabarkan fokus menyelesaikan prioritas domestik setelah membatalkan kunjungan ke KTT ASEAN-Rusia di Kazan. Fokus domestik tentu terdengar gagah dan strategis. Hanya saja rakyat awam mulai bertanya-tanya.
Fokus domestiknya di mana? Karena yang terlihat di televisi justru Gibran, para menteri, dan Dasco yang mondar-mandir seperti petugas piket nasional.
Akhirnya, pemandangan malam ini terasa sangat unik. Mahasiswa turun ke jalan membawa keresahan rakyat. Dasco hadir bak petugas pemadam kebakaran politik yang selalu datang ketika alarm berbunyi. Puan menghilang dalam kabut misteri. Presiden fokus domestik dari lokasi yang hanya diketahui satelit dan Tuhan.
Namun satu hal tetap patut diapresiasi. Mahasiswa masih berani bersuara. Mereka tidak meminta jabatan, tidak meminta mobil dinas, tidak meminta rumah mewah. Mereka hanya meminta BBM yang masuk akal, makan bergizi yang benar-benar bergizi, dan pemerintah yang bekerja lebih cepat dari janji kampanye.
Pada akhirnya, negeri ini tidak bisa terus bergantung pada satu orang yang muncul di setiap episode. Sebab kalau semua urusan harus menunggu Dasco datang, lama-lama rakyat bisa mengira DPR telah berubah menjadi singkatan baru, Dewan Perwakilan Dasco Republik Indonesia. (*/MK)
Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar











Comment