Kita lanjutkan drama brankas. Drama saling buka borok antara cokelat muda dan cokelat tua. Uang 60 miliar sudah disita polisi. Publik bertanya, uang itu jangan-jangan uang koruptor yang disita lalu diamankan dalam brankas. Simak narasinya sambil gelar tikar dan seruput Koptagul, wak!
Kalian pasti pernah bertanya dalam hati, “Uang hasil korupsi yang disita selama ini sebenarnya disimpan di mana?” Kaum berpikiran positif langsung menjawab, “Ya masuk kas negara dong, semua ada prosedurnya.” Penjelasan itu indah, menenangkan, dan cocok dijadikan lagu pengantar tidur.
Lalu muncul pikiran usil khas netizen. “Ups… jangan-jangan selama ini ada juga yang mampir dulu ke brankas model beginian?” Tenang, itu cuma satire. Jangan dibawa ke ruang sidang. Tapi setelah sebuah brankas rahasia di balik lemari sebuah kafe mengeluarkan uang hampir Rp60 miliar, imajinasi publik langsung berlari lebih kencang dari Kylan Mbappe.
Rabu malam, 8 Juli 2026, Tim Kortas Tipidkor Polri bersama Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menggeledah de’Clan Signature Cafe di Cipete, Jakarta Selatan. Hasilnya bikin mesin penghitung uang minta pensiun dini. Dari brankas yang tertanam di balik lemari lantai dua, polisi menyita SGD 3.130.000 dalam pecahan 100 dolar Singapura, USD 889.965, serta Rp259.159.000. Kalau dikonversi, nilainya hampir Rp60 miliar.
Belum cukup membuat jantung rakyat berdebar, polisi lanjut menggeledah sebuah money changer. Di sana ditemukan 71 item barang bukti, 16 jenis mata uang asing dengan nilai sekitar Rp7,2 miliar, ditambah dokumen penting dan telepon genggam. Tiga pegawai kafe ikut dibawa sebagai saksi. Kasihan mereka. Mungkin daftar kerja niatnya bikin kopi, tahu-tahu harus menjelaskan kenapa dolar Singapura lebih banyak makanan MBG yang dibuang siswa.
Barang bukti mulai diangkut sekitar pukul 20.00 WIB menggunakan dua mobil dan satu kendaraan taktis Brimob. Yang belum ikut mengangkut mungkin cuma mobil bak terbuka tetangga.
Menurut Kakortas Tipidkor Polri Irjen Pol. Totok Suharyanto, penyitaan ini merupakan bagian dari penyidikan tiga perkara yang menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto, yakni dugaan korupsi, suap, gratifikasi, dan tindak pidana pencucian uang terkait pengadaan batu bara PLN yang dikaitkan dengan blackout, PT Asabri, dan PT Krakatau Steel.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menjelaskan uang itu memang disimpan secara tersembunyi di balik lemari dalam sebuah brankas besar yang tertanam di dinding. Delapan lokasi digeledah secara serentak dengan pengamanan Brimob bersenjata lengkap sesuai SOP.
Nah, di sinilah rakyat mulai menikmati serialnya. Adegan pembuka sudah sempurna. Brankas dibongkar. Duit segunung dipamerkan. Kendaraan taktis mondar-mandir. Kamera televisi bekerja lembur. Tinggal satu adegan yang selalu ditunggu penonton, siapa pemeran utamanya?
Sampai hari ini, belum ada tersangka yang diumumkan. Penyidik masih mendalami aliran uang, pemilik kafe, dokumen, telepon genggam, serta keterkaitan dengan para pihak yang diduga terlibat. Secara hukum, peluang penetapan tersangka memang terbuka setelah alat bukti dinilai cukup. Tapi, publik pesimis, paling hanya gitu doang, tak bakalan ada tersangkanya.
Nama pengelola resmi kafe yang muncul di pemberitaan adalah Ferry Yanto Hongkiriwang. Sementara itu, berbagai pemberitaan juga mengaitkan kafe tersebut dengan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Febrie Adriansyah. Namun, keterkaitan itu belum dikonfirmasi secara resmi oleh polisi sehingga asas praduga tak bersalah tetap berlaku. Kafe ini juga diketahui dulunya bernama Gontran Cherrier dan pernah ramai diberitakan sebagai lokasi yang sering dikunjungi Febrie.
Publik berharap episode kali ini tidak berhenti di acara pamer brankas dan parade uang. Sebab rakyat sudah terlalu sering disuguhi trailer yang megah, tetapi film utamanya tak kunjung tayang. Kalau nanti benar ada tersangka, tepuk tangan pasti terdengar. Kalau tidak, jangan salahkan rakyat bila mulai curiga, yang paling sering ditangkap di negeri ini hanyalah perhatian publik. Sementara koruptornya selalu punya bakat luar biasa untuk menghilang sebelum tulisan “Tamat” muncul di layar. (*)
Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar







Comment